Tampilkan postingan dengan label waktu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waktu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

Anak dan Ayah Bekerja


Abi, abi...,
Abi gak usah kerja yahh. Temenin aku dirumah dong, soalnya aku lemes nihh puasa. Kalo ada abi dirumah, khan aku gak perlu main panas2an diluar rumah. Tapi kalo gak bisa, gakpapa deghh, soalnya abi kan harus kerja nyari uang yahhh. :(

Ayah, ayah...,
Ayah nanti kerjanya pulang malam lagi ya? Bisa gak pulang dari kantornya sore aja, biar aku bisa buka puasa bareng ayah nihh. Tapi kalopun gak boleh sama Bossnya ayah dikantor, gakpapa degh. :(

Papah, papah...,
Papah pulang dinas keluar kotanya sampai kapan sihh? Cepet pulang dong pah, kan enak nihhh kalo bisa shalat teraweh di masjid bareng papah. Ohya papah itu sedang tugas negara yahh, kalo gitu aku ditemenin sama Mamah aja deghh dirumah. :(


Disuatu malam, si anak menulis selembar surat dan menyerahkan ke orang tuanya tsb;

Ayahku sayang, maaf ya aku nulis surat tuk ayah. Soalnya kalo aku ngomong langsung takutnya ayah gak mau, jangan2 malah marah kayak waktu itu. Soalnya ayah capek khan pulang kerja.

Ayah, mulai tahun ini kalo aku bisa full puasa gak usah dibeliin hadiah mainan deghh. Terus nanti pas lebaran juga gak usah beli baju baru yang bagus. Khan mainan & baju-baju aku masih ada koq. Sekalian nanti pas aku ulang tahun atau kenaikan kelas disekolah juga gak perlu beli hadiah dan mainan lagi yahhh.

Uangnya ayah tabung aja, nanti kalo tabungan ayah udah banyak khan ayah gak usah capek-capek kerja ke kantor lagi tuhh... Gakpapa kok gak dapat baju baru dan mainan baru. Khan lebih asyik kalo sering main sama ayah.

Udah dulu ya ayahku sayang, aku ngantuk nihh besok khan kita mau sahur. Apalagi ayah khan besok pagi-pagi harus sudah berangkat kerja lagi.
I Love You, Ayah....



Terkadang uang dan semangat bekerja sebagai karyawan mengalahkan semuanya dengan dalih memenuhi kebutuhan hidup keluarga...
Padahal saat kita pensiun atau meninggal, perusahaan tempat kita bekerja memiliki ratusan bahkan ribuan orang untuk menggantikan kita lhoo...

Tapi sadarkah kita, tidak ada satupun orang yang bisa menggantikan kita sebagai orang tua di hati, pikiran, dan ingatan anak-anak kita tercinta...
Saat waktu sudah berlalu, maka kita tidak memiliki mesin waktu tuk kembali ke saat anak-anak kita membutuhkan kita untuk bermanja-manja..

Berwirausaha tidak menjamin kita bisa lebih santai daripada jadi karyawan.
Berwirausaha tidak menjamin kita bisa lebih banyak waktu bersama anak-anak kita daripada jadi karyawan.
Tapi dengan berwirausaha, kemungkinan itu lebih terbuka daripada hanya sekedar menjadi karyawan.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 02 Februari 2010

Mau Menuai Hasil Wirausaha? Tunggu 10 Tahun lagi!!


Maksud judul diatas apa ya??? ^_^

Alhamdulillah ahad kemarin ada seorang sahabat yang cukup senior (seorang ibu dengan 4 putra) datang bersilaturahim ke rumah kami. Banyak juga yang kami perbincangkan dalam kunjungan beliau tersebut. Selain dalam rangka menawarkan beberapa paket buku untuk anak yang sangat bagus isinya dan juga harganya :P, kami banyak berbincang mengenai dunia usaha.

Saya masih terbayang sekali wajah penyesalannya ketika ia menceritakan bahwa dulu ia sempat menolak berwirausaha. Saat itu, ketika belum lama menikah ia ditawari oleh keluarganya untuk membangun sebuah usaha. Rupanya keluarga besar beliau memang sudah banyak terjun di dunia wirausaha. Saat itu, beliau ditawarkan untuk membangun sebuah optik oleh ayahnya. Ya optik, karena beliau lulusan akademi optik dan sang ayah pun memiliki sebuah optik. Jadi sangat wajar jika penawaran itu datang.

Namun dengan alasan tidak mau "kenal uang" terlalu jauh ia putuskan menolak tawaran itu. Ia tidak mau hanyut dalam materi jika berjalan di dunia wirausaha, sebagaimana atmosfer yang ia rasakan dalam keluarga besarnya. Baginya, keluarganya saat itu memandang hidup ini hanya dagang, dagang, dan dagang...itu saja. Hingga dibenaknya muncul kekhawatiran akan nasib pendidikan putra-putrinya, curahan kasih sayang kepada mereka, dan lain sebagainya, apabila beliau ikut berwirausaha. Beliau tidak mau itu terjadi.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, ketika tuntutan hidup semakin besar dan ketika anak-anak mulai besar, beliau pun berpikir ulang, beliau kini melihat bahwa dunia wirausaha dapat dijadikan pegangan. Beliau pun aktif mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Dari pelatihan-pelatihan itulah beliau mendapat banyak informasi dan pengalaman yang dapat dipetik hikmahnya.

Sebuah catatan yang beliau sampaikan kepada saya sebagai hasil mengikuti berbagai pelatihan itu adalah mengenai konsistensi dalam menjalankan usaha. Sebuah usaha (apapun jenis usaha yang kita bangun) baru dapat dikatakan teruji apabila telah melewati kurun waktu lima tahun. Disanalah halang rintangan akan terus menghadang. Dan tambahnya lagi, sebuah usaha barulah dapat dipetik hasilnya, apabila telah berjalan selama 10 tahun dengan konsisten, apapun jenis usahanya.

Dari catatan tersebut itulah beliau menyesal, seandainya saja ketika baru menikah dulu beliau sigap menerima tawaran ayahnya untuk berwirausaha, maka saat ini tentunya beliau tinggal menuai keberhasilan dari usahanya itu. Tepat disaat anak-anak sudah memerlukan dukungan materi lebih, terutama dalam hal pendidikannya. Beliau sadari betul, kekhawatiran yang muncul dulu ketika ditawarkan menjalankan usaha sesungguhnya dapat diatasi dengan cerdas.

Saya pun hanya termangu mendengar pemaparannya. Ada sedikit rasa syukur dihati ini, mengingat suami sejak awal pernikahan kami senantiasa terus memotivasi agar tidak ragu untuk terjun ke dunia wirausaha. Bukan sekedar agar menghasilkan materi lebih, tetapi juga agar dapat berkontribusi lebih dalam membangun ekonomi ummat ini. Wah kalo yang terakhir ini pemaparannya bisa panjang nih, intinya yuk berwirausaha... jangan sampai menyesal 10 tahun kemudian ^_^

*Erlin Karlina
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template