Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Memulai Bisnis, Cari Tempat Dulu Aghh


Secara tidak sengaja, pagi itu saya berdiskusi dengan seorang rekan tentang wirausaha. Ya, membicarakan tentang dunia bisnis dengan rekan yang seorang karyawan. Singkat cerita, rekanku yang berasal dari Sumatra Barat itu ingin sekali berbisnis. Sebut saja namanya Buyung (nama samaran), si Buyung ini sudah sangat ingin sekali untuk berbisnis. Wowww, luar biasa sekali semangat si buyung itu.

Singkat cerita, ternyata si buyung itu sudah memiliki pilihan mau berbisnis apa dia kelak. Ya, ia sangat ingin sekali tuk memulai bisnis penjualan pulsa, HP, serta aksesorisnya. Wowww, entah berapa lama ia sudah memiliki keinginan tuk berbisnis itu. Padahal, kebanyakan orang yang saya temui dan ingin mulai berbisnis pasti selalu bingung ketika ditanya mau berbisnis apa. Pokoknya mau bisnisnya sukses, tapi bingung mau bisnis apa. Brarti si Buyung tadi itu hebat dong, ya ia sudah punya pilihan jenis bisnis yang akan digelutinya kelak.

Percakapan berikutnya adalah, aku tanya kapan si bunyung mau mulai usaha? Nahhh, mulai bingung deghh jawabnya. Ia masih bingung, karena ia harus memilih tempat yang strategis dulu tuk bisnisnya itu. Ia ingin berbisnis di pasar, ya layaknya tempatnya orang bertemu tuk transaksi jual-beli. Selanjutnya akupun bertanya, emang berbisnis harus punya tempat yang strategis ya? Harus dipasar? Harus di ruko/kios? Haruskah strategis? Dengan sigap si buyung-pun menjawab IYA. Ya, kalo mau bisnisnya sukses brarti tempatnya juga harus strategis.

Heheee, gak salah juga sihh kataku. Tapi gak semua bisnis harus dimulai di tempat yang layak (seperti toko/kios/pasar/mall/dll) lhoo... Dari rumah juga bisa memulai bisnis lhoo. Bahkan ada beberapa bisnis yang saat dimulainya hanya dari rumah, hingga sukses dengan omset puluhan hingga ratusan juta rupiahpun tetap bisnisnya dilakukan dirumah. Aghh, pasti rumahnya terletak di jalan utama tuhhh. Ya, setidaknya di jalan raya komplek tuhhh. Heheheee, lagi-lagi si Buyung ini meyakinkan kalo mau sukses lokasi kudu strategis.

Akhirnya kuberi contoh sukses temanku yang berjualan baju muslim anak yang "toko"nya ada dirumah, tapi omsetnya puluhan juta bahkan di musim lebaran bisa sampai ratusan juta omsetnya. Letak rumahnya strategis? Aghh, enggak juga tuhh. Dan akhirnya aku ceritakan usaha kami yang hanya mengandalkan sebuah rumah petakan tuk tempat jahit dan sebuah rumah di komplek kecil sebagai showroom/gudang-nya bisa memasarkan produk kami hingga seluruh Indonesia. Ya, dengan kekuatan dunia maya, produk kami ecokiddy bisa menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Bahkan produk-produk kamipun sudah masuk ke Negeri tetangga seperti Malaysia. Apakah tempat kami strategis? Heheheee, gak juga tuhhh.

Ehmmm, akhirnya pembicaraan saya dengan si Buyung tadi harus terputus karena ada sesuatu yang harus dikerjakan lagi. Ehmmm, semoga rekanku si Buyung itu tadi bisa mendapat inspirasi deghh. Ternyata, berbisnis itu emang perlu tempat. Tempat strategis sangat dibutuhkan tuk menentukan suksesnya bisnis kita. Namun.... gak selamanya tempat menjadi hal yang utama yahhh. Asalkan kita tau apa "kelebihan" bisnis kita, InsyaAllah ada banyak cara tuk sukses koq...

Selamat berjuang ya Buyung saudaraku!!! ^_^

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 23 Juni 2012

Jika Meninggal, Akan Dikenang Sebagai Apa ya?




Poin pertama, dari 5(lima) step to growing business yang diajarkan oleh pak Teguh di workshop "How To Grow Your Business" adalah FONDATION.

Hal ini cukup mendasar dan terkesan sangat sederhana. Tapi hal ini ternyata pondasi yang cukup penting agar bisnis kita dapat terus GROW. Masih dalam bagian FONDATION, para peserta workshop harus mengisi di workbook masing-masing mengenai apa sajakah yang kita inginkan jika kita meninggal dunia kelak.

"Start from the end of your life". Ya, maksudnya adalah saat kita meninggal nanti kita ingin dikenal sebagai orang yang seperti apa? Baik secara fisik, keluarga, sosial, karir/bisnis, spiritual, intelektual, dan emosi.

Saat workshop tersebut diadakan di Bekasi hari Sabtu lalu (16/06/2012), didapat berbagai "keinginan" dari beberapa peserta bila ia meninggal dunia kelak. Diantaranya:
1. Secara Fisik
Ingin dikenang sebagai orang yang sehat & atletis,
2. Secara Keluarga
Ingin dikenang sebagai orang yang sayang thd istri & anak2,
3. Secara Sosial
Ingin dikenang sebagai orang yang aktif bantu-bantu dikegiatan sosial,
4. Secara Karir/Bisnis
Ingin dikenang sebagai pengusaha sukses yang punya banyak teman,
5. Secara Spiritual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin silaturahim,
6. Secara Intelektual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin berbagi & menuntut ilmu,
7. Secara Emosi
Ingin dikenang sebagai orang yang sabar dan senang bergaul,

Wowww, workshop mau ngebangun bisnis koq harus mengisi jawaban seperti itu yahh. Ya, ingat hal tersebut adalah sebuah pondasi yang merupakan landasan sehingga bisnis kita dapat terus tumbuh.

So, ingin dikenang sebagai apakah jika kita kelak meninggal dunia?

*Yusuf Erlangga

Jumat, 01 Juni 2012

Alasan Hadir di Sebuah Pelatihan




Dalam sebuah diskusi, diketahui bahwa setiap orang yang mengikuti sebuah pelatihan/training/workshop/seminar/dll ternyata memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ya, acaranya sama tapi tujuan orang yang hadir disitu bisa berbeda-beda.

Ada yang ikut karena niatnya biar dapet ilmu.
Ada yang datang dengan tujuan biar dapet pengalaman bisa ketemu langsung pembicaranya.
Ada yang hadir karena biar bisa memperluas jaringan/networking.
Ada yang sengaja niatnya biar ketemu calon klien atau ketemu bakal calon istrinya (sama-samaa sebagai peserta). :p
Ada yang ikut karena disuruh boss/atasan di perusahaannya.
Ada yang sengaja ikut karena ingin dapet sertifikat acaranya.
Ada yang datang berharap bisa masuk TV, karena tau ada media yang meliput.
Atau ada yang datang karena ikut-ikutan temennya.

