Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

Nyebur dan Kelelep di Dunia Usaha




Sore itu, diriku terima bbm (blackberry messenger) dari seorang teman lama. Gimana kabarnya pak? Denger-denger usahanya makin maju nihh. Cerita-cerita dong. Itulah isi dari bbm yang terkirim dari temanku yang saat itu tinggal & bekerja di Bandung dan sedangkan aku tinggal di Bekasi. Dengan santainya aku membalas, kalo cerita-cerita sihh gampang. Tapi paling enak, ceritanya sambil ngupi-ngupi bareng di warung kopi nihh. Heheee, asal jawab aja diriku, padahal ngopi dirumah aja jarang banget alias hampir gak pernah apalagi ngopi di warung kopi tuhh. :))

Kapan-kapan dehh. Kalo pak Yusuf main ke Bandung, kasih tau yahh biar kita bisa ketemu. Kali-kali aja saya bisa kejipratan jadi pengusaha juga nihh. Ya, itulah lanjutan komen dari temanku itu yang emang seorang karyawan. Padahal dari dulu bilang pengen jadi entrepreneur tuhh. Jangankan jadi full pengusaha, nyambi-nyambi usaha sambilan aja blom pernah.

Dengan sigap dan santai, aku bilang ke beliau; Kalo mau jadi pengusaha gak perlu nunggu kejipratan dulu. Langsung aja nyeburr burr burr burrr :D Sambil tertawa, iapun bertanya lagi. Tapi... Kalo nyebur, nanti keleleup gak ya???

Nahhh, ngomong-ngomong tentang nyebur dan kelelep aku jadi teringat dengan kisah pak Dahlan Iskan pada sebuah acara yang diselenggarakan komunitas TDA di bulan Januari 2012 lalu. Dahlan Iskan yang merupakan mentri BUMN itu mengatakan bahwa Entrepreneurship itu bisa ditularkan tetapi tidak bisa diajarkan. Sebagai contoh, seorang mahasiswa Master of Business Administration (MBA) sudah tentu mempelajari segala urusan yang berkaitan bisnis. Namun begitu lulus dan mendapat ijazah MBA, belum tentu ia bisa langsung berbisnis. Ya, bisnis butuh proses "penularan", dan itu bisa ditularkan saat langsung action nyebur ke dunia usaha dan bergaul dengan para pengusaha (berkomunitas).

Ok, nyeburnya udah. Kalo kelelep gimana?
Nahh, masih apa kata pak Dahlan Iskan yang merupakan tokoh dari besarnya group media Jawa Pos menjelaskan bahwa semakin muda/dini menghadapi masalah, semakin cepat jatuh, semakin baik. Karena jatuh itu penting, bangkrut itu penting, semua orang yang menjalani bisnis pasti pernah jatuh. Kalau jatuh, bisnisnya masih kecil, maka rasa menyesalnya tidak terlalu besar.

Jadi... kalo udah nyebur, emang kudu sesekali kelelep tuhh. Kalo bisa kelelepnya mumpung masih di pinggir kolam yahh (baru mulai). Dan yang terpenting lagi, saat kelelep itulah saatnya kita bangkit lagi dan segera melanjutkan berenangnya.

Ok, selamat nyebur bagi yang belom ikut menyebur.
Ok, selamat kelelep bagi yang sudah mulai menyebur.
Ok, selamat melanjutkan renangnya bagi yang sudah merasakan kelelep.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 08 November 2011

Karyawanku Berhenti Bekerja



“Bagaimana pendapat anda jika karyawan pada usaha anda tiba-tiba berhenti kerja mengundurkan diri?”. Itulah pertanyaan yang dilontarkan kepada beberapa pelaku usaha UKM dalam sebuah diskusi kelompok kecil. Dan hampir semua peserta diskusi bergumam pertanda bahwa hal tersebut benar-benar merepotkan. Kesannya sihh sepele, ternyata mencari dan merawat karyawan itu sangat sulit khususnya untuk usaha kecil yang baru dibangun.

Pertanyaan berikutnya muncul, “Bagaimana pendapat anda jika karyawan yang mengundurkan diri tersebut, ternyata membuka usaha serupa dengan usaha yang anda jalani?”. Banyak pendapat dari peserta diskusi tersebut. Ada yang kesal karena merasa ilmu/resepnya dicuri, ada yang merasa senang mendapat mitra bisnis baru, ada yang menganggapnya biasa-biasa saja, ada yang berkesan bangga karena mantan karyawannya bisa maju.

