Tampilkan postingan dengan label pelatihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelatihan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

Jika Meninggal, Akan Dikenang Sebagai Apa ya?




Poin pertama, dari 5(lima) step to growing business yang diajarkan oleh pak Teguh di workshop "How To Grow Your Business" adalah FONDATION.

Hal ini cukup mendasar dan terkesan sangat sederhana. Tapi hal ini ternyata pondasi yang cukup penting agar bisnis kita dapat terus GROW. Masih dalam bagian FONDATION, para peserta workshop harus mengisi di workbook masing-masing mengenai apa sajakah yang kita inginkan jika kita meninggal dunia kelak.

"Start from the end of your life". Ya, maksudnya adalah saat kita meninggal nanti kita ingin dikenal sebagai orang yang seperti apa? Baik secara fisik, keluarga, sosial, karir/bisnis, spiritual, intelektual, dan emosi.

Saat workshop tersebut diadakan di Bekasi hari Sabtu lalu (16/06/2012), didapat berbagai "keinginan" dari beberapa peserta bila ia meninggal dunia kelak. Diantaranya:
1. Secara Fisik
Ingin dikenang sebagai orang yang sehat & atletis,
2. Secara Keluarga
Ingin dikenang sebagai orang yang sayang thd istri & anak2,
3. Secara Sosial
Ingin dikenang sebagai orang yang aktif bantu-bantu dikegiatan sosial,
4. Secara Karir/Bisnis
Ingin dikenang sebagai pengusaha sukses yang punya banyak teman,
5. Secara Spiritual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin silaturahim,
6. Secara Intelektual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin berbagi & menuntut ilmu,
7. Secara Emosi
Ingin dikenang sebagai orang yang sabar dan senang bergaul,

Wowww, workshop mau ngebangun bisnis koq harus mengisi jawaban seperti itu yahh. Ya, ingat hal tersebut adalah sebuah pondasi yang merupakan landasan sehingga bisnis kita dapat terus tumbuh.

So, ingin dikenang sebagai apakah jika kita kelak meninggal dunia?

*Yusuf Erlangga

Jumat, 01 Juni 2012

Alasan Hadir di Sebuah Pelatihan




Dalam sebuah diskusi, diketahui bahwa setiap orang yang mengikuti sebuah pelatihan/training/workshop/seminar/dll ternyata memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ya, acaranya sama tapi tujuan orang yang hadir disitu bisa berbeda-beda.

Ada yang ikut karena niatnya biar dapet ilmu.
Ada yang datang dengan tujuan biar dapet pengalaman bisa ketemu langsung pembicaranya.
Ada yang hadir karena biar bisa memperluas jaringan/networking.
Ada yang sengaja niatnya biar ketemu calon klien atau ketemu bakal calon istrinya (sama-samaa sebagai peserta). :p
Ada yang ikut karena disuruh boss/atasan di perusahaannya.
Ada yang sengaja ikut karena ingin dapet sertifikat acaranya.
Ada yang datang berharap bisa masuk TV, karena tau ada media yang meliput.
Atau ada yang datang karena ikut-ikutan temennya.

Apapun tujuan ataupun alasannya, yang pasti kita berharap dengan kehadiran kita di acara tersebut benar-benar bermanfaat bagi kita yang hadir. Syukur-syukur manfaatnya bisa disebarluaskan kepada teman-teman yang lain dengan kita berbgi ilmu/pengalaman setelah mengikuti acara tersebut.