Apapun tujuan ataupun alasannya, yang pasti kita berharap dengan kehadiran kita di acara tersebut benar-benar bermanfaat bagi kita yang hadir. Syukur-syukur manfaatnya bisa disebarluaskan kepada teman-teman yang lain dengan kita berbgi ilmu/pengalaman setelah mengikuti acara tersebut.

Jadi, alasan atau tujuan yang mana dong yang paling bagus saat kita ikut pelatihan seperti itu?
Apapun pilihan alasannya, syah-syah aja koq. Syukur-syukur kita punya tujuannya tidak hanya satu. Contohnya bertujuan biar dapat ilmu sekaligus nyari kenalan baru. Atau tujuannya biar dapat pengalaman, sekaligus kali-kali aja bisa masuk TV. Hehehee, jadi kalo alesan pertama tidak tercapai. Kann jadinya gak begitu kecewa tohhh, karena ada alasan yang kedua... ;)

Ok, selamat hadir di sebuah pelatihan ya rekan-rekan... ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 13 Desember 2011

Bidik Konsumen Kelas Menengah



Dalam sebuah talkshow diradio kemarin sore, seorang pengamat bisnis mengatakan bahwa tahun 2012 nanti adalah tahunnya konsumen kelas menengah. Ehmmm, maksudnya apa ya? gumam saya dalam hati. Masih dalam info diradio tadi, ternyata salah satu indikasinya adalah adanya beberapa fenomena di akhir tahun 2011 ini. Salah satunya adalah tragedi antrian blackbery yang memakan korban di Jakarta beberapa waktu yang lalu, serta fakta adanya indent pemesanan mobil All New Avanza hingga ribuan unit yang memakan waktu antrian hingga 2-3 bulan.

Ternyata yang ramai dan mengantri saat ini di Indonesia bukan hanya untuk pembagian sembako gratis saja. Untuk pembelian suatu produk yang seharga jutaan hingga ratusan juta rupiah penduduk Indonesia mulai rela mengantri. Ya, tentunya itu terjadi pada konsumen kelas menengah. Dan fakta menurut statistik BPS, ternyata usia penduduk Indonesia yang berpenghasilan sendiri alias yang sudah bekerja sangatlah banyak. Penduduk terbanyak yang pertama didominasi pada rentang usia 25-29 tahun, kedua di usia 20-24 tahun, dan yang ketiga pada usia 30-34 tahun.

Lhoo apa hubungan antara konsumen kelas menengah dan usia penduduk yahh? Ya, penduduk pada usia tadi merupakan orang-orang muda yang sudah mulai berpenghasilan sendiri. Dan tentunya pada usia tadi, rata-rata penghasilan mereka belum terlalu besar. Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa penduduk berusia muda merupakan konsumen yang konsumtif. Maklum, usia muda adalah usianya yang lebih mementingkan gaya hidup.

So, apakah kita sudah siap tuk menyambut konsumen kelas menengah di tahun 2012?
Dimanakah posisi kita?
Apakah hanya sebagai konsumen yang merupakan objek, atau kita merupakan subjeknya yang dapat memanfaatkan peluang tersebut sebagai pelaku usaha?

Go action!!!

*Yusuf Erlangga

Senin, 21 November 2011

Fokus Berenang & Berbisnis



Dalam sebuah kesempatan, seorang murid diajak gurunya berjalan-jalan naik perahu dari pantai ke tengah lautan. Dari awal si murid tak henti-hentinya bertanya kepada sang guru hendak kemana dan mau apa mereka pergi naik perahu. Seberapa pentingkah perjalan ini? ujar si murid bertanya pada sang guru. Beberapa kali ditanya, sang guru tetap diam. Dan akhirnya pada suatu titik beberapa puluh meter dari pinggir pantai, secara tiba-tiba sang guru mendorong muridnya tersebut ke air. Setelah tercebur ke laut, guru tersebut meninggalkan muridnya tadi menggunakan perahu kembali ke pantai.

Sesaat tercebur, simurid sangat panik. Terlebih lagi ia sadar bahwa ia tidak jago berenang, dan saat itu adalah pertama kalinya ia masuk ke air laut. Hanya terdengar suara sayup-sayup gurunya yang teriak, "Fokus, fokus, fokus. Aku tunggu kamu dipinggir pantai". Sesaat itu pula pikiran yang ada diotak simurid bercampur aduk. Kesal pada gurunya, panik karena kaget, lelah mengatur nafas, takut tenggelam, capek karena harus terus mengapung, ngeri akan adanya binatang laut, dan pikiran-pikiran lain.

Setelah sekitar 20 menit kemudian, sang murid Alhamdulillah sampai juga di pantai tempat gurunya berada. Setelah beberapa menit istirahat, sang guru bertanya pada muridnya, Apa yang kamu pikirkan sesaat aku mendorongmu dari perahu dan engkau tercebur? Pada mulanya aku memikirkan banyak hal, jawab sang murid. Tetapi setelah beberapa detik kemudian aku hanya berpikir & berusaha agar aku tetap mengapung dan bisa berenang ketepian.

Begitu pula dalam kehidupanmu, ujar sang guru. Jika kamu memiliki intensitas seperti itu dalam kehidupan, maka kamu akan fokus membuat komitmen atas hal terpenting dalam hidupmu.


Kisah tadi semakin menguatkanku atas pesan salah satu mentor bisnisku, bahwa kita disarankan untuk fokus dalam membangun bisnis. Cukup kerjakan satu usaha saja, hingga benar-benar usaha itu besar/kuat. Atau, cukup kerjakan proyek/order yang hanya sesuai core bisnis kita saja, hingga kita benar-benar dipandang menjadi ahli pada bidang tersebut.

Pesan mentor bisnisku tersebut terucap karena ia prihatin banyak pelaku usaha (khususnya pengusaha UKM & pebisnis pemula) yang bisnisnya tidak maju atau jalan ditempat, bahkan terancam bangkrut. Ya, karena mereka banyak yang tergoda ikut-ikutan bisnis "tetangga" yang katanya "rumput tetangga lebih hijau". Padahal usaha yang sedang dijalani sebelumnya nya masih tahap merangkak. Selain itu banyak pula, pelaku usaha yang menerima orderan / proyek yang sebenarnya bukan bidangnya. Ya semata-mata demi mendapat profit atau margin dari orderan/proyek tersebut. Padahal hal tersebut tak akan membuat ia besar dan menjadi ahli dalam bidang bisnis tersebut. Ya, semua itulah termasuk yang dikatakan tidak fokus.

Upsss, sudahkah kita fokus dalam membangun & menjalankan bisnis kita?