Dan yang paling menarik adalah pendapat dari seorang peserta yang mengatakan: bahwa seorang mantan karyawan yang kemudian menjadi rekan bisnis [positif] ataupun menjadi pesaing bisnis [negatif] adalah cerminan diri kita sendiri sebagai pemilik usaha. Karena pembinaan awal yang dia dapatkan saat menjadi karyawan pada usaha kita dahulu berdampak pada apa yang ia lakukan sekarang.

Jadi, yukk kita jadikan karyawan kita saat ini sebagai sahabat/saudara, bukan sekedar sebagai bawahan.

*Yusuf Erlangga

Rabu, 02 November 2011

Libatkan Istri Dalam Berwirausaha



Ngapain nyambi berwirausaha sih pak?
Bapak kan enak udah jadi karyawan tetap, di perusahaan besar lagi tuhh. Gaji lumayan, pensiun dapet, kalo meninggal dapet santunan, dll.
Upss, istrinya juga dilibatkan dalam usahanya yahh? Bukankah mencari nafkah itu tugasnya suami?

Ya, itulah beberapa pertanyaan dan pernyataan dari beberapa kawan saat saya mulai berwirausaha beberapa tahun yang lalu. Sempat terpikir, ihhh benar juga yahh. Ngapain capek-capek berwirausaha ya. Enakan jadi karyawan, gak perlu mikir untung rugi bisnis, bahkan tiap bulan dapat gaji sebagai karyawan.

Disuatu kesempatan akhirnya saya tergugah dari kisah seorang ibu yang baru aja ditinggal suaminya yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja. Kebetulan selama ini ibu tersebut hanyalah seorang ibu rumah tangga yang kebutuhan rumah tangganya dicukupi dari gaji bulanan sang suami. Ia sedih ditinggal suami tercinta sekaligus ia bingung gimana caranya ia tetap dapat melanjutkan hidup bersama anak-anaknya.

Ia sangat sedih, padahal dilain sisi ia baru saja menerima uang santunan yang cukup banyak. Bukan hanya jutaan rupiah, atau puluhan juta, ternyata santunannya berjumlah ratusan juta rupiah. Santunan tersebut berasal dari perusahaan tempat suaminya bekerja, dari program jamsostek, serta dari asuransi jiwa yang mereka ikuti. Disatu sisi ia bersyukur karena mendapat santunan tersebut, disisi lain ia bingung akan diapakan uang sebanyak itu. Yang terpikir olehnya adalah untuk modal usaha agar dapat melanjutkan kehidupannya.

Masukan sana-sini ia terima dari keluarga maupun rekan-rekannya mengenai peluang usaha yang bisa ia kerjakan. Tapi tetap saja ia masih bingung, karena bukan tidak mungkin, alih-alih ingin mendapat untung serta melanjutkan kehidupan dengan berwirausaha, bisa jadi uang santunan yang ia miliki sebagai modal usaha lama-kelamaan justru akan habis.

Ya, itu bisa saja terjadi karena ia selama ini belum pernah mengelola uang untuk berbisnis. Ia sadar betul, jangankan tuk pebisnis pemula, pengusaha yang sudah bertahun-tahun sukses saja bisa mengalami kerugian bahkan bangkrut.

Balik lagi ke pertanyaan kawan saya tadi diawal, kisah itulah yang menjadi alasan mengapa saya berwirausaha dan melibatkan istri dalam membangun usaha. Bukan bermaksud mendahului takdir Allah, setidaknya yang saya lihat dilingkungan selama ini biasanya sang suami lebih dahulu meninggal daripada sang istri. Bilamana hal tersebut juga terjadi pada saya, setidaknya kisah ibu yang "bingung" saat ditinggal suami tadi tidak akan terjadi pada istriku kelak. Aamiin...

Bagaimana dengan anda?
Saat ini anda sebagai karyawan? Jangan segan-segan berwirausaha yukss, dan jangan lupa ajak istri tuk berwirausaha pula yahh.
Atau anda saat ini sudah sebagai pengusaha? Jangan segan-segan tuk libatkan istri dalam menjalankannya yahh.