Jadi, alasan atau tujuan yang mana dong yang paling bagus saat kita ikut pelatihan seperti itu?
Apapun pilihan alasannya, syah-syah aja koq. Syukur-syukur kita punya tujuannya tidak hanya satu. Contohnya bertujuan biar dapat ilmu sekaligus nyari kenalan baru. Atau tujuannya biar dapat pengalaman, sekaligus kali-kali aja bisa masuk TV. Hehehee, jadi kalo alesan pertama tidak tercapai. Kann jadinya gak begitu kecewa tohhh, karena ada alasan yang kedua... ;)

Ok, selamat hadir di sebuah pelatihan ya rekan-rekan... ^_^

*Yusuf Erlangga

Kamis, 01 Maret 2012

Aku dan Pesta Wirausaha TDA 2012



Pesta Wirausaha TDA 2012 memang telah usai. Namun, kenangan indahnya kebersamaan, kemeriahan acara, ramainya pengunjung, semangat berbagi dan lain-lainnya saat di Gd Smesco Jakarta tetap teringat-ingat dikepalaku. Ya, walau Pesta Wirausaha yang diselenggarakan pada tanggal 28-29 Januari 2012 ini bukan yang pertama kali diadakan oleh komunitas TDA. Namun pada tahun itulah tuk pertama kalinya saya hadir sebegai peserta seminar sekaligus bersama ecokiddy sebagai peserta expo/bazzar dan tuk pertama kalinya saya tergabung dalam kepanitiaannya.

Walau tergabung sebagai panitia, sayapun harus mendaftar dan membayar sebagai peserta. Itulah uniknya di TDA, mentang-mentang panitia gak serta-merta jadi gak ikutan daftar alias gratis sebagai peserta lhoo. Dan sudah kuduga, walau terdaftar sebagai peserta pastinya diriku tidak pernah konsen tuk menyerap ilmu dari para pembicara yang ada. Boro-boro nyimak materi, wong pasti sibuk mempersiapkan rundown acara berikutnya. Maklum, saat itu diriku masuk dalam seksi acara yang otomatis sibuk di hari H. Berarti rugi dong? Aghh enggak koq, Insya Allah indah pada waktunya dehh. ;)

Seperti sudah diketahui, dalam Pesta Wirausaha tahun ini banyak pembicara & pengisi acara hiburan top yang hadir. Seperti Dahlan Iskan (Mentri BUMN), Chairul Tanjung (chairman CT Corp), Sandiaga Uno (Mien Uno Foundation), Ust. Yusuf Mansur (Spiritual Business), Merry Riana (Mimpi Sejuta Dolar), Arnold Sebastian (founder TokoBagus.Com), Jamil Azzaini (Inspirator Sukses Mulia), Heppy Trenggono (Gerakan Beli Indonesia), Fadli (band Padi), Tedy (team nasyid Snada), dll. Dan tak bisa dipungkiri, selain layak menyimak materi yang disampaikan para pembicara tersebut serta hiburannya, para peserta pun tak menyia-nyiakan kesempatan tuk berfoto bersama dengan tokoh-tokoh tersebut.

Disaat rekan-rekan peserta berebutan tuk foto-foto, lagi-lagi aku tak sempat ikutan foto-foto. Padahal jarakku dengan para tokoh tersebut selalu tidak terlalu jauh. Maklum, sebagai seksi acara terkadang aku bertugas sebagai runner yang bolak-balik nganterin mic, jadi pengawal pembicara saat naik-turun panggung, bahkan juga jadi MC pengganti saat mas Iwel (Democrazy Metro TV) sebagai MC utama harus pulang duluan. Yahh, rugi dong gak ikut foto-foto? Walau tanpa bukti terlampir, tapi tetap happy lhoo. ;)

*Yusuf Erlangga

Jumat, 28 Oktober 2011

Berbagi Ilmu Seperti Air


Terinspirasi dari perjuangan berbagi ilmu dari para guru/Ustad/mentor/trainer/pelatih/dll, ternyata orang yang berbagi ilmu seperti mereka itu bermacam-macam lhoo. Ya, ada beberapa model orang berbagi ilmu itu layaknya air sumur, air PDAM, dan air sungai.

Air sumur itu akan kita peroleh dengan cara ditimba dulu dari dasar sumur ke atas, baru kita dapat airnya. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air sumur, kita akan mendapat ilmu-ilmunya jika kita berusaha menimbanya dulu.