*Yusuf Erlangga

Rabu, 02 November 2011

Libatkan Istri Dalam Berwirausaha



Ngapain nyambi berwirausaha sih pak?
Bapak kan enak udah jadi karyawan tetap, di perusahaan besar lagi tuhh. Gaji lumayan, pensiun dapet, kalo meninggal dapet santunan, dll.
Upss, istrinya juga dilibatkan dalam usahanya yahh? Bukankah mencari nafkah itu tugasnya suami?

Ya, itulah beberapa pertanyaan dan pernyataan dari beberapa kawan saat saya mulai berwirausaha beberapa tahun yang lalu. Sempat terpikir, ihhh benar juga yahh. Ngapain capek-capek berwirausaha ya. Enakan jadi karyawan, gak perlu mikir untung rugi bisnis, bahkan tiap bulan dapat gaji sebagai karyawan.

Disuatu kesempatan akhirnya saya tergugah dari kisah seorang ibu yang baru aja ditinggal suaminya yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja. Kebetulan selama ini ibu tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga yang kebutuhan rumah tangganya dicukupi dari gaji bulanan sang suami. Ia sedih ditinggal suami tercinta sekaligus ia bingung gimana caranya ia tetap dapat melanjutkan hidup bersama anak-anaknya.

Ia sangat sedih, padahal dilain sisi ia baru saja menerima uang santunan yang cukup banyak. Bukan hanya jutaan rupiah, atau puluhan juta, ternyata santunannya berjumlah ratusan juta rupiah. Santunan tersebut berasal dari perusahaan tempat suaminya bekerja, dari program jamsostek, serta dari asuransi jiwa yang mereka ikuti. Disatu sisi ia bersyukur karena mendapat santunan tersebut, disisi lain ia bingung akan diapakan uang sebanyak itu. Yang terpikir olehnya adalah untuk modal usaha agar dapat melanjutkan kehidupannya.

Masukan sana-sini ia terima dari keluarga maupun rekan-rekannya mengenai peluang usaha yang bisa ia kerjakan. Tapi tetap saja ia masih bingung, karena bukan tidak mungkin, alih-alih ingin mendapat untung serta melanjutkan kehidupan dengan berwirausaha, bisa jadi uang santunan yang ia miliki sebagai modal usaha lama-kelamaan justru akan habis.

Ya, itu bisa saja terjadi karena ia selama ini belum pernah mengelola uang untuk berbisnis. Ia sadar betul, jangankan tuk pebisnis pemula, pengusaha yang sudah bertahun-tahun sukses saja bisa mengalami kerugian bahkan bangkrut.

Balik lagi ke pertanyaan kawan saya tadi diawal, kisah itulah yang menjadi alasan mengapa saya berwirausaha dan melibatkan istri dalam membangun usaha. Bukan bermaksud mendahului takdir Allah, setidaknya yang saya lihat dilingkungan selama ini biasanya sang suami lebih dahulu meninggal daripada sang istri. Bilamana hal tersebut juga terjadi pada saya, setidaknya kisah ibu yang "bingung" saat ditinggal suami tadi tidak akan terjadi pada istriku kelak. Aamiin...

Bagaimana dengan anda?
Saat ini anda sebagai karyawan? Jangan segan-segan berwirausaha yukss, dan jangan lupa ajak istri tuk berwirausaha pula yahh.
Atau anda saat ini sudah sebagai pengusaha? Jangan segan-segan tuk libatkan istri dalam menjalankannya yahh.

Ternyata berwirausaha itu bukan hanya sekedar mencari nafkah tuk saat ini lhoo, tetapi juga untuk mempersiapkan "sesuatu" tuk waktu yang akan datang. Sesuatu banget yahh... ^_^

*Yusuf Erlangga

Jumat, 14 Oktober 2011

Gempa Susulan Dalam Bisnis



Secara Ilmiah, setelah terjadi gempa utama hampir pasti akan muncul gempa susulan beberapa kali, khususnya jika gempa utama yang terjadi itu berkekuatan besar. Begitupun dalam usaha/bisnis, jika ada suatu usaha yang booming hampir pasti akan bermunculan bisnis-bisnis serupa yang mengikuti atau bisnis lain yang mendekati. Ya, itulah gempa susulan dalam bisnis.

Gempa susulan dalam bisnis ini setidaknya ada dua makna, yaitu munculnya bisnis serupa yang meniru kesuksesan bisnis yang sedang booming. Atau yang kedua, akan bermunculan bisnis berbeda yang mendekati bisnis yang pertama (lokasinya).

Tuk makna yang pertama, contoh yang kita lihat di masyarakat adalah banyaknya bermunculan aneka merek dagang seperti pada produk ayam crispy, kebab, kopi, tahu bulat, burger, kripik pedas, dll. Setelah ada sebuah usaha baru dan sukses, nantinya akan muncul followers (pengikut) yang mengikuti pioneernya (perintis). Dan ini syah-saah saja dalam dunia usaha, selama si followersnya itu tidak meniru persis baik produknya maupun nama/merek dan logonya.

Sedangkan gempa susulan dalam bisnis tuk makna yang kedua, adalah akan datang aneka usaha yang biasanya lebih kecil mendekati tempat dimana disana ada suatu usaha yang biasanya lebih besar. Karena, usaha-usaha kecil itu tau jika ada suatu usaha besar disuatu tempat, makan pengunjung/prospeknya juga akan lebih besar. Usaha-usaha besar yang memiliki magnet tersebut contohnya adalah hypermarket, perbankan, sekolah/kampus, dll. Dan hampir pasti disekitar tempat tersebut akan bermunculan usaha2 kecil seperti penjual kuliner, dll.

Mau berusaha sebagai gempa utama ataupun hanya sekedar sebagai gempa susulan, semua itu syah-syah saja lhoo. Dan semua itu ada contoh suksesnya.
Yukkks berwirausaha...

*Yusuf Erlangga

Rabu, 20 April 2011

Usaha Ini Bagus Gak Ya?


Woww, ternyata peluang usaha itu banyak ya...
Ehmm, ini dia nihh ide yg bagus. Pasti bisnis ini akan booming nihh...
Waduh bingung nihh mau usaha apa ya?
Yahh, ternyata usaha ini gak cocok tuk saya. Ganti usaha aghh...

Itulah sebagian pernyataan dan pertanyaan yang sering dialami orang banyak, khususnya orang-orang yang belum, atau baru mau, atau bahkan yang sudah berwirausaha namun masih baru berjalan beberapa bulan/tahun.

Jadi gimana baiknya dong???
Jawaban kata kebanyakan praktisi usaha adalah; Usaha yang bagus yaitu usaha yang dijalankan, bukan hanya sekedar dipikirkan atau ide. Lhaa gimana mau ketauan bagus atau tidak, dijalankan saja belom koq.
Atau ada juga yang mengatakan semua usaha itu bagus, asalkan dijalankan dengan konsisten (ada yg bilang minimal 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dll). Nahh kalo yang terakhir ini intinya jangan tergoda tuk berhenti atau ganti usaha, jika usaha yang kita jalankan dirasakan tidak ada kemajuan. Terlebih lagi bilamana ganti usahanya tersebut diakibatkan tertarik dengan bisnis baru yang sedang booming (alias ikut-ikutan).