Ternyata berwirausaha itu bukan hanya sekedar mencari nafkah tuk saat ini lhoo, tetapi juga untuk mempersiapkan "sesuatu" tuk waktu yang akan datang. Sesuatu banget yahh... ^_^

*Yusuf Erlangga

Senin, 08 Agustus 2011

Penyebab Usaha Kuliner Tutup



Setelah setahun lebih usaha warung soto kami ditutup, baru-baru ini kami jadi teringat kira-kira penyebabnya apa aja ya??? Lumayan, biar bisa jadi pelajaran tuk usaha kami sebagai produsen cloth diapers (popok cuci ulang) yang lagi berjalan nihh. Padahal dulu pelanggan warung soto kami lumayan lhoo (hehehee, menghibur diri). Tak hanya ramai diawal-awalnya saja, beberapa pelanggan telah mampir tuk makan secara rutin lhoo. Bahkan beberapa artis terlihat pernah mampir di warung kecil kami (Polo Srimulat, Toro Margen, Boim Kribo, dll).

Penyebabnya apa hayo??? Ya, yang pasti ditutup dikarenakan pemasukan yang diterima tiap bulannya lebih kecil dari pengeluaan yang harus dikeluarkan. Ada beberapa point yang bisa kami simpulkan, walau bukan bermaksud untuk pembenaran/pembelaan lhoo. Buktinya, orang lain yang menjalankan usaha sejenis bisa sukses koq..

Kemungkinan pertama, usaha kuliner yang tak hanya sekedar menjual makanan karena pelayanan juga diutamakan itu gak bisa diserahkan begitu saja ke orang lain. Terlebih-lebih jika usaha kuliner tersebut baru dirintis. Ya, karena kami sebagai ownernya tidak ada setiap saat dilokasi (maklum, saat itu hanya sebagai bisnis sambilan bagi kami yang masih berstatus karyawan).

Kemungkinan penyebab kemunduran berikutnya adalah dikarenakan saat itu kami harus pindah kios yang dikarenakan kami tidak bisa bayar sewa kios tuk tahun kedua (kebetulan sewa tempatnya naik). Alhasil kami pindah kesebelahnya ke kios yang lebih kecil dan sewa tempatnya lebih murah.

Ditempat yang lebih kecil inilah, pengunjung yang ada menjadi lebih sedikit. Ya, karena tempatnya relatif menjadi kurang nyaman dibanding ditahun yang pertama sebelumnya itu. Ditahun ketiga kamipun pindah kebelakang dari tempat yang kecil itu ketempat yang lebih besar (luasnya sama seperti ditempat yang tahun pertama) tapi lokasinya lebih masuk kedalam (tidak persis dipinggir jalan raya). Maksudnya sihh biar tempatnya lebih nyaman, tapi ternyata tak bisa mendatangkan pelanggan yang positif karena posisinya kurang strategis.

Karena pengunjungnya yang mampir lebih sedikit, alhasil banyak stock makanan kami yang tidak laku terjual. Sehingga beberapa kali sajian makanan yang telah dibuat, harus dibuang karena basi. Bahkan beberapa item makanan yang tidak laku pada hari itu harus kami hangatkan kembali tuk esok harinya (goreng-gorengan, sate-satean, dll). Emang secara rasa tidak berubah, tapi secara tampilan menjadi berkurang nilainya. Kemungkinan, inilah penyebab ketiga yang lambat laun warung soto kami menjadi makin ditinggalkan pelanggan.

Ingat, itu beberapa kemungkinan penyebab kemunduran di usaha kami lhooo. Bisa jadi sama penyebabnya dengan usaha lain yang tutup atau bahkan tidak terbukti diusaha lainnya.

Jadi saran kami tuk para pelaku usaha kuliner khususnya yang baru berjalan/dirintis, pastikan kita bisa langsung memegangnya. Termasuk mengatur cachflow agar bisa membayar uang sewa pada tahun berikutnya.
Pastikan pula, makanan yang disajikan hari ini benar-benar layak secara rasa maupun tampilannya (usahakan bukan makanan yang kemaren dihangatkan kembali). Jadi atur jumlah menu yang akan disiapkan tiap harinya (usahakan tidak terlalu berlebih). Dan terakhir, pastikan lokasi usaha kita itu strategis (khususnya tuk usaha yang benar-benar baru dirintis), atau minimal tempatnya nyaman bagi pelanggan.

Wallahu'alam, semoga bisa diambil hikmahnya aghh...

