Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peluang usaha. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Shoutmix tidak lagi gratis, Idealisme vs Bisnis??



Sudah hampir 2 tahun ini ecokiddy.com menggunakan jasa Shoutmix agar dapat langsung chat dengan pengunjungnya, alhamdulillah selama ini lancar-lancar aja tanpa kendala. Fasilitasnya memuaskan dan yang terpenting adalah itu semua GRATIS (hampir semua orang pasti happy kalo dengar kata yang satu ini kan ^_^). Hal inilah penyebab terbesar hingga akhirnya per 1 Januari 2012, Shoutmix memutuskan untuk tidak memberikan layanan gratis lagi.

Kalo dari penjelasan sang pendiri, Snecx Tan, Shoutmix sudah bertahan selama 7 tahun sejak didirikan, termasuk dengan layanan gratisnya. Selama kurun waktu tersebut, rupanya banyak hal yang sudah dilalui Shoutmix. Dengan Versi pertama-nya, dalam usia 1 tahun Shoutmix hampir bangkrut (mungkin akibat sedikitnya jumlah pelanggan paket berbayar).

Sehingga setelah itu dilakukan perbaikan disana-sini, hingga muncul Versi kedua yang ternyata disukai banyak orang, jumlah pelanggan paket berbayar semakin banyak dan tentunya jumlah pelanggan paket gratisan apalagi... (pelanggan gratisan ini ya seperti ecokiddy.com, jadi malu... *blushing*).

Berkembang sedemikian pesat hingga dimunculkan Versi ketiga-nya dibulan November 2011, dan apa yang terjadi? semakin banyak orang yang menyukai Shoutmix, dalam 1 hari bisa ribuan orang mendaftar untuk mendapatkan si "buku tamu" ngetop ini, Snecx Tan mengklaim dalam sebulan ada 50 ribu orang mendaftar, fantastis juga ya... dan hal yang membuat Shoutmix syok adalah karena 99,93% pendaftar tersebut hanya memilih paket gratisan saja, dan yang lebih parah adalah mereka yang sudah terdaftar sebagai pelanggan paket berbayar malah pindah ke paket gratisan, kebayang juga sihh perasaan si Mr. Tan ini. Padahal mungkin doi berharap dengan semakin banyak "happy user" maka akan semakin banyak "paying customers".

Nah, disinilah mungkin pergelutan terjadi, memilih "business is business" atau memilih idealisme untuk menyenangkan banyak orang? Haha... sudah jelas ya kalo kita memang sedang berbicara bisnis... Snecx Tan sendiri sudah mengakui koq kalo Shoutmix tidak akan bertahan sebagai sebuah bisnis kalo tidak ada pelanggan berbayar... tapi apa daya pengen menyenangkan banyak orang dengan paket gratisan ini justru dinilai jadi penghalang buat Shoutmix menjadi lebih besar. Alhasil daripada merugi apalagi bangkrut, pelanggan gratisan didepak, hehe...

Atauu... ini sebenernya memang bagian dari business strategy dari Mr. Tan, kalau seandainya user sudah banyak, yaah tinggal disaring aja deh. Kemungkinan untuk meraih pelanggan yg sudah terlanjur jatuh hati dengan produk akan lebih mudah doong ;) Keliatannya enak banget ya, tapi yakin deh ini bukan hal yang mudah loh. Shoutmix dapat demikian pede-nya mengusir pelanggan gratisan, tentu punya produk yang luar biasa juga kan, yaahh bekal yang telah mereka kumpulkan selama 7 tahun ini, hasil riset sana-sini untuk terus mengembangkan produknya hingga sedemikian berkualitas...

Balik lagi ke masalah idealisme vs bisnis tadi, sayang ya kalo idealisme tidak bisa disatukan dengan bisnis, buktinya pada Versi keduanya, Shoutmix bisa koq... (tetep ya cari celah gratisan :p). Berarti idealisme memang sudah dikalahkan ya ckckck... ^_^

*Erlin Karlina
SambilMereviewIdealismeEcokiddy

Selasa, 27 Desember 2011

Raup Laba dengan Meniru Packaging Produk Ngetop

Baca judul tulisan saya kali ini, sempat geli sendiri karena kalo diperhatikan koq mirip judul headline tabloid-tabloid wirausaha ya? sedikit provokatif, hehe...

Ini bermula gara-gara melihat botol saos sambal yang biasa menemani kalo ada gorengan di rumah, setelah ditilik-tilik koq beda dari biasanya ya penampilannya, teryata memang benar, biasanya dirumah pake merk AB*, lah ini koq merek AK* ??? Ternyata waktu beli di swalayan memang salah ambil, sepintasan memang mirip sih, baik logo, ukuran maupun desain botolnya.