Kalo itu sudah dijalankan apakah usaha kita pasti sukses?
Kalo itu saya berani jamin, bahwa saya menjamin kesuksesan itu kemungkinan didapat. Ya, itu hanya "kemungkinan" lhoo... heheee :p Daripada tidak action sama sekali khann... Yang tidak action itulah yang dijamin tidak akan sukses ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 12 April 2011

Aneka Alasan Membeli Sesuatu


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas dari sebuah kegiatan yang namanya "membeli". Iya, membeli barang ataupun jasa. Nahh, dalam kegiatan itulah seseorang pasti memiliki aneka alasan sebelum memutuskan tuk membeli sesuatu.

Mengapa ia membeli produk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memilih merk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memesan di toko ini, bukan yang disitu?
dan lain-lain aneka alasannya. Nahh, berikut ini beberapa aneka alasannya:

1. Karena harganya lebih murah.
2. Karena tokonya dekat.
3. Karena suka sama iklannya yang ada di radio/tv.
4. Karena pelayanan dari penjualnya sangat ramah.
5. Karena lagi trend (alias ikut-ikutan).
6. Karena ada hadiah/bonusnya.
7. Karena sudah suka/fanatik dengan merk-nya.
8. Karena kenal dengan penjualnya.
9. Karena tempatnya nyaman dan asyik.
10. Karena banyak pilihannya.
11. Karena ada jaminan/garansinya.
12. Karena kasihan/iba dengan penjualnya.
13. Karena punya kartu diskon/voucher gratisnya.
14. Karena terpaksa. Gak ada penjual/merk lain.
15. Karena bisa kredit/nyicil.
16. Karena ada program pesan-antar (delivery service).
17. Karena ongkos kirim/pasang-nya gratis.
18. Karena ada program undian berhadiahnya (ngumpulin kupon/ poin /dll).
19. Karena proses pelayanannya cepat.
20. Karena hasil pekerjaannya bagus dan rapi.
21. Karena bahan baku produksinya menggunakan kualitas yang baik.
22. Karena bahan bakunya lebih sehat.
23. Karena mendukung program Cinta Produk Dalam Negeri.
24. Karena produknya unik alias tidak pasaran.
25. Karena produk tersebut merupakan produk limited edition.
26. Karena ingin membantu si penjualnya.
27. Karena terpaksa agar dapat uang recehan dari kembaliannya.
28. Karena barang sejenis yang dimiliki sudah rusak.
29. Karena ingin menyenangkan orang lain, diberikan sebagai hadiah.
30. Karena agar eksis. Gaya dilihat orang lain.
31. Karena bisa ikutan mendukung program Go Green.

Selain aneka alasan seseorang saat "membeli" diatas, tentunya masih banyak lagi alasannya yang setiap orang tentunya berbeda-beda.

Jika alasan membelinya saja banyak sekali, berarti banyak juga dong alasan kenapa orang bisa sukses dengan berjualan atau berwirausaha. Ayo mari kita berwirausaha, Insya Allah yang membutuhkan barang atau jasa yang kita jual pasti ada deghh. Dan saat sudah berwirausaha, tentukan beberapa point dari daftar diatas; bagian point mana saja para konsumen akan membeli barang atau jasa kita? Kuatkan dipoint tersebut, maka Insya Allah jalannya usaha kita akan sukses.

Masih mau jadi pembeli saja? Saatnya jadi penjual dong... ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 12 Oktober 2010

Mau Usaha Apa Yahhh???


Ya, saya harus memulai usaha (baca: bisnis) sekarang juga...
Tapi mau usaha apa yahhh???
Kuliner, fashion, atau jasa ya?
Produsen, distributor, atau penjual langsung ya?
Sewa ruko, dirumah, atau via online ya?

Ehmmm, itulah pertanyaan yang sering ditemui disaat kita akan memulai suatu usaha khususnya bagi orang yang baru pertama kali akan terjun didunia usaha. Ehmmm, kalo kebanyakan mikir bisa-bisa gak jadi niyyy. Capek deghh... :p

Sebenarnya banyak tips tuk menentukan jenis usaha apa yang ingin kita pilih. Tapi, paling tidak ada dua tips dasar yang bisa jadi tips bagi kita, yaitu pilih jenis usaha sesuai yang kita sukai atau yang kita kuasai. Gampang khann; SUKAI atau KUASAI...

SUKAI
Kita bisa mulai mencoba membuka usaha yang sesuai dengan hobi atau kesukaan kita. Karena kalau sudah suka, kita tidak akan cepat bosan dan mudah menyerah menjalankannya walaupun mungkin di masa-masa awal akan ada banyak tantangan

KUASAI
Kita bisa mencoba dengan membuka usaha yang memang sudah kita kuasai bidangnya. Waluapun belum berpengalaman berwirausaha, tapi kita harus yakin bahwa kita memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan. Yang paling mudah adalah seseuai background pendidikan kita, atau bidang pekerjaan saat dulu kita bekerja sebagai karyawan.

Nahhh, dengan dua hal tersebut diharapkan kita sudah bisa menentukan jenis usaha apa yang akan kita pilih. Namun jika masih bingung juga, sebagai pamungkas kita bisa menelusuri kemana saja selama ini uang kita keluarkan. Maksudnya apa yahhh???

Saat membuka usaha, salah satu tujuan utamanya adalah untuk menambah penghasilan bukan, maka kita perlu melihat bagaimana caranya uang berputar. Berpindah tangan dari konsumen ke penjual, agen, produsen dan seterusnya. Coba lihat bahwa kita selama ini mengeluarkan uang untuk membeli apa saja. Untuk makan, bayar transport, sewa rumah, beli pakaian, jalan-jalan, bahkan untuk beribadah dan sebagainya. Teliti satu persatu arus uang yang sudah kita keluarkan pada penjual makanan, sopir angkot, toko baju, tempat tamasya dan sebagainya. Mungkin ada salah satu celah dimana kita bisa menikmati keuntungan dari arus uang tadi.

*Yusuf Erlangga

Senin, 04 Oktober 2010

Trik Meramaikan Usaha Yang Sepi


Sebagai wirausahawan yang juga berstatus karyawan, hari libur adalah saat yang tepat untuk terjun langsung menjalankan usaha keluarga kami. Karena masih berstatus sebagai karyawan, tak selamanya hari libur dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Seperti pada hari sabtu ini, saya harus masuk kerja di kantor karena adanya pekerjaan yang harus diselesaikan sesuai yang diperintahkan oleh pimpinan di kantor.