*Yusuf Erlangga

Minggu, 22 Mei 2011

Menolong. Siapa, Kapan, dan Dimana?



Subhanallah, kirain dikota besar seperti di Jakarta dan sekitarnya, orang-orangnya cuek atau kurang peduli terhadap sesama. Ternyata masih ada lho yang gemar menolong. Itulah ungkapanan hatiku setelah kejadian di suatu sore.

Ceritanya sore itu saya mau menuju Bandara Soekarno Hatta tuk menjemput saudara. Saat di tol Sedyatmo (dekat bandara) tuk membayar tol, saya ambil jalur GTO (gardu tol otomatis) dengan rencana menggunakan e-toll card sebagai alat pembayarannya. Melalui GTO, maksudnya biar lebih cepat sihh, egh malah lambat nihh. Ternyata entah kenapa, e-tollCard yang saya punya tidak berfungsi. Kalo ada masalah di GTO, menurut pengalamanku biasanya sih ada petugas yang mendekati tuk membantu memastikan masalahnya. Tapi saat itu petugasnya sedang tidak ada.

Waduhh gimana nihh??? Bukan masalah bayarnya sih (Rp 5.000,-), tapi repot balik lagi pindah gerbang dan malunya niyy. heheeee :(
Karena e-tollCardnya tetap gak bisa dipakai, akhirnya saya putuskan mau mundur aja deghh. Mobil yang antri dibelakang juga sudah mundur pindah ke GTO sebelah. Mobilku belum sempat mundur, tiba-tiba dari arah GTO sebelah ada orang yang menghampiri kita. Disinilah kejadian langka ini terjadi. Orang tersebut ternyata menggesekan e-tollCard miliknya kearah alat yang ada di GTO jalur saya berada. Alhasil palang pintu otomatis yang ada didepan jalur kendaraan saya bisa terbuka. Wowww, berarti orang tersebut membayarkan biaya tol kendaraan kami tuhhh. Ehmmm, ini bukan masalah biayanya (Rp 5.000,-), tapi ini masalah kepedulian orang tersebut (yang sebenarnya ini bisa dianggap sebagai suatu hal yang sepele sihh). Beliau dengan relanya turun dari kendaraannya tuk menolong kita. Padahal mobilnya sudah lewat didepan sana lhoo.

Sesaat setelah menggesekan e-tollCard miliknya sehingga palang pintu didepan kami terbuka, ia langsung berjalan kembali menuju mobilnya. Beberapa detik saya sempat terbengong-bengong kebingungan. "Ada apa ini? Siapa dia? Koq bisa ya?". Dan yang membuat saya menyesal, saya belum sempat mengucapkan "terima kasih" kepadanya. Kepada seorang bapak yang menggunakan mobil hitam #B1728CV, saya ucapkan terima kasih yang sangat mendalam.

Ya, bapak itulah yang menolong saya... Pengguna mobil #B1728CV, anda telah memberi pelajaran bagi saya apa itu arti #menolong. Ternyata menolong itu bisa kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Sekali lagi, semoga amal usaha anda diterimaNya dan urusan anda selalu dimudahkan ya pak... Anda telah memberi pelajaran bagi saya apa itu arti #menolong. Teori tentang #menolong sih tau, yang menjadi masalah adalah apakah kita juga bisa mencontoh tuk mempraktekannya seperi bapak itu gak ya??

*Yusuf Erlangga

Minggu, 20 Juni 2010

Aneka Ragam Manfaat Saat Ikut FESTIVAL WIRAUSAHA BEKASI

Setelah beberapa bulan dipersiapkan, Alhamdulillah kegiatan Festival Wirausaha Bekasi berhasil juga dilaksanakan hari Sabtu-Ahad 12-13 Juni 2010 di Bekasi Square. Kalo menurut sebagian besar yang hadir sebagai peserta maupun panitia, acara itu benar2 sukses dan bermanfaat bagi yang hadir maupun lingkungan sekitar. Hahhh, koq juga bagi lingkungan sekitar? Bagaimana gak bermanfaat, gara2 acara tersebut disekitar lokasi jadi ramai dan para pedagang kebagian rezeki deghh. Dan diakhir acara tersebut, terkupul dana 8 juta rupiah lebih dari hasil sedekah spontan yg difasilitasi oleh pembicara yg akan disalurkan kpd yg membutuhkan.