Air PDAM akan mengalir baik hingga masuk ke dalam rumah kita dengan catatan kitapun sebagai pelanggannya dan harus membayarnya. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air PDAM, ia akan datang memberi ilmu jika kita undang atau kita harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan ilmunya.

Air sungai selalu mengalir dari hulu ke hilir bahkan dapat mengairi lokasi disekitar sungai, seperti persawahan, pemukiman, dll. Begitupun orang yang berbagi ilmu seperti air sungai, ia akan memberi ilmunya tanpa kita minta, bahkan ia terus berbagi ilmu tanpa bayaran.

Sudahkah kita memiliki ilmu yang mumpuni?
Jika kita memiliki ilmu, sudahkah kita berbagi ilmu tersebut?
Berbagi ilmu seperti apakah kita? Seperti air sumur, air PDAM, atau air sungai?
Apapun modelnya, mari selalu berbagi ilmu yuksss!!! ^_^

*Yusuf Erlangga

Minggu, 20 Juni 2010

Aneka Ragam Manfaat Saat Ikut FESTIVAL WIRAUSAHA BEKASI

Setelah beberapa bulan dipersiapkan, Alhamdulillah kegiatan Festival Wirausaha Bekasi berhasil juga dilaksanakan hari Sabtu-Ahad 12-13 Juni 2010 di Bekasi Square. Kalo menurut sebagian besar yang hadir sebagai peserta maupun panitia, acara itu benar2 sukses dan bermanfaat bagi yang hadir maupun lingkungan sekitar. Hahhh, koq juga bagi lingkungan sekitar? Bagaimana gak bermanfaat, gara2 acara tersebut disekitar lokasi jadi ramai dan para pedagang kebagian rezeki deghh. Dan diakhir acara tersebut, terkupul dana 8 juta rupiah lebih dari hasil sedekah spontan yg difasilitasi oleh pembicara yg akan disalurkan kpd yg membutuhkan.

Festival Wirausaha Bekasi??? Itu acara apaan sih?
Acara tersebut merupakan sebuah acara yg diselenggarakan oleh sebuah komunitas bisnis yang bernama TDA Bekasi (Tangan Di Atas) dalam rangka memperingati milad (ulang tahun)nya yg pertama. Kegiatan tersebut benar2 multi manfaat, karena memiliki aneka ragam kegiatan. Mulai dari seminar, talkshow, workshop, bazar, sampai ada juga acara lomba2 untuk anak TK & SD.

Yang lebih dahsyat, acara yg diselenggarakan oleh TDA Bekasi tersebut bukan hanya bermanfaat bagi membernya. Namun masyarakat umum yg sebelumnya belum tau apa itu TDA, saat hadir sebagai peserta mereka benar2 mendapat manfaat yang sungguh luar biasa.

Begitupun juga saya yang juga banyak mendapat maanfaat, emang sihh saya sudah bergabung sbg member walau hanya lewat milis/website resminya beberapa bulan sebelumnya. Dan yang luar biasa bagi saya, walaupun baru terdaftar beberapa bulan namun rekan2 (pengurus) di TDA Bekasi sangat bersahabat & terbuka. Hal tersebut terbukti dengan diizinkannya saya bergabung tuk bantu2 sebagai panitia di acara tersebut. Di acara tsb saya diamanahi bantu2 di Sie.Acara. Mulai ngurusin bagi2 tempat tuk peserta bazar, lari sana-sini sbg penghubung antara MC & panitia lainnya, kadang2 jg berperan sbg co-host, serta ngisi acara yg menampilkan games hikmah (hiburan sulap).

Di acara yg diselenggarakan selama 2 hari tersebut Alhamdulillah saya bisa berpartisipasi sebagai peserta, sebagai panitia, maupun sebagai peserta bazar. Bisa dibayangkan deghh, betapa sibuknya saya sampai2 besoknya agak KO (baca: lelah).

