Tampilkan postingan dengan label jual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jual. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Juli 2010

Toko Offline Yang Ada Online-nya Akan Lebih Ramai Pengunjung



Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah postingan email yang saya dapat dari seorang rekan yang sama-sama ikutan dalam sebuah milis. Yaitu milis TDA Bekasi (milisnya komunitas bisnis Tangan Di Atas). Pak Farid Sudigdo namanya. Ia menceritakan pengalamannya megikuti sebuah seminar dengan tema "Sukses Memadukan Bisnis Offline dan Online".

Awal saat mendengar tentang bisnis online, yang terpikir oleh saya adalah berjualan sesuatu di internet. Transaksi pembayaran dilakukan secara transfer atau paypall. Setelah dibayar, pesanan akan dikirim baik melalui jasa ekspedisi jika berbentuk barang atau dikirim dalam bentuk kode / password aktivasi (e-book) melalui email. Setelah membaca tulisan pak Farid tadi saya baru tau deghh manfaat memadukan bisnis offline dan online.

Berikut ini apa yg diceritakannya:
Pak Nukman Luthfie , CEO Virtual Consulting sebagai salah satu pemberi materi di seminar itu bercerita. Bisnis online mulai merebak sejak 2 tahun lalu. Di Amerika sana.....sejak krisis ekonomi melanda, kebiasaan mereka yang langsung pergi belanja ke supermarket dengan memborong apa saja....berubah. Sebelum belanja, mereka akan bikin list barang yang akan dibeli. Setelah itu searching di google / yahoo, check harga dulu & menentukan toko termurah di internet. Baru mereka berangkat ketoko yang dituju.
Masalahnya nggak semua toko murah ada onlinenya juga. Kadang mereka melaju sejauh 2 km dari rumahnya, padahal hanya 500 meter dari rumahnya itu ada toko yang menjual lebih murah. Akibatnya hanya toko offline yang ada online-lah yang ramai pengunjungnya.
Jadi dengan meng online kan toko kita, kita dapat meningkatkan penjualan bisnis offline kita.

Mendengar cerita itu saya jadi teringat pengalaman kami saat ingin beli sebuah HP beberapa saat lalu. Sebelum berangkat ke toko HP (Hand Phone), istri saya searching dulu di internet. Dengan berbekal merek & type tertentu serta niat mencari harga yang lebih murah, dapatlah kita pada sebuah toko di daerah Cililitan. Kalau mau gampang, padahal kita bisa langsung ke daerah Roxy (Jakarta) yang sudah terkenal sebagai pusatnya HP. Kata orang sih disana lengkap & harga bersaing. Atau kalau gak mau repot, cari aja di beberapa pusat HP di daerah Bekasi yg lokasinya gak jauh dari rumah kami yang di Bekasi juga. Dan mungkin aja di Bekasi itu ada yg harganya lebih murah. Alhasil kami meluncur ke toko yang ada didaerah Cililitan tadi. Padahal secara lokasi, kami jarang kearah sana. Bela-belain datang kesana demi mendapat harga yang lebih murah.

Ternyata benar juga tuhh apa yang dikatakan pak Nukman Luthfie... :)

*Yusuf Erlangga

Rabu, 24 Februari 2010

Sukses sebagai Makelar


Dalam sebuah kesempatan, seorang pemuda bertanya kepada seorang motivator.
Dengan pendidikan yang pas-pasan seperti ini, pekerjaan apa yang cocok bagi saya? tanya sang pemuda kepada motivator. Sang pemuda menambahkan keluhannya dengan nada yang kurang semangat. Sudah banyak lamaran yang saya kirim, tapi belum ada yang diterima. Mau usaha sendiri, tapi gak punya modal. Apakah saya masih bisa sukses untuk berkerja atau usaha?

Namanya juga motivator, mendapat pertanyaan seperti itu. Ia justru hanya tersenyum seraya memberi semangat kepada pemuda itu. Ya, semua pasti ada hikmahnya, dan kamu pasti bisa sukses!
Sebagai sebuah solusi, pekerjaan yang paling memungkinkan bagi pemuda itu yaitu menjadi makelar penjualan rumah/tanah atau bergabung bersama agen penjualan properti. Tanpa pendidikan yang tinggi, semua orang pasti bisa asalkan ia bergelar MBA. Hahhhh MBA???? Iya, Modal Bacot Aja (red; bacot=mulut).

Tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi sebagai calon karyawan ataupun dana yang cukup untuk modal usaha, semua orang pasti bisa. Mulai bekerja sendiri sebagai makelar rumah/tanah dengan rajin keliling dengan menawarkan jasanya, ataupun bergabung dengan agen properti yang sudah lebih profesional. Bagaimana pun prosesnya, yang penting legal dan halal.

Saat ia aktif sebagai makelar rumah/tanah ataupun agen properti seperti itu, ia sudah menjadikan dirinya semakin berarti. Ia belajar dan terjun langsung bagaimana cara berkomunikasi dengan banyak orang, bernegoisasi, bersosialisasi, memperluas jaringan, serta tak ketinggalan iapun mendapat penghasilan dari usahanya itu.

Pengasilan dari setiap transaksi yang terjadi biasanya sekitar 1% - 2,5% tergantung perjanjian. Insya Allah penghasilannya tetap menjajikan deh.. Berikut sebagai ilustrasinya:
Anggap aja ia mendapat persentase 1,5% setiap transaksi.
Dalam sebulan ia berhasil hanya melakukan satu kali transaksi.
Dalam setiap transaksinya ia berhasil menjual rumah/tanah sekitar Rp 500 juta.
Jadi penghasilanya adalah: 1,5% x 1 x Rp 500 juta = Rp 7,5 juta.
Sebagai pemula, itu pendapatan yang fantastic bukan? Jika ia bisa konsisten serta berhemat setiap bulannya, dalam setahun ia sudah bisa mengumpulkan modal untuk menjalankan usaha lainnya ataupun tetap meneruskan usahanya sebagai makelar profesional.

Jadi tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi serta tanpa modal usaha yang banyak, kita tetap bisa sukses khannn... Hal tersebut bisa terjadi jika kita bisa mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi, termasuk mengambil hikmah dari kekurangan kita sendiri. Salam sukses!

*Yusuf Erlangga
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template