Festival Wirausaha Bekasi??? Itu acara apaan sih?
Acara tersebut merupakan sebuah acara yg diselenggarakan oleh sebuah komunitas bisnis yang bernama TDA Bekasi (Tangan Di Atas) dalam rangka memperingati milad (ulang tahun)nya yg pertama. Kegiatan tersebut benar2 multi manfaat, karena memiliki aneka ragam kegiatan. Mulai dari seminar, talkshow, workshop, bazar, sampai ada juga acara lomba2 untuk anak TK & SD.

Yang lebih dahsyat, acara yg diselenggarakan oleh TDA Bekasi tersebut bukan hanya bermanfaat bagi membernya. Namun masyarakat umum yg sebelumnya belum tau apa itu TDA, saat hadir sebagai peserta mereka benar2 mendapat manfaat yang sungguh luar biasa.

Begitupun juga saya yang juga banyak mendapat maanfaat, emang sihh saya sudah bergabung sbg member walau hanya lewat milis/website resminya beberapa bulan sebelumnya. Dan yang luar biasa bagi saya, walaupun baru terdaftar beberapa bulan namun rekan2 (pengurus) di TDA Bekasi sangat bersahabat & terbuka. Hal tersebut terbukti dengan diizinkannya saya bergabung tuk bantu2 sebagai panitia di acara tersebut. Di acara tsb saya diamanahi bantu2 di Sie.Acara. Mulai ngurusin bagi2 tempat tuk peserta bazar, lari sana-sini sbg penghubung antara MC & panitia lainnya, kadang2 jg berperan sbg co-host, serta ngisi acara yg menampilkan games hikmah (hiburan sulap).

Di acara yg diselenggarakan selama 2 hari tersebut Alhamdulillah saya bisa berpartisipasi sebagai peserta, sebagai panitia, maupun sebagai peserta bazar. Bisa dibayangkan deghh, betapa sibuknya saya sampai2 besoknya agak KO (baca: lelah).

Tapi puji syukur Alhamdulillah, manfaatnya gak sedikit degh...
Mendapat ilmu dari para pembicara Seminar,
Mendapat sharing pengalaman dari para narasumber Talkshow,
Mendapat resep dari para fasilitator Workshop,
Mendapat bakal calon mitra bagi usaha kami yg ikutan bazar,
Mendapat kesempatan bersilaturahim dengan para pengusaha sukses (sesepuh TDA),
dan mendapat aneka manfaat lainnya.

Kalo kita sungguh-sungguh dan ikhlas mengerjakan sesuatu tuk kepentingan bersama, Insya Allah akan ada berkah dibaliknya deghh... :))

*Yusuf Erlangga

Berikut, sekilas laporan pandangan mata.
Saat berpose dipanggung bersama panitia

Saat mendampingi pak Haji Alay (sesepuh TDA) mengunjungi stand bazar

Saat berpartisipasi mengisi acara games hikmah (hiburan sulap)

Minggu, 04 April 2010

I'm Back !!

Arghhh.... alhamdulillah akhirnya.... I'm back!!
Setelah sekian waktu ku tak sudi berlama2 menyentuh blog, email, facebook, dan kawan-kawannya...
Setelah sekian waktu kubiarkan suamiku berjuang sendiri menghidupkan blog kami ini...
Setelah sekian waktu ku izinkan diriku untuk inkonsisten dengan tekadku ku sendiri...

Akhirnya balik lagi nih nulis... ^_^
Pergi beberapa waktu lamanya, baliknya bawa kabar gembira koq.
Alhamdulillah, insyaAllah fathan akan punya adik. Yup, kehamilan kedua nih. Minggu ini insyaAllah sudah 16 minggu menurut dokter. Ngidamnya ternyata emoh nge-blog ^_^. Sekedar blog-walking aja jarang bangetss... Padahal kalo dilihat dari tulisan terakhir, niatnya mo rajin nulis, sampe-sampe buat blog juga di blogspot ini (sebelumnya hanya ada di multiply). Hehehe... jadi malu *_*

Tapi... ada senangnya, bahan buat isi blog nambah nih... bakalan rajin nulis seputar kehamilan kayaknya.... ^_^v


*Erlin Karlina

Kamis, 01 April 2010

Prinsip 3B ala Sopir Taksi


Dalam suatu kesempatan, seorang Ustad bertanya kepada seorang sopir taksi yang selalu terlihat qona'ah dalam mencari nafkah di kesehariannya. Apa sih resep anda selalu terlihat tenang, senang, gembira dalam menjalani hidup ini khususnya sebagai sopir taksi? tanya sang Ustad. Usut punya usut, ternyata si sopir taksi itu mempunyai prinsip 3B dalam kesehariaanya sebagai sopir taksi.