Layaknya pada hari kerja pada umumnya, sekitar jam 12 siang kami memanfaatkan waktu untuk melaksanakan shalat Dzuhur dan makan siang. Karena situasi relatif lebih santai dibanding hari kerja, kami yang masuk pada hari ini sepakat untuk makan siang bersama-sama. Setelah sempat berdiskusi yang cukup seru untuk menentukan tempat makan, Plaza JB di Cikarang-lah yang kami pilih sebagai tempat untuk makan siang hari ini. Karena secara pribadi saya jarang hunting makan siang saat istirahat kantor, maka saya yang kebetulan saat itu menyetir mobil yang kami gunakan langsung menuruti dan mengarahkan mobil kearah tujuan.

Sesampai tujuan, ada pemandangan yang cukup mengagetkan bagi saya saat memasuki pintu masuk plaza itu. Walau disebut plaza, sebenarnya tempat itu tidak terlalu luas, ramai, serta mewah layaknya sebuah Plaza atau Mall. Sebenarnya saya sudah pernah ketempat tersebut, tapi sangat jarang bahkan yang terakhir kalinya aja sudah sekitar 8 bulan yang lalu. Namun bukan hal itu yang mengagetkan bagi saya, suasana yang cukup ramailah (tidak seperti 8 bulan yang lalu) yang membuat saya kaget. Selain pengunjung yang cukup ramai, ternyata toko/kios yang ada disana penuh terisi oleh para pedagang.

Usai makan siang di food court yang ada di plaza tersebut, saya sempatkan untuk mengobrol dengan seorang pedagang yang ada di plaza tersebut termasuk seorang karyawan ditempat kami makan. Dari pembicaraan tersebut, ada beberapa hikmah yang dapat saya ambil mengenai mengapa plaza itu dapat bangkit kembali sehingga ramai kembali dikunjungi oleh para pembeli. Dari sekian info yang saya dengar, dapat saya simpulkan bahwa yang menyebabkan plaza itu ramai kembali adalah berasal dari manajemen / pengelola plaza itu sendiri.

Manajemen plaza tersebut telah berpikir dan bekerja "kreatif" serta berani mengeluarkan biaya (cost) lebih untuk biaya promosi dan pemeliharaan gedung (maintenance). Biaya promosi yang ada digunakan dengan cara mengadakan beberapa kegiatan seperti panggung hiburan, lomba-lomba, pameran, dll dengan mengundang artis untuk menarik pengunjung. Sedangkan biaya maintenance digunakan untuk mendesain suasana interior plaza sesuai dengan tema terkini / trend yang selalu berubah-ubah setiap saat seperti Idul Fitri, Natal, 17 Agustus-an, tahun baru, dll.

Dua hal itulah yang menurut saya menjadi point utama penggerak bangkitnya kembali plaza yang mulai sepi tersebut. Hal itu pula dapat menjadi pelajaran bagi kita semua yang terjun dalam dunia usaha.

*Yusuf Erlangga

Rabu, 14 Juli 2010

Ecokiddy, diapers yang bisa dicuci : akhirnya diluncurkan juga ...



Akhirnya setelah sekian waktu tertunda untuk melakukan persiapan disana-sini, tepat tanggal 10 Juli 2010 kemarin kami luncurkan satu lagi produk dalam negeri, Ecokiddy Modern Cloth Diapers. Popok yang di desain khusus agar pemakaian popok kain tradisional (popok dgn selembar kain plus tali disampingnya) yang sudah dikenal umum menjadi lebih mudah dan praktis bagi semua orang. Info lebih lengkap silahkan kunjungi web resminya di www.ecokiddy.com

Seiring dengan itu kami adakan pula lomba foto bagi batita sebagai ajang memperkenalkan produk kami ke masyarakat umum. Lomba ini akan berlangsung dalam dua periode, periode pertama adalah periode pengiriman foto, sementara periode kedua adalah periode polling. Lomba foto ini akan berlangsung hingga tanggal 15 Agustus 2010. Info lebih lengkap silahkan klik DISINI.

Sebelumnya kami pun telah mengadakan soft-launching dengan mengikuti business expo pada Festival Wirausaha Bekasi yang diadakan oleh kominitas TDA (Tangan Di Atas) pada bulan Juni 2010 di Bekasi Square, Kota Bekasi. Melalui kegiatan tsb yg berlangsung hanya dua hari, lebih dari dua puluh calon mitra terjaring untuk bekerjasama dengan kami. Oleh karenanya, kami semakin optimis dengan produk yang kami tawarkan dan masih membuka selebar-lebarnya peluang usaha ini bagi masyarakat luas. Dengan memasarkan produk ini, selain mendapat keuntungan secara materi secara tidak langsung kita telah ikut mengkampanyekan penggunaan Modern Cloth Diapers yg lebih sehat, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan.

*Erlin Karlina

Selasa, 01 Juni 2010

Pelatihan Membuat Mie

Tepat hari minggu kemarin, 30 Mei 2010, keluarga kecil kami mendapatkan satu pengalaman unik kembali. Ini untuk pertama kalinya kami sekeluarga bareng-bareng ikut pelatihan. Asyik kan... :) Asyiknya lagi pelatihannya tsb adalah pelatihan membuat MIE... yang artinya alamat bisa nyicipin hasil karya nih diakhir pelatihan (hehehe... ketauan deh, itu harapan suami lho :) teteup bumil ga mau ngaku).

Awalnya dikabari suami kalo Mie Sehati mau ngadain pelatihan membuat mie, semula belum tertarik... tapi setelah dipikir2 anakku 'kan termasuk raja-nya mie, baru kepikiran harus kudu mesti ikut pelatihan ini. Siapa tau bisa diaplikasikan di rumah n bisa say good by sama mie instan kesayangannya...

Berangkat deh kita pagi-pagi ke lokasi di daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi, setelah sebelumnya kontak pak Eko eSHaPe dulu sang owner Mie Sehati. Izin untuk daftar dadakan, Alhamdulillah masih bisa ikutan... Ga lama sampai disana acara masak memasak pun dimulai... Satu persatu langkah membuat mie dijelaskan dengan gamblang oleh Bu Yeni, istri Pak Eko. Dengan peserta terbatas, leluasa sekali untuk bertanya jika tidak paham. Materi pun sudah disiapkan dalam bentuk lembaran modul. Wah semangat nih mau praktek di rumah. Padahal Mie Sehati mengadakan pelatihan mie ini juga dalam rangka memotivasi peserta untuk melihatnya sebagai peluang usaha. Hebat n salut buat Pak Eko n Bu Yeni, berbagi ilmu trus euy... Subhanallah, shodaqoh jariyah juga nih - ilmu yang bermanfaat... ^_^

Wah, pokoknya beruntung sekali-lah ikutan pelatihan ini, yang pengen ikutan pelatihan ini, Mie Sehati ngadain rutin 2 minggu sekali lho. Kunjungi ajak web-nya ya, plus bisa lihat foto kami sekeluarga di urutan pertama yang lagi serius ngikutin pelatihan hehehe... *keluarga narsis mode on


*Erlin Karlina
-kembali menulis dengan sedikit paksaan suami 'n terlanjur hutang janji :) -




Sedikit laporan pandangan mata...
Gerai Mie Sehati

Fathan pun antusias banget... ^_^

Bu Yeni menjelaskan...