Tapi puji syukur Alhamdulillah, manfaatnya gak sedikit degh...
Mendapat ilmu dari para pembicara Seminar,
Mendapat sharing pengalaman dari para narasumber Talkshow,
Mendapat resep dari para fasilitator Workshop,
Mendapat bakal calon mitra bagi usaha kami yg ikutan bazar,
Mendapat kesempatan bersilaturahim dengan para pengusaha sukses (sesepuh TDA),
dan mendapat aneka manfaat lainnya.

Kalo kita sungguh-sungguh dan ikhlas mengerjakan sesuatu tuk kepentingan bersama, Insya Allah akan ada berkah dibaliknya deghh... :))

*Yusuf Erlangga

Berikut, sekilas laporan pandangan mata.
Saat berpose dipanggung bersama panitia

Saat mendampingi pak Haji Alay (sesepuh TDA) mengunjungi stand bazar

Saat berpartisipasi mengisi acara games hikmah (hiburan sulap)

Selasa, 01 Juni 2010

Pelatihan Membuat Mie

Tepat hari minggu kemarin, 30 Mei 2010, keluarga kecil kami mendapatkan satu pengalaman unik kembali. Ini untuk pertama kalinya kami sekeluarga bareng-bareng ikut pelatihan. Asyik kan... :) Asyiknya lagi pelatihannya tsb adalah pelatihan membuat MIE... yang artinya alamat bisa nyicipin hasil karya nih diakhir pelatihan (hehehe... ketauan deh, itu harapan suami lho :) teteup bumil ga mau ngaku).

Awalnya dikabari suami kalo Mie Sehati mau ngadain pelatihan membuat mie, semula belum tertarik... tapi setelah dipikir2 anakku 'kan termasuk raja-nya mie, baru kepikiran harus kudu mesti ikut pelatihan ini. Siapa tau bisa diaplikasikan di rumah n bisa say good by sama mie instan kesayangannya...

Berangkat deh kita pagi-pagi ke lokasi di daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi, setelah sebelumnya kontak pak Eko eSHaPe dulu sang owner Mie Sehati. Izin untuk daftar dadakan, Alhamdulillah masih bisa ikutan... Ga lama sampai disana acara masak memasak pun dimulai... Satu persatu langkah membuat mie dijelaskan dengan gamblang oleh Bu Yeni, istri Pak Eko. Dengan peserta terbatas, leluasa sekali untuk bertanya jika tidak paham. Materi pun sudah disiapkan dalam bentuk lembaran modul. Wah semangat nih mau praktek di rumah. Padahal Mie Sehati mengadakan pelatihan mie ini juga dalam rangka memotivasi peserta untuk melihatnya sebagai peluang usaha. Hebat n salut buat Pak Eko n Bu Yeni, berbagi ilmu trus euy... Subhanallah, shodaqoh jariyah juga nih - ilmu yang bermanfaat... ^_^

Wah, pokoknya beruntung sekali-lah ikutan pelatihan ini, yang pengen ikutan pelatihan ini, Mie Sehati ngadain rutin 2 minggu sekali lho. Kunjungi ajak web-nya ya, plus bisa lihat foto kami sekeluarga di urutan pertama yang lagi serius ngikutin pelatihan hehehe... *keluarga narsis mode on


*Erlin Karlina
-kembali menulis dengan sedikit paksaan suami 'n terlanjur hutang janji :) -




Sedikit laporan pandangan mata...
Gerai Mie Sehati

Fathan pun antusias banget... ^_^

Bu Yeni menjelaskan...

Adonan Mie Hijau-nya digiling

Rabu, 24 Februari 2010

Mengenal Gaya Belajar Anak Melalui Analisa Sidik Jari

Berawal disuatu hari saat istri membaca sebuah iklan di tabloit keluarga, istriku mengajak agar kita mengikuti sebuah seminar yang ada diiklan tabloit itu. Seminar apakah itu? Ternyata antusias istriku itu berkaitan dengan pola pendidikan bagi anak kami, luar biasa kalo demi anak pasti naluri seorang ibu muncul duluan deghh...