B yang pertama adalah selalu BERSYUKUR saat ia pulang kerumah dan mendapatkan rezeki lebih dari target setoran harian.
Lalu B yang kedua adalah BERSYUKUR bilamana ia hanya mendapat rezeki yang pas-pasan untuk menutupi setoran harian.
Serta B yang ketiga teryata tetap BERSYUKUR bilamana ia harus pulang tanpa mendapat rezeki sama sekali bahkan harus menutup uang setoran harian.

Bersyukur yang pertama karena ia mendapat limpahan rezeki berlebih dari Allah, dan sewajarnya itu harus dilakukan setiap saat.
Bersyukur yang kedua karena ia dapat menutupi setoran harian sebagai kewajiban sebagai sopir taksi kepada perusahaan tanpa harus menombok atau merugi.
Bersyukur yang ketiga karena ia dapat pulang dengan selamat sampai dirumah walau tanpa harus membawa penghasilan, dimana disaat yang lain ada kemungkinan para sopir taksi yang tidak selamat karena kecelakaan ataupun menjadi korban kejahatan.

Subhanallah, ternyata prinsip 3B tersebut benar2 sederhana nih. Hanya Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Dalam agama Islam sopir taksi itu benar2 telah qona'ah seperti kata Ustad diatas. Apa sih Qona'ah itu? Menurut sumber berikut disini

Qona’ah artinya ridlo dengan segala pemberian yang menjadi keputusan Allah, karenanya hidupnya sangat tenang dan damai. Menurut Al Ghazali, orang qona’ah adalah orang yang merasa kaya meskipun tidak kaya, dirinya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah kepadanya, ia tidak mau tergiur mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati, ia menjadi merdeka karena ridlo (menerima apa adanya) segala keputusan Allah.
Dalam beberapa riwayat, Rasululloh bersabda “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa” ( Hr.Tabrani). Qona’ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tak akan lenyap ( Hr.Tabrani)

Sebagai bagian dalam sebuah keluarga, apakah kita sudah qona'ah menjalani hidup sebagai anak, ayah, ibu, suami, ataupun istri?
Sebagai bagian dalam sebuah kewirausahaan, apakah kita sudah qona'ah akan hasil2 yang telah kita dapat dalam membangun & menjalani sebuah usaha?
Semoga dengan adanya qona'ah dalam keseharian hidup kita, dapat menjadikan semangat hidup dalam menjalani kehidupan kita ini. Amin...

*Yusuf Erlangga

Rabu, 24 Februari 2010

Sukses sebagai Makelar


Dalam sebuah kesempatan, seorang pemuda bertanya kepada seorang motivator.
Dengan pendidikan yang pas-pasan seperti ini, pekerjaan apa yang cocok bagi saya? tanya sang pemuda kepada motivator. Sang pemuda menambahkan keluhannya dengan nada yang kurang semangat. Sudah banyak lamaran yang saya kirim, tapi belum ada yang diterima. Mau usaha sendiri, tapi gak punya modal. Apakah saya masih bisa sukses untuk berkerja atau usaha?

Namanya juga motivator, mendapat pertanyaan seperti itu. Ia justru hanya tersenyum seraya memberi semangat kepada pemuda itu. Ya, semua pasti ada hikmahnya, dan kamu pasti bisa sukses!
Sebagai sebuah solusi, pekerjaan yang paling memungkinkan bagi pemuda itu yaitu menjadi makelar penjualan rumah/tanah atau bergabung bersama agen penjualan properti. Tanpa pendidikan yang tinggi, semua orang pasti bisa asalkan ia bergelar MBA. Hahhhh MBA???? Iya, Modal Bacot Aja (red; bacot=mulut).

Tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi sebagai calon karyawan ataupun dana yang cukup untuk modal usaha, semua orang pasti bisa. Mulai bekerja sendiri sebagai makelar rumah/tanah dengan rajin keliling dengan menawarkan jasanya, ataupun bergabung dengan agen properti yang sudah lebih profesional. Bagaimana pun prosesnya, yang penting legal dan halal.