Adonan Mie Hijau-nya digiling

Selasa, 27 April 2010

Menanamkan Jiwa Entrepreneur Sejak Dini ala Keluarga Tionghoa


Membaca tulisan pak Roniyuzirman seorang founder komunitas TDA di blog pribadinya dgn judul ”Cara Sederhana Menjadi Kaya ala Tionghoa” mengingatkanku mengenai sebuah kisah beberapa bulan yg lalu. Kisah yg dimaksud ini merupakan sebuah kisah yg diceritakan oleh seorang ibu kepadaku. Siapakah ibu tsb? Lalu apakah kisah yg dimaksud? Dan apa hubungannya dg tulisannya pak Roniyuzirman?

Ibu yg dimaksud diatas adalah ibu dari rekan saya yg merupakan seorang entrepreneur sbg penjual alat2 sulap. Lalu kisah yg dimaksud adalah pengalamannya berhubungan dengan seorang anak kecil (usia Sekolah Dasar) yg sering datang ke toko alat sulap itu. Sedangkan hubungan dengan cerita sebelumnya adalah ternyata anak kecil yg dimaksud adalah seorang keturunan Tionghoa. Jadi kira2 begitulah kisah & hubungannya...

Lalu apa yg menarik???
Kisah menarik yg pertama adalah ternyata anak kecil yg sering datang ketoko alat sulap itu ternyata ia membeli bukan hanya sekedar untuk mainan tuk dirinya saja, namun untuk dijual kembali kpd teman2nya.
Menarik yg kedua adalah sang ibu dari anak tersebut tak segan2 menemani saat anaknya sedang belanja barang2 yg dimaksud. Terkadang diantar dgn mobil bersama supir keluarga, atau siibu mengantarnya dengan motor, bahkan pernah sesekali menemaninya dgn menggunakan kendaraan umum.
Menarik yg ketiga adalah diketahui dari pembicaraan dg sang ibu, ternyata ayah dari anak kecil tsb adalah seorang pimpinan (direktur) perusahaan asing yg cukup besar di Indonesia. Berarti mereka termasuk keluarga ekonomi menengah atas, namun tak malu jika anaknya jadi pedagang kecil2an spt itu.

Masih dikisahkan oleh sang ibu dari rekan saya tadi, ia benar2 salut atas pendidikan masalah dagang (red. bisnis) pada anak2 di keluarga Tionghoa.
Sebagian besar anak2 sepulang sekolah malah bermain dirumah maupun diluar bersama teman2nnya, namun sianak tadi malah meluangkan waktunya tuk keperluan jualan.
Sebagian besar orang tua banyak yg khawatir jika anaknya jualan maka akan mengganggu pelajaran disekolahnya, namun si orang tua tadi justru malah mendukungnya dgn tetap membimbingnya.

Ehmm, apakah seperti ini yg dimaksud orang2 dgn menanamkan jiwa entrepreneur sejak dini yahhh??? Ehmmm, boleh juga nihh saya contoh tuk anak2 kami kelak.

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 24 April 2010

Tips Bisnis Suami-Istri ala Velly Kristanti (Klenger Burger)


Benar kata orang, kalau menilai sesuatu jangan liat luarnya aja dong.
Kesan tempat tongkrongan anak muda & gaul yg pertama kali saya liat saat tau Klenger Burger. Tau khan? Itu tuh tempat makan dgn menu utama BURGER. Namanya juga Klenger Burger, bukan Klenger Pizza khan? Apalagi Klenger Warkop, jadi pasti menu utamanya burger dong, hehee... :)) Di Jakarta & sekitarnya sdh banyak tuhh outletnya. Kalo blom pernah liat apalagi denger, cek aja dehh di google, atau lsg mampir di www.klengerburger.com

Oke, kali ini saya bukan mau ngomongin enaknya burger tsb, apalagi mau ngajakin makan bareng itu burger. Kali ini saya hanya ingin sedikit berbagi apa yg saya baca dr sebuah majalah bulanan NOOR edisi Dzulhijjah 1430H yg lalu, tapi baru aja saya baca kemarin. hehee, telat banget nihhh. Didalamnya ada sebuah artikel berjudul "Suami Istri Mitra Bisnis, Why Not...?" Nah salah satu contoh profil di artikel tsb adalah si pendiri Klenger Burger itu. Ya, usaha itu digawangi oleh suami-istri Gatut Cahyadi & Velly Kristanti.

Di artikel tsb diceritakan kisah tentang perjalanan usaha yg dijalankan oleh suami & istri. Namun yg menarik bagi saya adalah beberapa tips dr mbak Velly (sang istri) mengenai berbisnis. Berikut tips-tipsnya:
1. Untuk mengenyam kesuksesan, diri ini harus siap menerima segala proses jatuh bangun dan cobaan-cobaan yg bs terjadi berpuluh-puluh kali.
2. Harta karun kita adalah Al-Qur'an untuk menentukan halalan dan thayiban-nya bisnis yg dijalani. Apabila punya pertanyaan yg mendasar, kembalikan saja kpd ketentuan Al-Qur'an.
3. Meskipun bekerjasama sama dengan suami, bisnis ibarat dalam kapal, tetap meletakan diri ini sbg navigator. Suami megepalai bisnis, sementara kita menjadi manajernya.
4. Kalaupun ada orang atau rekan kerja yg berbuat curang dan merugikan perusahaan, selain mempergunakan jalur hukum untuk mendapatkan solusi, sikap sabar, ikhlas dan pasrah tetap harus diegakan.

Nahh, dari situlah saya baru kenal. Ternyata tempat makan yg saya kenal sbg tempat nongkrongnya anak muda atau anak2 gaul itu dimiliki & dikelola oleh pasangan suami-istri dari keluarga muslim yg sukses dlm berbisnis. Terima kasih atas inspirasinya mbak velly!

*Yusuf Erlangga

Rabu, 24 Februari 2010

Sukses sebagai Makelar


Dalam sebuah kesempatan, seorang pemuda bertanya kepada seorang motivator.
Dengan pendidikan yang pas-pasan seperti ini, pekerjaan apa yang cocok bagi saya? tanya sang pemuda kepada motivator. Sang pemuda menambahkan keluhannya dengan nada yang kurang semangat. Sudah banyak lamaran yang saya kirim, tapi belum ada yang diterima. Mau usaha sendiri, tapi gak punya modal. Apakah saya masih bisa sukses untuk berkerja atau usaha?