Nah, hal seperti ini bisa jadi termasuk dalam strategi bisnis. Siapa sangka bisa jadi penjualan jadi meningkat, gara-gara banyak pembeli yang "siwer". Tapi ga asyik banget ya? Dijamin nilai brand produk pengekor tersebut dimata pembeli adalah tetap minus. Padahal dari segi rasanya ga kalah enak lho, sayang ya. Ini foto botol saos sambal tersebut:


Beda banget sama packaging yang inovatif, seperti dibawah ini :

Desain packaging diatas asli inovatif banget, hasil karya Youngdo Kim. Bener-bener out of the box. Ide awalnya adalah untuk menghemat plastik dan ramah lingkungan. Tidak perlu membuang percuma bungkus kemasan seperti biasanya, kemasan tersebut bisa dipakai sebagai sedotan untuk menikmati kopi.

Cukup membuka kemasan tersebut, dan kopi yang berada didalamnya akan tertuang ke dalam segelas air. Lalu gunakan kemasan yang sama sebagai alat untuk mengaduk kopi dan sedotan. Kemasan multifungsi untuk menghemat pengeluaran. Info ini dikutip dari blackxperience.com.

Packaging (kopi) seperti ini tidak sekedar mendapat nilai plus dari pembelinya tapi juga telah memberi sesuatu yang berharga bagi lingkungan. Semoga makin banyak di muka bumi ini yang memperhatikan hal-hal seperti tersebut. Aamiin.

*Erlin Karlina
(SambilMikirInovasiPackagingYangKreatifBuatEcokiddy)

Selasa, 13 Desember 2011

Bidik Konsumen Kelas Menengah



Dalam sebuah talkshow diradio kemarin sore, seorang pengamat bisnis mengatakan bahwa tahun 2012 nanti adalah tahunnya konsumen kelas menengah. Ehmmm, maksudnya apa ya? gumam saya dalam hati. Masih dalam info diradio tadi, ternyata salah satu indikasinya adalah adanya beberapa fenomena di akhir tahun 2011 ini. Salah satunya adalah tragedi antrian blackbery yang memakan korban di Jakarta beberapa waktu yang lalu, serta fakta adanya indent pemesanan mobil All New Avanza hingga ribuan unit yang memakan waktu antrian hingga 2-3 bulan.

Ternyata yang ramai dan mengantri saat ini di Indonesia bukan hanya untuk pembagian sembako gratis saja. Untuk pembelian suatu produk yang seharga jutaan hingga ratusan juta rupiah penduduk Indonesia mulai rela mengantri. Ya, tentunya itu terjadi pada konsumen kelas menengah. Dan fakta menurut statistik BPS, ternyata usia penduduk Indonesia yang berpenghasilan sendiri alias yang sudah bekerja sangatlah banyak. Penduduk terbanyak yang pertama didominasi pada rentang usia 25-29 tahun, kedua di usia 20-24 tahun, dan yang ketiga pada usia 30-34 tahun.

Lhoo apa hubungan antara konsumen kelas menengah dan usia penduduk yahh? Ya, penduduk pada usia tadi merupakan orang-orang muda yang sudah mulai berpenghasilan sendiri. Dan tentunya pada usia tadi, rata-rata penghasilan mereka belum terlalu besar. Selain itu, tak bisa dipungkiri bahwa penduduk berusia muda merupakan konsumen yang konsumtif. Maklum, usia muda adalah usianya yang lebih mementingkan gaya hidup.

So, apakah kita sudah siap tuk menyambut konsumen kelas menengah di tahun 2012?
Dimanakah posisi kita?
Apakah hanya sebagai konsumen yang merupakan objek, atau kita merupakan subjeknya yang dapat memanfaatkan peluang tersebut sebagai pelaku usaha?

Go action!!!

*Yusuf Erlangga

Selasa, 06 Desember 2011

Usaha Gagal Karena Pemasaran



Benar kata orang, bagian pemasaran merupakan ujung tombak dalam sebuah organisasi bisnis. Bukan bermaksud mengenyampingkan bagian lain dalam sebuah perusahaan seperti bagian produksi, keuangan, SDM, dll, tapi bagian pemasaranlah yang berhadapan langsung dengan konsumen. Dan salah satu inti dari kegiatan pemasaran itu adalah memahami konsumen.

Pantesan pemasaran itu cukup penting, ternyata banyak usaha yang gagal atau bangkrut justru dikarenakan tidak kuatnya pada bidang itu lhoo. Dan sebagian besar penyebab kegagalan usaha tadi adalah karena sipelaku usaha tidak dapat memahami apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen.