Saat ia aktif sebagai makelar rumah/tanah ataupun agen properti seperti itu, ia sudah menjadikan dirinya semakin berarti. Ia belajar dan terjun langsung bagaimana cara berkomunikasi dengan banyak orang, bernegoisasi, bersosialisasi, memperluas jaringan, serta tak ketinggalan iapun mendapat penghasilan dari usahanya itu.

Pengasilan dari setiap transaksi yang terjadi biasanya sekitar 1% - 2,5% tergantung perjanjian. Insya Allah penghasilannya tetap menjajikan deh.. Berikut sebagai ilustrasinya:
Anggap aja ia mendapat persentase 1,5% setiap transaksi.
Dalam sebulan ia berhasil hanya melakukan satu kali transaksi.
Dalam setiap transaksinya ia berhasil menjual rumah/tanah sekitar Rp 500 juta.
Jadi penghasilanya adalah: 1,5% x 1 x Rp 500 juta = Rp 7,5 juta.
Sebagai pemula, itu pendapatan yang fantastic bukan? Jika ia bisa konsisten serta berhemat setiap bulannya, dalam setahun ia sudah bisa mengumpulkan modal untuk menjalankan usaha lainnya ataupun tetap meneruskan usahanya sebagai makelar profesional.

Jadi tanpa latar belakang pendidikan yang tinggi serta tanpa modal usaha yang banyak, kita tetap bisa sukses khannn... Hal tersebut bisa terjadi jika kita bisa mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi, termasuk mengambil hikmah dari kekurangan kita sendiri. Salam sukses!

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 06 Februari 2010

Matematika Sedekah

Dalam suatu kesempatan, Ust. Yusuf Mansur memberi sedikit ilustrasi hitung-hitungan yang ia sering sebut "matematika sedekah".

Kalo dalam matematika biasa, 10 - 1 = 9, Nah dalam
matematika sedekah hasilnya = minimal 19.

Lhoo koq bisa?
Masih ingat Al-Qur’an Surat Al An ‘aam, Ayat: 160? Dimana Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang mau berbuat baik. Bahkan di dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah, Ayat: 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 kali lipat.

Nahh, kalo kita mau kaya dunia-akhirat, yakinlah akan janji Allah tsb.
Contoh balasan minimal 10 kali lipat spt brkt:
Kalo kita punya penghasilan(gaji) Rp 1.000.000 sebulan, coba sisihkan 2,5%nya maka uang kita bukannya tinggal Rp 975.000 (1.000.000 – 25.000 = 975.000), namun menjadi Rp 1.225.000 (1.000.000 – 25.000 = 975.000 + (25.000 x 10) = 1.225.000).

Apalagi kalo kita menyedekahkannya bukan hanya 2,5% tapi hingga 10% atau lebih.
Ilustrasinya:
1.000.000 - 2,5%nya = 1.225.000
1.000.000 - 10%nya = 1.900.000
1.000.000 - 20%nya = 2.800.000
1.000.000 - 30%nya = 3.700.000
1.000.000 - 40%nya = 4.600.000
1.000.000 - 50%nya = 5.500.000
1.000.000 - 60%nya = 6.400.000
1.000.000 - 70%nya = 7.300.000
1.000.000 - 80%nya = 8.200.000
1.000.000 - 90%nya = 9.100.000
1.000.000 - 100%nya = 10.000.000

Insya Allah...

*Yusuf

Kamis, 04 Februari 2010

Siap Menghadapi Komplain

Saat menggunakan kendaraan roda empat di pagi hari menuju kantor, mendengar radio (red: Dakta 107FM) adalah pilihan utama tuk menemani perjalanan bagiku. Dipagi itu ada seorang pendengar yang online via radio tuk menyampaikan keluhan terhadap pelayanan PLN yg merupakan perusahan publik yg menangani listrik masyarakat. Sebenarnya tidak mengagetkan atas informasi itu, karena di radio tsb sudah biasa menampung keluhan masyarakat, terlebih yg dikomplain berkaitan dng pelayaanan publik.

Tetapi yang menarik bagi saya adalah cara penyampaian yang santun dan terlihat legowo yang disampaikan Bu Yahya sang pendengar radio yang sdg mengeluh tsb. Hal tsb agak jarang terjadi, karena biasanya yang sering kita dengar adalah sang penelpon di radio lebih menyalahkan pihak yang sedang ia komplain. Hal tersebut bs terjadi entah karena Bu Yahya memiliki sifat & kepribadian yg baik atau karena pihak PLN yg telah berhasil mengakomodir dengan baik keluhan dari pelanggannya yg telah dirugikan tsb.

