Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Mei 2012

Belajar Memohon/Berdo'a Dari Pak Roni




"Saksikan Liputan 6 Awards LIVE nanti malam jam 21.30 dari Balai Sarbini. Mohon doanya semoga kiprah TDA mendapat apresiasi yg pantas oleh dewan juri"

Itulah info yang ditulis oleh pak Badroni Yuzirman yang saya baca di BB-Group yang saya ikuti. Sekilas membaca pesan tersebut, awalnya sihh biasa aja. Maklum, info yang dikrim oleh pak Roni (panggilan fuonder komunitas TDA) itu sudah pernah saya dengar sebelumnya dari rekan lain di twitter. Dan memang sudah mengagendakan tuk nonton acara award tersebut di TV malam itu. Setelah ditelaah kayaknya ada yang gak biasa nihhh, pikirku sesaat kemudian. Ya, dibagian do'anya ada yang menarik. Ya, setidaknya menarik bagi diriku lhooo... ;)

Beliau memohon do'a agar kiprah TDA mendapat "apresiasi yg pantas" oleh dewan juri. Wowww, biasanya kan orang-orang minta do'a agar menjadi yang terbaik atau justru agar jadi pemenangnya. Ya, pada umumnya bila masuk nominasi suatu kompetisi / perlombaan berharap jadi pemenang khann... Wuihhh, salut salutt saluttt...

Dan selanjutnya, ternyata pada Liputan 6 Award yang diumumkan secara live di SCTV hari Jum'at 25 Mei 2012 yang lalu, pak Roni dan komunitas TDA-nya blom menjadi yang terbaik dalam kategoti tersebut. Ya, dalam kategori pemberdayaan masyarakat yang terdapat lima (5) nominator termasuk pak Roni, pemenangnya adalah Bidan Eulis Rosmiati (Bidan yang mampu memperbaiki kesehatan secara menyeluruh dan perekonomian pendukung program kesehatan, khususnya didaerah Desa Ujung Genteng di pesisir Selatan Jawa Barat).

Walau tidak menjadi pemenang dalam award tersebut, sebagai salah satu bagian kecil komunitas TDA (sebagai member) saya merasa bangga. Terima kasih TDA!!! Terima kasih pak Roni!!!

*Yusuf Erlangga

Jumat, 28 Oktober 2011

Berbagi Ilmu Seperti Air


Terinspirasi dari perjuangan berbagi ilmu dari para guru/Ustad/mentor/trainer/pelatih/dll, ternyata orang yang berbagi ilmu seperti mereka itu bermacam-macam lhoo. Ya, ada beberapa model orang berbagi ilmu itu layaknya air sumur, air PDAM, dan air sungai.

Air sumur itu akan kita peroleh dengan cara ditimba dulu dari dasar sumur ke atas, baru kita dapat airnya. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air sumur, kita akan mendapat ilmu-ilmunya jika kita berusaha menimbanya dulu.

Air PDAM akan mengalir baik hingga masuk ke dalam rumah kita dengan catatan kitapun sebagai pelanggannya dan harus membayarnya. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air PDAM, ia akan datang memberi ilmu jika kita undang atau kita harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan ilmunya.

Air sungai selalu mengalir dari hulu ke hilir bahkan dapat mengairi lokasi disekitar sungai, seperti persawahan, pemukiman, dll. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air sungai, ia akan memberi ilmunya tanpa kita minta, bahkan ia terus berbagi ilmu tanpa bayaran.

Sudahkah kita memiliki ilmu yang mumpuni?
Jika kita memiliki ilmu, sudahkah kita berbagi ilmu tersebut?
Berbagi ilmu seperti apakah kita? Seperti air sumur, air PDAM, atau air sungai?
Apapun modelnya, mari selalu berbagi ilmu yuksss!!! ^_^

*Yusuf Erlangga

Rabu, 30 Juni 2010

Baik Buruknya Anak Tergantung "Cetakan"nya

Baik buruk prilaku seorang anak tergantung "cetakan" yg disediakan oleh orang tuanya, begitulah apa yg dikatakan oleh Mario Teguh menjawab pertanyaan seorang penonton dlm sebuah acara di televisi swasta. Ia mencontohkan buah melon akan berbentuk kotak jika saat buah itu masih kecil (bibit) diletakan dlm sebuah wadah kotak, maka saat membesar buah melon itu akan mensesaki wadah kotak dan saat dibuka dari wadahnya maka buah melon tsb tdk berbentuk bulat, namun akan berbentuk kotak.