Lalu, apa saja sihh yang membuat bidang pemasaran tersebut disebut gagal. Nahh, ini dia beberapa penyebabnya:

1. Tekanan tuk mendapat hasil jaka pendek (transaksi penjualan)

Hal ini sering terjadi pada bisnis yang menerapkan target reward & punishment kepada team salesnya. Atau bisa jadi sang pebisnis yang memiliki orientasi uang karena berkaitan dengan cashflow tuk usahanya ataupun tuk kebutuhan keluarganya.
2. Merasa sudah tau apa yang dibutuhkan & diinginkan konsumen
Hal inilah yang terkadang menjadi penyakit seorang pebisnis, kita seakan serba tau semua kebutuhan & keinginan konsumen. Sehingga terkadang semua konsumen dianggap sama kebutuhan & keinginannya.
3. Kurang aktif berkomunikasi & merespon konsumen
Saat ada kepuasan mengenai produk/jasa kita dari konsumen, kita pasti langsung merasa bahagia dan segera mengucapkan terima kasih. Justru saat ada keluhan/kritikan mengenai produk/jasa yang kita punya, justru seringnya kita menghindar atau lambat merespon.
4. Ekspetasi berlebihan terhadap produk/jasa kita
Banyak pebisnis yang merasa produk/jasa miliknya sudah sempurna, atau bahkan merasa yang terbaik dibanding dengan kompetitor. Padahal kenyataannya terkadang berbanding terbalik dipandang oleh konsumen.
5. Merasa bahwa segmentasi pasar itu tidak penting
Karena segmentasi pasarnya terlalu luas, justru ini akan menghaburkan energi & biaya kita tuk hal tersebut. Emang sihh, semua orang itu adalah konsumen potensial. Justru dengan segmentasi inilah, kita bisa beda dibanding dengan kompetitor.
6. Merasa biaya promosi itu sebagai pemborosan
Pemasaran berkaitan erat dengan promosi. Disinilah banyak media yang dapat digunakan. Ya, seperti membuat iklan hingga mengadakan event-event promosi. Terkadang banyak pebisnis yang pelit menganggarkan untuk poin ini, sehingga yang ingin disampaikan tidak mengena.

So, apakah bisnis kita masih memiliki kelemahan pada salah satu poin tadi? Atau jangan-jangan semua poin tadi ada pada bisnis kita? Ehmm, ayo segera kita rubah & hindari yuksss!!!

*Yusuf Erlangga

Jumat, 02 Desember 2011

Istriku dan Bisnisku



Disuatu rangkaian kegiatan kelas bisnis yang diadakan dalam format bootcamp, terjadilah diskusi ringan pasca sarapan. Lebih tepatnya diskusi yang berawal dari curcol (curhat colongan) seorang peserta. Sebut saja bang Feri (nama samar-samar), ia menceritakan kegelisahannya atas perilaku istrinya yang terkadang ikut-ikutan masuk dalam kegiatan bisnisnya. Terkadang masalahnya sihh sepele, biasa... masalah suami-istri gitu deghh, ucap bang Feri. Namun.... masalah sepele itulah yang terkadang membuat ia jadi tidak konsen menjalankan bisnisnya sebagai juragan pakaian anak-anak gaul n trendy yang ngetop di kotanya.

Peserta diskusi lainnya ikut bercerita. Sebut saja mas Komir (nama samar-samar juga). Ia sempat kesal namun tetap tersenyum saat sang istrinya memotong uang 200ribu dari hasil penjualan ternaknya yang harusnya seharga 2juta rupiah. Sang istri, langsung menganggap, ini tuk jatah dapur. Dasar si mas Komir tadi orangnya sabar & bersahaja (padahal sihh tampangnya serem lhoo), melihat tingkah laku istrinya iapun tetap tenang walau dalam hati agak dongkol berkata, itu kan duit usaha tauuu, dasar perempuan... :)

Mendengar kisah-kisah tadi, hampir semua peserta diskusi ringan tersebut sepakat, bahwa idealnya kegiatan bisnis dan kegiatan rumah tangga tidak boleh dicampur-adukan. Kalo ada masalah urusan rumah tangga, jangan dibawa kedalam urusan bisnis. Dan sebaliknya juga, kalo ada uang di dalam bisnis, jangan juga seenaknya dibawa kerumah. Ya, begitulah kira-kira kesimpulan diskusi tadi. Upsss, itu "kesimpulan kira2" dari saya aja lhoo. Kebetulan saya juga ikut hadir dalam diskusi ringan saat itu.

Beberapa hari setelah kegiatan kelas bisnis bootcamp waktu itu, saya teringat dengan tulisan yang berjudul "Libatkan Istri Dalam Berwirausaha" yang ada dalam blog ini.