Apapun alasannya, hal tersebut menjadi pelajaran bagi saya dan kita semua khususnya yang bekerja ataupun berusaha di bidang pelayanan, terlebih yang berhubungan langsung dengan masyarakat.
Thank's Bu Yahya...

*Yusuf Erlangga

Selasa, 02 Februari 2010

Mau Menuai Hasil Wirausaha? Tunggu 10 Tahun lagi!!


Maksud judul diatas apa ya??? ^_^

Alhamdulillah ahad kemarin ada seorang sahabat yang cukup senior (seorang ibu dengan 4 putra) datang bersilaturahim ke rumah kami. Banyak juga yang kami perbincangkan dalam kunjungan beliau tersebut. Selain dalam rangka menawarkan beberapa paket buku untuk anak yang sangat bagus isinya dan juga harganya :P, kami banyak berbincang mengenai dunia usaha.

Saya masih terbayang sekali wajah penyesalannya ketika ia menceritakan bahwa dulu ia sempat menolak berwirausaha. Saat itu, ketika belum lama menikah ia ditawari oleh keluarganya untuk membangun sebuah usaha. Rupanya keluarga besar beliau memang sudah banyak terjun di dunia wirausaha. Saat itu, beliau ditawarkan untuk membangun sebuah optik oleh ayahnya. Ya optik, karena beliau lulusan akademi optik dan sang ayah pun memiliki sebuah optik. Jadi sangat wajar jika penawaran itu datang.

Namun dengan alasan tidak mau "kenal uang" terlalu jauh ia putuskan menolak tawaran itu. Ia tidak mau hanyut dalam materi jika berjalan di dunia wirausaha, sebagaimana atmosfer yang ia rasakan dalam keluarga besarnya. Baginya, keluarganya saat itu memandang hidup ini hanya dagang, dagang, dan dagang...itu saja. Hingga dibenaknya muncul kekhawatiran akan nasib pendidikan putra-putrinya, curahan kasih sayang kepada mereka, dan lain sebagainya, apabila beliau ikut berwirausaha. Beliau tidak mau itu terjadi.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, ketika tuntutan hidup semakin besar dan ketika anak-anak mulai besar, beliau pun berpikir ulang, beliau kini melihat bahwa dunia wirausaha dapat dijadikan pegangan. Beliau pun aktif mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Dari pelatihan-pelatihan itulah beliau mendapat banyak informasi dan pengalaman yang dapat dipetik hikmahnya.

Sebuah catatan yang beliau sampaikan kepada saya sebagai hasil mengikuti berbagai pelatihan itu adalah mengenai konsistensi dalam menjalankan usaha. Sebuah usaha (apapun jenis usaha yang kita bangun) baru dapat dikatakan teruji apabila telah melewati kurun waktu lima tahun. Disanalah halang rintangan akan terus menghadang. Dan tambahnya lagi, sebuah usaha barulah dapat dipetik hasilnya, apabila telah berjalan selama 10 tahun dengan konsisten, apapun jenis usahanya.

Dari catatan tersebut itulah beliau menyesal, seandainya saja ketika baru menikah dulu beliau sigap menerima tawaran ayahnya untuk berwirausaha, maka saat ini tentunya beliau tinggal menuai keberhasilan dari usahanya itu. Tepat disaat anak-anak sudah memerlukan dukungan materi lebih, terutama dalam hal pendidikannya. Beliau sadari betul, kekhawatiran yang muncul dulu ketika ditawarkan menjalankan usaha sesungguhnya dapat diatasi dengan cerdas.

Saya pun hanya termangu mendengar pemaparannya. Ada sedikit rasa syukur dihati ini, mengingat suami sejak awal pernikahan kami senantiasa terus memotivasi agar tidak ragu untuk terjun ke dunia wirausaha. Bukan sekedar agar menghasilkan materi lebih, tetapi juga agar dapat berkontribusi lebih dalam membangun ekonomi ummat ini. Wah kalo yang terakhir ini pemaparannya bisa panjang nih, intinya yuk berwirausaha... jangan sampai menyesal 10 tahun kemudian ^_^

*Erlin Karlina
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template