Namanya juga motivator, mendapat pertanyaan seperti itu. Ia justru hanya tersenyum seraya memberi semangat kepada pemuda itu. Ya, semua pasti ada hikmahnya, dan kamu pasti bisa sukses!
Sebagai sebuah solusi, pekerjaan yang paling memungkinkan bagi pemuda itu yaitu menjadi makelar penjualan rumah/tanah atau bergabung bersama agen penjualan properti. Tanpa pendidikan yang tinggi, semua orang pasti bisa asalkan ia bergelar MBA. Hahhhh MBA???? Iya, Modal Bacot Aja (red; bacot=mulut).

Tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi sebagai calon karyawan ataupun dana yang cukup untuk modal usaha, semua orang pasti bisa. Mulai bekerja sendiri sebagai makelar rumah/tanah dengan rajin keliling dengan menawarkan jasanya, ataupun bergabung dengan agen properti yang sudah lebih profesional. Bagaimana pun prosesnya, yang penting legal dan halal.

Saat ia aktif sebagai makelar rumah/tanah ataupun agen properti seperti itu, ia sudah menjadikan dirinya semakin berarti. Ia belajar dan terjun langsung bagaimana cara berkomunikasi dengan banyak orang, bernegoisasi, bersosialisasi, memperluas jaringan, serta tak ketinggalan iapun mendapat penghasilan dari usahanya itu.

Pengasilan dari setiap transaksi yang terjadi biasanya sekitar 1% - 2,5% tergantung perjanjian. Insya Allah penghasilannya tetap menjajikan deh.. Berikut sebagai ilustrasinya:
Anggap aja ia mendapat persentase 1,5% setiap transaksi.
Dalam sebulan ia berhasil hanya melakukan satu kali transaksi.
Dalam setiap transaksinya ia berhasil menjual rumah/tanah sekitar Rp 500 juta.
Jadi penghasilanya adalah: 1,5% x 1 x Rp 500 juta = Rp 7,5 juta.
Sebagai pemula, itu pendapatan yang fantastic bukan? Jika ia bisa konsisten serta berhemat setiap bulannya, dalam setahun ia sudah bisa mengumpulkan modal untuk menjalankan usaha lainnya ataupun tetap meneruskan usahanya sebagai makelar profesional.

Jadi tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi serta tanpa modal usaha yang banyak, kita tetap bisa sukses khannn... Hal tersebut bisa terjadi jika kita bisa mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi, termasuk mengambil hikmah dari kekurangan kita sendiri. Salam sukses!

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 20 Februari 2010

Terbentuknya Jiwa Entrepreneur


Alhamdulillah kemarin sempat bersilaturahim dengan sepupu yang tinggal di Lampung. Ia & keluarga datang ke Jakarta untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan keluarga dan tidak lupa untuk "belanja" di Ibukota ini. Eitts, belanja yg dimaksud bukannya shoping tuk ngabisin uang lho. Maklum namanya juga pedagang, ia belanja tuk keperluan usahanya di Lampung. Maklum usaha jahitnya di sana cukup terbilang sukses, satu atau dua bulan sekali ia pasti kesini tuk ke Pasar Tanah Abang atau Pasar Cipadu tuk ngeborong bahan/kain serta kelengkapan jahit lainnya.

Nahh, ada pernyataan menarik dari beliau saat bercerita kisah suksesnya memulai usaha serta kehidupan masa remajanya. Ia bercerita saat masih sekolah di tingkat SMP ia sudah disuruh kursus jahit oleh ibunya yang kebetulan ikut dalam obrolan itu. Walau sebenarnya keuangan terbatas tuk ikut kursus, Alhamdulillah akhirnya ada tetangga yang baik yang mau mengajarinya menjahit secara rutin. Alhasil ilmunya tak sia-sia, bahkan saat di tingkat SMA hasil karyanya sdh menghasilkan uang di lingkungan sekolah ataupun lingkungan rumahnya. Nah, kalo yang ini kata beliau sebenarnya karena tuntutan ekonomi, maklum ia adalah anak pertama dari dua belas bersaudara, jadi harus membantu orang tua tuhh.

Ohya pernyataan menariknya apa ya???
Ia bertutur bahwa ia bisa seperti ini, karena sudah terbiasa & terdidik oleh lingkungan khususnya dari orang tuanya yang emang keluarga pedagang. Kalo bahasa kerennya sih keluarga pengusaha gitu deghh... :))

Sedangkan kami, saya dan istri sama-sama dari keluarga orang tua yang pekerja nih. Orang tua saya dan istri sama-sama bukan pedagang. Waduh berarti saat kami sekarang sedang belajar berwirausaha gak bisa sukses seperti itu dong? Ohh, ternyata yang ia maksud adalah saat ia sdh terbiasa dengan lingkungan pedagang sejak kecil, maka ternyata jiwa entrepreneurnya akan muncul dengan sendirinya. Beda dengan orang2 yang belum terbiasa hidup dilingkungan pedagang sejak kecil seperti kami. Jadi saat kami akan memulai usaha, kami harus mencari ilmu terlebih dulu dengan cara diantaranya:
- Membaca buku-buku tentang bisnis
- Membaca artikel di internet, koran, majalah
- Ikut pelatihan / seminar / workshop
- Bergabung dgn komunitas pengusaha
- Bergabung dgn milis yang berhubungan dengan entrepreneur
- Bergaul dengan pedagang di toko2 / pasar
- dll
Intinya, jiwa entrepreneur tetep bisa dibentuk dengan belajar koq, serta harus berani action yang akan menjadikannya sebagai pengalaman.

Mendengar penjelasannya, saya dan istri saling bertatap-tatapan. Seakan kami sepakat, kalo gitu anak kita harus mulai dididik berdagang sejak dini nihh. Walau saya dan istri juga sama2 seorang karyawan, pendidikan bisnis kepada anak2 tetep perlu dibiasakan sejak dini khannn. Agar bisa menularkan ilmu bisnis kepada anak-anak, berati sebagai orang tua harus selalu "belajar" dong.
Oke, mari belajar & action!

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 06 Februari 2010

Presepsi Keliru tentang Usaha Rumah Makan


Alhamdulillah, awal Febuari 2010 ini berkesempatan menyibukan diri ngurusin salah satu usaha keluarga kami, yaitu Warung Soto Pak Sholeh. Bertepatan lewatnya trisemester pertama di tahun kedua, kami harus pindahan warung lagi, maklum kios masih sewa sihh jadi harus siap pindah-pindah dehh... Baru berjalan setahun lebih, ternyata makin terasa nihh kalo usaha itu ternyata berat juga yahh tak terkecuali usaha di bidang warung makan seperti kami.