Jadi teringat dengan fathan anak kami yg saat ini usianya belum genap dua tahun namun kosakata yg keluar dr mulutnya makin beragam. Saat pekan lalu kami pergi ke Blok A Tanah Abang, disetiap tanjakan menuju tempat parkir kami mengajarkannya tuk ber-takbir. Alhasil setiap kami mengajaknya tuk bertakbir, iapun mengikutinya dengan semangat bahkan ikut2an takbir sambil mengepal telapak tangan dgn (ghiroh) semangat tinggi.


Dan dilain kesempatan, kami mendengar ia yg hobi bermain bola berteriak "gilaaaa" sesaat setelah ia menendang bola. Waduh, dapat dari mana nihhh kata "gila" tersebut??? Usut punya usut, ternyata ia meniru sebuah iklan provider Handphone dg tema "gila bola".

Emang benar yahh, baik buruk anak kita tergantung "cetakan" yg ada disekitarnya tuhhh.
Wallahu'alam.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 27 April 2010

Menanamkan Jiwa Entrepreneur Sejak Dini ala Keluarga Tionghoa


Membaca tulisan pak Roniyuzirman seorang founder komunitas TDA di blog pribadinya dgn judul ”Cara Sederhana Menjadi Kaya ala Tionghoa” mengingatkanku mengenai sebuah kisah beberapa bulan yg lalu. Kisah yg dimaksud ini merupakan sebuah kisah yg diceritakan oleh seorang ibu kepadaku. Siapakah ibu tsb? Lalu apakah kisah yg dimaksud? Dan apa hubungannya dg tulisannya pak Roniyuzirman?

Ibu yg dimaksud diatas adalah ibu dari rekan saya yg merupakan seorang entrepreneur sbg penjual alat2 sulap. Lalu kisah yg dimaksud adalah pengalamannya berhubungan dengan seorang anak kecil (usia Sekolah Dasar) yg sering datang ke toko alat sulap itu. Sedangkan hubungan dengan cerita sebelumnya adalah ternyata anak kecil yg dimaksud adalah seorang keturunan Tionghoa. Jadi kira2 begitulah kisah & hubungannya...

Lalu apa yg menarik???
Kisah menarik yg pertama adalah ternyata anak kecil yg sering datang ketoko alat sulap itu ternyata ia membeli bukan hanya sekedar untuk mainan tuk dirinya saja, namun untuk dijual kembali kpd teman2nya.
Menarik yg kedua adalah sang ibu dari anak tersebut tak segan2 menemani saat anaknya sedang belanja barang2 yg dimaksud. Terkadang diantar dgn mobil bersama supir keluarga, atau siibu mengantarnya dengan motor, bahkan pernah sesekali menemaninya dgn menggunakan kendaraan umum.
Menarik yg ketiga adalah diketahui dari pembicaraan dg sang ibu, ternyata ayah dari anak kecil tsb adalah seorang pimpinan (direktur) perusahaan asing yg cukup besar di Indonesia. Berarti mereka termasuk keluarga ekonomi menengah atas, namun tak malu jika anaknya jadi pedagang kecil2an spt itu.

Masih dikisahkan oleh sang ibu dari rekan saya tadi, ia benar2 salut atas pendidikan masalah dagang (red. bisnis) pada anak2 di keluarga Tionghoa.
Sebagian besar anak2 sepulang sekolah malah bermain dirumah maupun diluar bersama teman2nnya, namun sianak tadi malah meluangkan waktunya tuk keperluan jualan.
Sebagian besar orang tua banyak yg khawatir jika anaknya jualan maka akan mengganggu pelajaran disekolahnya, namun si orang tua tadi justru malah mendukungnya dgn tetap membimbingnya.

Ehmm, apakah seperti ini yg dimaksud orang2 dgn menanamkan jiwa entrepreneur sejak dini yahhh??? Ehmmm, boleh juga nihh saya contoh tuk anak2 kami kelak.

*Yusuf Erlangga

Rabu, 24 Februari 2010

Mengenal Gaya Belajar Anak Melalui Analisa Sidik Jari

Berawal disuatu hari saat istri membaca sebuah iklan di tabloit keluarga, istriku mengajak agar kita mengikuti sebuah seminar yang ada diiklan tabloit itu. Seminar apakah itu? Ternyata antusias istriku itu berkaitan dengan pola pendidikan bagi anak kami, luar biasa kalo demi anak pasti naluri seorang ibu muncul duluan deghh...

Karena kami belum tentu bisa ikutan seminar itu, iklan tersebut saya scan & saya posting di blog ini itung2 sebagai sharing informasi ya... Semoga bermanfaat tuk keluarga ya... Berikut informasinya:



(Kalo kurang jelas, gambarnya diklik aja ya agar tampak lebih besar!)

*Yusuf
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template