Karena kami belum tentu bisa ikutan seminar itu, iklan tersebut saya scan & saya posting di blog ini itung2 sebagai sharing informasi ya... Semoga bermanfaat tuk keluarga ya... Berikut informasinya:



(Kalo kurang jelas, gambarnya diklik aja ya agar tampak lebih besar!)

*Yusuf

Sabtu, 20 Februari 2010

Terbentuknya Jiwa Entrepreneur


Alhamdulillah kemarin sempat bersilaturahim dengan sepupu yang tinggal di Lampung. Ia & keluarga datang ke Jakarta untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan keluarga dan tidak lupa untuk "belanja" di Ibukota ini. Eitts, belanja yg dimaksud bukannya shoping tuk ngabisin uang lho. Maklum namanya juga pedagang, ia belanja tuk keperluan usahanya di Lampung. Maklum usaha jahitnya di sana cukup terbilang sukses, satu atau dua bulan sekali ia pasti kesini tuk ke Pasar Tanah Abang atau Pasar Cipadu tuk ngeborong bahan/kain serta kelengkapan jahit lainnya.

Nahh, ada pernyataan menarik dari beliau saat bercerita kisah suksesnya memulai usaha serta kehidupan masa remajanya. Ia bercerita saat masih sekolah di tingkat SMP ia sudah disuruh kursus jahit oleh ibunya yang kebetulan ikut dalam obrolan itu. Walau sebenarnya keuangan terbatas tuk ikut kursus, Alhamdulillah akhirnya ada tetangga yang baik yang mau mengajarinya menjahit secara rutin. Alhasil ilmunya tak sia-sia, bahkan saat di tingkat SMA hasil karyanya sdh menghasilkan uang di lingkungan sekolah ataupun lingkungan rumahnya. Nah, kalo yang ini kata beliau sebenarnya karena tuntutan ekonomi, maklum ia adalah anak pertama dari dua belas bersaudara, jadi harus membantu orang tua tuhh.

Ohya pernyataan menariknya apa ya???
Ia bertutur bahwa ia bisa seperti ini, karena sudah terbiasa & terdidik oleh lingkungan khususnya dari orang tuanya yang emang keluarga pedagang. Kalo bahasa kerennya sih keluarga pengusaha gitu deghh... :))

Sedangkan kami, saya dan istri sama-sama dari keluarga orang tua yang pekerja nih. Orang tua saya dan istri sama-sama bukan pedagang. Waduh berarti saat kami sekarang sedang belajar berwirausaha gak bisa sukses seperti itu dong? Ohh, ternyata yang ia maksud adalah saat ia sdh terbiasa dengan lingkungan pedagang sejak kecil, maka ternyata jiwa entrepreneurnya akan muncul dengan sendirinya. Beda dengan orang2 yang belum terbiasa hidup dilingkungan pedagang sejak kecil seperti kami. Jadi saat kami akan memulai usaha, kami harus mencari ilmu terlebih dulu dengan cara diantaranya:
- Membaca buku-buku tentang bisnis
- Membaca artikel di internet, koran, majalah
- Ikut pelatihan / seminar / workshop
- Bergabung dgn komunitas pengusaha
- Bergabung dgn milis yang berhubungan dengan entrepreneur
- Bergaul dengan pedagang di toko2 / pasar
- dll
Intinya, jiwa entrepreneur tetep bisa dibentuk dengan belajar koq, serta harus berani action yang akan menjadikannya sebagai pengalaman.

Mendengar penjelasannya, saya dan istri saling bertatap-tatapan. Seakan kami sepakat, kalo gitu anak kita harus mulai dididik berdagang sejak dini nihh. Walau saya dan istri juga sama2 seorang karyawan, pendidikan bisnis kepada anak2 tetep perlu dibiasakan sejak dini khannn. Agar bisa menularkan ilmu bisnis kepada anak-anak, berati sebagai orang tua harus selalu "belajar" dong.
Oke, mari belajar & action!