Sedang sibuk-sibuknya memutar otak tuk mempertahankan & memajukan usaha ini, saya dapat inspirasi semangat dari pak Wahyu Saidi dlm sebuah catatan di account Facebooknya. Kebetulan catatan tersebut ia kutip dari buku yang berjudul "Kiat Sukses Mengelola dan Mengembangkan Bisnis Restoran" yg ia tulis sendiri. Tau Wahyu Saidi khan? Itu tuhhh, ownernya Bakmi Langgara & Bakmi Tebet, serta beberapa restoran lainnya yang aktif juga ngisi seminar2 & pelatihan tentang entrepreneur.

Nah ini dia nihh, kutipan dari tulisan tersebut. Bagi saya sihh berguna banget, semoga bermanfaat juga tuk yang lainnya ya... Iya kan pak Wahyu?

“Ketika saya pensiun saya akan hidup dengan santai, sambil berbisnis restoran. Saya kan punya kemampuan membuat nasi goreng yang nikmat. Banyak teman memuji saya”.
Ini adalah ungkapan yang sangat keliru! Bisnis restoran bukan bisnis santai, bukan bisnis buat para pensiunan. Bisnis restoran membutuhkan curahan tenaga, pikiran dan waktu yang penuh. Pensiunan yang mau santai, jangan harap bisa mendapatkannya dengan berbisnis restoran. Mungkin bagi pensiunan yang masih punya kekuatan dan semangat tinggi, bisa melakukannya.

Memang banyak orang menganggap bisnis restoran sebagai bisnis yang gampang. Bahkan dikira lebih gampang dibanding membuka tempat cuci motor. Anggapan keliru yang menghasilkan banyak kegagalan. Anda pasti sudah melihat betapa banyaknya restoran yang tutup sebelum menikmati masa-masa keuntungan. Mereka tutup karena menganggap bisnis restoran sebagai bisnis gampangan.

Bisnis restoran bukan sekedar menjajakan masakan yang nikmat. Bisnis ini melibatkan proses yang kompleks mulai dari rasa makanan, suasana, layanan, proses produksi, kontrol harga, penanganan keluar masuk barang, dan banyak hal lainnya yang membutuhkan perhatian khusus. Manajemen yang baik dituntut untuk diterapkan dalam bisnis ini. Bahkan manajemen modern paling baru, harus pula dijalankan menghadapi persaingan bisnis restoran yang sangat ketat.

Sejumlah alasan keliru untuk membuka bisnis restoran:
1. Punya resep makanan yang lezat.
2. Ditantang investor untuk bikin restoran
3. Punya hobi makan masakan enak bersama teman
4. Punya cara penyajian unik yang belum pernah dijalankan restoran manapun
5. Menawarkan harga makanan dan minuman yang lebih murah
6. Punya banyak teman yang bisa mendukung restoran
7. Ada teman yang kemampuannya biasa saja berhasil bisnis restoran. Kenapa saya tidak?
8. dll

Bila salah satunya menjadi alasan membuka bisnis restoran, lupakan untuk berhasil. Anda pasti akan mengalami kegagalan, karena hanya mengandalkan alasan-alasan tersebut. Sekali lagi perlu diingat, bisnis restoran tidak hanya melulu soal menu masakan yang super lezat!

*Yusuf Erlangga

Selasa, 02 Februari 2010

Mau Menuai Hasil Wirausaha? Tunggu 10 Tahun lagi!!


Maksud judul diatas apa ya??? ^_^

Alhamdulillah ahad kemarin ada seorang sahabat yang cukup senior (seorang ibu dengan 4 putra) datang bersilaturahim ke rumah kami. Banyak juga yang kami perbincangkan dalam kunjungan beliau tersebut. Selain dalam rangka menawarkan beberapa paket buku untuk anak yang sangat bagus isinya dan juga harganya :P, kami banyak berbincang mengenai dunia usaha.

Saya masih terbayang sekali wajah penyesalannya ketika ia menceritakan bahwa dulu ia sempat menolak berwirausaha. Saat itu, ketika belum lama menikah ia ditawari oleh keluarganya untuk membangun sebuah usaha. Rupanya keluarga besar beliau memang sudah banyak terjun di dunia wirausaha. Saat itu, beliau ditawarkan untuk membangun sebuah optik oleh ayahnya. Ya optik, karena beliau lulusan akademi optik dan sang ayah pun memiliki sebuah optik. Jadi sangat wajar jika penawaran itu datang.

Namun dengan alasan tidak mau "kenal uang" terlalu jauh ia putuskan menolak tawaran itu. Ia tidak mau hanyut dalam materi jika berjalan di dunia wirausaha, sebagaimana atmosfer yang ia rasakan dalam keluarga besarnya. Baginya, keluarganya saat itu memandang hidup ini hanya dagang, dagang, dan dagang...itu saja. Hingga dibenaknya muncul kekhawatiran akan nasib pendidikan putra-putrinya, curahan kasih sayang kepada mereka, dan lain sebagainya, apabila beliau ikut berwirausaha. Beliau tidak mau itu terjadi.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, ketika tuntutan hidup semakin besar dan ketika anak-anak mulai besar, beliau pun berpikir ulang, beliau kini melihat bahwa dunia wirausaha dapat dijadikan pegangan. Beliau pun aktif mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Dari pelatihan-pelatihan itulah beliau mendapat banyak informasi dan pengalaman yang dapat dipetik hikmahnya.

Sebuah catatan yang beliau sampaikan kepada saya sebagai hasil mengikuti berbagai pelatihan itu adalah mengenai konsistensi dalam menjalankan usaha. Sebuah usaha (apapun jenis usaha yang kita bangun) baru dapat dikatakan teruji apabila telah melewati kurun waktu lima tahun. Disanalah halang rintangan akan terus menghadang. Dan tambahnya lagi, sebuah usaha barulah dapat dipetik hasilnya, apabila telah berjalan selama 10 tahun dengan konsisten, apapun jenis usahanya.

Dari catatan tersebut itulah beliau menyesal, seandainya saja ketika baru menikah dulu beliau sigap menerima tawaran ayahnya untuk berwirausaha, maka saat ini tentunya beliau tinggal menuai keberhasilan dari usahanya itu. Tepat disaat anak-anak sudah memerlukan dukungan materi lebih, terutama dalam hal pendidikannya. Beliau sadari betul, kekhawatiran yang muncul dulu ketika ditawarkan menjalankan usaha sesungguhnya dapat diatasi dengan cerdas.

Saya pun hanya termangu mendengar pemaparannya. Ada sedikit rasa syukur dihati ini, mengingat suami sejak awal pernikahan kami senantiasa terus memotivasi agar tidak ragu untuk terjun ke dunia wirausaha. Bukan sekedar agar menghasilkan materi lebih, tetapi juga agar dapat berkontribusi lebih dalam membangun ekonomi ummat ini. Wah kalo yang terakhir ini pemaparannya bisa panjang nih, intinya yuk berwirausaha... jangan sampai menyesal 10 tahun kemudian ^_^

*Erlin Karlina
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template