Tampilkan postingan dengan label bangkrut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bangkrut. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

Nyebur dan Kelelep di Dunia Usaha




Sore itu, diriku terima bbm (blackberry messenger) dari seorang teman lama. Gimana kabarnya pak? Denger-denger usahanya makin maju nihh. Cerita-cerita dong. Itulah isi dari bbm yang terkirim dari temanku yang saat itu tinggal & bekerja di Bandung dan sedangkan aku tinggal di Bekasi. Dengan santainya aku membalas, kalo cerita-cerita sihh gampang. Tapi paling enak, ceritanya sambil ngupi-ngupi bareng di warung kopi nihh. Heheee, asal jawab aja diriku, padahal ngopi dirumah aja jarang banget alias hampir gak pernah apalagi ngopi di warung kopi tuhh. :))

Kapan-kapan dehh. Kalo pak Yusuf main ke Bandung, kasih tau yahh biar kita bisa ketemu. Kali-kali aja saya bisa kejipratan jadi pengusaha juga nihh. Ya, itulah lanjutan komen dari temanku itu yang emang seorang karyawan. Padahal dari dulu bilang pengen jadi entrepreneur tuhh. Jangankan jadi full pengusaha, nyambi-nyambi usaha sambilan aja blom pernah.

Dengan sigap dan santai, aku bilang ke beliau; Kalo mau jadi pengusaha gak perlu nunggu kejipratan dulu. Langsung aja nyeburr burr burr burrr :D Sambil tertawa, iapun bertanya lagi. Tapi... Kalo nyebur, nanti keleleup gak ya???

Nahhh, ngomong-ngomong tentang nyebur dan kelelep aku jadi teringat dengan kisah pak Dahlan Iskan pada sebuah acara yang diselenggarakan komunitas TDA di bulan Januari 2012 lalu. Dahlan Iskan yang merupakan mentri BUMN itu mengatakan bahwa Entrepreneurship itu bisa ditularkan tetapi tidak bisa diajarkan. Sebagai contoh, seorang mahasiswa Master of Business Administration (MBA) sudah tentu mempelajari segala urusan yang berkaitan bisnis. Namun begitu lulus dan mendapat ijazah MBA, belum tentu ia bisa langsung berbisnis. Ya, bisnis butuh proses "penularan", dan itu bisa ditularkan saat langsung action nyebur ke dunia usaha dan bergaul dengan para pengusaha (berkomunitas).

Ok, nyeburnya udah. Kalo kelelep gimana?
Nahh, masih apa kata pak Dahlan Iskan yang merupakan tokoh dari besarnya group media Jawa Pos menjelaskan bahwa semakin muda/dini menghadapi masalah, semakin cepat jatuh, semakin baik. Karena jatuh itu penting, bangkrut itu penting, semua orang yang menjalani bisnis pasti pernah jatuh. Kalau jatuh, bisnisnya masih kecil, maka rasa menyesalnya tidak terlalu besar.

Jadi... kalo udah nyebur, emang kudu sesekali kelelep tuhh. Kalo bisa kelelepnya mumpung masih di pinggir kolam yahh (baru mulai). Dan yang terpenting lagi, saat kelelep itulah saatnya kita bangkit lagi dan segera melanjutkan berenangnya.

Ok, selamat nyebur bagi yang belom ikut menyebur.
Ok, selamat kelelep bagi yang sudah mulai menyebur.
Ok, selamat melanjutkan renangnya bagi yang sudah merasakan kelelep.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 06 Desember 2011

Usaha Gagal Karena Pemasaran



Benar kata orang, bagian pemasaran merupakan ujung tombak dalam sebuah organisasi bisnis. Bukan bermaksud mengenyampingkan bagian lain dalam sebuah perusahaan seperti bagian produksi, keuangan, SDM, dll, tapi bagian pemasaranlah yang berhadapan langsung dengan konsumen. Dan salah satu inti dari kegiatan pemasaran itu adalah memahami konsumen.

Pantesan pemasaran itu cukup penting, ternyata banyak usaha yang gagal atau bangkrut justru dikarenakan tidak kuatnya pada bidang itu lhoo. Dan sebagian besar penyebab kegagalan usaha tadi adalah karena sipelaku usaha tidak dapat memahami apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen.

Lalu, apa saja sihh yang membuat bidang pemasaran tersebut disebut gagal. Nahh, ini dia beberapa penyebabnya:

1. Tekanan tuk mendapat hasil jaka pendek (transaksi penjualan)

Hal ini sering terjadi pada bisnis yang menerapkan target reward & punishment kepada team salesnya. Atau bisa jadi sang pebisnis yang memiliki orientasi uang karena berkaitan dengan cashflow tuk usahanya ataupun tuk kebutuhan keluarganya.
2. Merasa sudah tau apa yang dibutuhkan & diinginkan konsumen
Hal inilah yang terkadang menjadi penyakit seorang pebisnis, kita seakan serba tau semua kebutuhan & keinginan konsumen. Sehingga terkadang semua konsumen dianggap sama kebutuhan & keinginannya.
3. Kurang aktif berkomunikasi & merespon konsumen
Saat ada kepuasan mengenai produk/jasa kita dari konsumen, kita pasti langsung merasa bahagia dan segera mengucapkan terima kasih. Justru saat ada keluhan/kritikan mengenai produk/jasa yang kita punya, justru seringnya kita menghindar atau lambat merespon.
4. Ekspetasi berlebihan terhadap produk/jasa kita
Banyak pebisnis yang merasa produk/jasa miliknya sudah sempurna, atau bahkan merasa yang terbaik dibanding dengan kompetitor. Padahal kenyataannya terkadang berbanding terbalik dipandang oleh konsumen.
5. Merasa bahwa segmentasi pasar itu tidak penting
Karena segmentasi pasarnya terlalu luas, justru ini akan menghaburkan energi & biaya kita tuk hal tersebut. Emang sihh, semua orang itu adalah konsumen potensial. Justru dengan segmentasi inilah, kita bisa beda dibanding dengan kompetitor.
6. Merasa biaya promosi itu sebagai pemborosan
Pemasaran berkaitan erat dengan promosi. Disinilah banyak media yang dapat digunakan. Ya, seperti membuat iklan hingga mengadakan event-event promosi. Terkadang banyak pebisnis yang pelit menganggarkan untuk poin ini, sehingga yang ingin disampaikan tidak mengena.