*Yusuf Erlangga

Selasa, 02 Februari 2010

Mau Menuai Hasil Wirausaha? Tunggu 10 Tahun lagi!!


Maksud judul diatas apa ya??? ^_^

Alhamdulillah ahad kemarin ada seorang sahabat yang cukup senior (seorang ibu dengan 4 putra) datang bersilaturahim ke rumah kami. Banyak juga yang kami perbincangkan dalam kunjungan beliau tersebut. Selain dalam rangka menawarkan beberapa paket buku untuk anak yang sangat bagus isinya dan juga harganya :P, kami banyak berbincang mengenai dunia usaha.

Saya masih terbayang sekali wajah penyesalannya ketika ia menceritakan bahwa dulu ia sempat menolak berwirausaha. Saat itu, ketika belum lama menikah ia ditawari oleh keluarganya untuk membangun sebuah usaha. Rupanya keluarga besar beliau memang sudah banyak terjun di dunia wirausaha. Saat itu, beliau ditawarkan untuk membangun sebuah optik oleh ayahnya. Ya optik, karena beliau lulusan akademi optik dan sang ayah pun memiliki sebuah optik. Jadi sangat wajar jika penawaran itu datang.

Namun dengan alasan tidak mau "kenal uang" terlalu jauh ia putuskan menolak tawaran itu. Ia tidak mau hanyut dalam materi jika berjalan di dunia wirausaha, sebagaimana atmosfer yang ia rasakan dalam keluarga besarnya. Baginya, keluarganya saat itu memandang hidup ini hanya dagang, dagang, dan dagang...itu saja. Hingga dibenaknya muncul kekhawatiran akan nasib pendidikan putra-putrinya, curahan kasih sayang kepada mereka, dan lain sebagainya, apabila beliau ikut berwirausaha. Beliau tidak mau itu terjadi.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, ketika tuntutan hidup semakin besar dan ketika anak-anak mulai besar, beliau pun berpikir ulang, beliau kini melihat bahwa dunia wirausaha dapat dijadikan pegangan. Beliau pun aktif mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Dari pelatihan-pelatihan itulah beliau mendapat banyak informasi dan pengalaman yang dapat dipetik hikmahnya.

Sebuah catatan yang beliau sampaikan kepada saya sebagai hasil mengikuti berbagai pelatihan itu adalah mengenai konsistensi dalam menjalankan usaha. Sebuah usaha (apapun jenis usaha yang kita bangun) baru dapat dikatakan teruji apabila telah melewati kurun waktu lima tahun. Disanalah halang rintangan akan terus menghadang. Dan tambahnya lagi, sebuah usaha barulah dapat dipetik hasilnya, apabila telah berjalan selama 10 tahun dengan konsisten, apapun jenis usahanya.

Dari catatan tersebut itulah beliau menyesal, seandainya saja ketika baru menikah dulu beliau sigap menerima tawaran ayahnya untuk berwirausaha, maka saat ini tentunya beliau tinggal menuai keberhasilan dari usahanya itu. Tepat disaat anak-anak sudah memerlukan dukungan materi lebih, terutama dalam hal pendidikannya. Beliau sadari betul, kekhawatiran yang muncul dulu ketika ditawarkan menjalankan usaha sesungguhnya dapat diatasi dengan cerdas.

Saya pun hanya termangu mendengar pemaparannya. Ada sedikit rasa syukur dihati ini, mengingat suami sejak awal pernikahan kami senantiasa terus memotivasi agar tidak ragu untuk terjun ke dunia wirausaha. Bukan sekedar agar menghasilkan materi lebih, tetapi juga agar dapat berkontribusi lebih dalam membangun ekonomi ummat ini. Wah kalo yang terakhir ini pemaparannya bisa panjang nih, intinya yuk berwirausaha... jangan sampai menyesal 10 tahun kemudian ^_^

*Erlin Karlina
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template