So, apakah bisnis kita masih memiliki kelemahan pada salah satu poin tadi? Atau jangan-jangan semua poin tadi ada pada bisnis kita? Ehmm, ayo segera kita rubah & hindari yuksss!!!

*Yusuf Erlangga

Senin, 08 Agustus 2011

Penyebab Usaha Kuliner Tutup



Setelah setahun lebih usaha warung soto kami ditutup, baru-baru ini kami jadi teringat kira-kira penyebabnya apa aja ya??? Lumayan, biar bisa jadi pelajaran tuk usaha kami sebagai produsen cloth diapers (popok cuci ulang) yang lagi berjalan nihh. Padahal dulu pelanggan warung soto kami lumayan lhoo (hehehee, menghibur diri). Tak hanya ramai diawal-awalnya saja, beberapa pelanggan telah mampir tuk makan secara rutin lhoo. Bahkan beberapa artis terlihat pernah mampir di warung kecil kami (Polo Srimulat, Toro Margen, Boim Kribo, dll).

Penyebabnya apa hayo??? Ya, yang pasti ditutup dikarenakan pemasukan yang diterima tiap bulannya lebih kecil dari pengeluaan yang harus dikeluarkan. Ada beberapa point yang bisa kami simpulkan, walau bukan bermaksud untuk pembenaran/pembelaan lhoo. Buktinya, orang lain yang menjalankan usaha sejenis bisa sukses koq..

Kemungkinan pertama, usaha kuliner yang tak hanya sekedar menjual makanan karena pelayanan juga diutamakan itu gak bisa diserahkan begitu saja ke orang lain. Terlebih-lebih jika usaha kuliner tersebut baru dirintis. Ya, karena kami sebagai ownernya tidak ada setiap saat dilokasi (maklum, saat itu hanya sebagai bisnis sambilan bagi kami yang masih berstatus karyawan).

Kemungkinan penyebab kemunduran berikutnya adalah dikarenakan saat itu kami harus pindah kios yang dikarenakan kami tidak bisa bayar sewa kios tuk tahun kedua (kebetulan sewa tempatnya naik). Alhasil kami pindah kesebelahnya ke kios yang lebih kecil dan sewa tempatnya lebih murah.

Ditempat yang lebih kecil inilah, pengunjung yang ada menjadi lebih sedikit. Ya, karena tempatnya relatif menjadi kurang nyaman dibanding ditahun yang pertama sebelumnya itu. Ditahun ketiga kamipun pindah kebelakang dari tempat yang kecil itu ketempat yang lebih besar (luasnya sama seperti ditempat yang tahun pertama) tapi lokasinya lebih masuk kedalam (tidak persis dipinggir jalan raya). Maksudnya sihh biar tempatnya lebih nyaman, tapi ternyata tak bisa mendatangkan pelanggan yang positif karena posisinya kurang strategis.

Karena pengunjungnya yang mampir lebih sedikit, alhasil banyak stock makanan kami yang tidak laku terjual. Sehingga beberapa kali sajian makanan yang telah dibuat, harus dibuang karena basi. Bahkan beberapa item makanan yang tidak laku pada hari itu harus kami hangatkan kembali tuk esok harinya (goreng-gorengan, sate-satean, dll). Emang secara rasa tidak berubah, tapi secara tampilan menjadi berkurang nilainya. Kemungkinan, inilah penyebab ketiga yang lambat laun warung soto kami menjadi makin ditinggalkan pelanggan.

Ingat, itu beberapa kemungkinan penyebab kemunduran di usaha kami lhooo. Bisa jadi sama penyebabnya dengan usaha lain yang tutup atau bahkan tidak terbukti diusaha lainnya.

Jadi saran kami tuk para pelaku usaha kuliner khususnya yang baru berjalan/dirintis, pastikan kita bisa langsung memegangnya. Termasuk mengatur cachflow agar bisa membayar uang sewa pada tahun berikutnya.
Pastikan pula, makanan yang disajikan hari ini benar-benar layak secara rasa maupun tampilannya (usahakan bukan makanan yang kemaren dihangatkan kembali). Jadi atur jumlah menu yang akan disiapkan tiap harinya (usahakan tidak terlalu berlebih). Dan terakhir, pastikan lokasi usaha kita itu strategis (khususnya tuk usaha yang benar-benar baru dirintis), atau minimal tempatnya nyaman bagi pelanggan.

Wallahu'alam, semoga bisa diambil hikmahnya aghh...

*Yusuf Erlangga
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template