Wahhh, kalo liat dari judul tulisan itu sepertinya bertolak belakang dengan kesimpulan diskusi ringan tadi nihh. Biar lebih jelasnya, dibaca dulu deghh tulisan yang lalu itu, langsung klik aja yahh! ;)
Nahhh, setelah dibaca kira-kira pendapat anda gimana hayo???

Setelah membaca tulisan tadi serta melihat hasil diskusi waktu itu, pak Kika yang merupakan salah satu mentor bisnisku berkomentar: "Yesss, kita harus bisa menyeimbangkan keadaan antara hubungan istri dan hubungan kerja. Dan bila Anda berhasil, maka anda akan menjadi manusia hebat!"

Ok, siap...
Bagaimana dengan anda? ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 29 November 2011

Tiga Kategori Alasan Membeli



Dalam sebuah diskusi kelompok bisnis, kami ditanya oleh seorang teman yang bernama Yodhi Ahyad yang merupakan seorang konsultan bisnis dengan pertanyaan: Apa yang membuat produk anda dibeli orang? Ada tiga (3) kategori pilihannya. Karena produknya? atau karena merek/perusahaannya? atau karena personal brandingnya?

Sejenak kami semua terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Sayapun teringat dengan tulisan saya di blog ini yang berjudul Aneka Alasan Membeli Sesuatu yang berisi aneka alasan kenapa seseorang membeli suatu produk/jasa. Setidaknya ada 31 alasan ditulisan saya waktu itu. Semua peserta diskusi menjawab sesuai bisnisnya masing-masing. Semua menjawab walau dengan ragu-ragu. Termasuk saya yang nampak masih ragu-ragu menentukan dari 3 kategori tadi. Ehmm, produk-produk ecokiddy dibeli orang karena apa ya??? tanya saya dalam hati. karena produknya, jawab saya dengan pasrah.

Karena terlihat masih banyak yang ragu-ragu, teman yang bertanya tadi memberi contoh dari masing-masing kategori diatas.

Karena Produknya.
Ada sepasangan penganten baru yang datang ke toko peralatan rumah tangga untuk membeli sebuah kompor untuk mengisi rumah kontrakannya. Ia tidak peduli mereknya ataupun harganya, yang penting ia harus beli kompor sebagai salah satu alat yang harus ada tuk keperluan dapurnya.
Seperti halnya ada seorang ibu yang akan membelikan anaknya sepasang sepatu baru. Saat dipasar, ia pasti akan menuju toko sepatu/sandal tuk membeli sepatu yang ia cari. Tak peduli apa nama toko sepatunya, yang penting bukan ke toko bahan/kain atau lapak sayuran khan. Karena ia tau apa produk yang akan dibelinya. Iya, ia akan membeli sepatu.

Karena Merek/Perusahaannya.
Saat disebuah warung, ada seorang yang haus dan ingin membeli minum. Diwarung tersebut ada beberapa merek air mineral. Mulai yang internasional, nasional, hingga merek lokal daerah. Namun dengan cepatnya ia memilih yang mereknya AQ** dibanding beberapa merek lainnya.
Lain lagi saat disebuah pameran otomotif, terlihat beberapa SPG motor China yang nampak bersusah payah menawarkan dan menjelaskan kelebihan dari produk tersebut. Berbeda saat di stand motor Jepang seperti HON** atau YAMA**, sang SPG tampak lebih santai menjelaskan kepada calon konsumen karena sebagian besar konsumen sudah kenal seperti apa sih perusahaan pembuat motor tersebut.

Karena Personal Brandingnya.
Ada seorang yang membeli suatu produk karena ia tahu dan respect kepada owner atau CEOnya. Seperti Aa Gym dengan produk-produk MQnya.
Lain lagi dengan seorang yang membeli makanan dipinggir jalan karena melihat penjualnya. Ia sangat kasihan atau simpatik kepada penjual yang merupakan seorang kakek yang sudah tua.

So, sudah tahukah kenapa selama ini orang-orang (konsumen) membeli produk yang kita punya? Kalau sudah tau, ayo kita pastikan kita kuat dalam kategori tadi. Entah kita kuatkan kualitas produknya. Atau kuatkan pada merek yang semakin dikenal banyak orang. Atau kuatkan dari sisi personal brandingnya.

*Yusuf Erlangga

Senin, 21 November 2011

Fokus Berenang & Berbisnis



Dalam sebuah kesempatan, seorang murid diajak gurunya berjalan-jalan naik perahu dari pantai ke tengah lautan. Dari awal si murid tak henti-hentinya bertanya kepada sang guru hendak kemana dan mau apa mereka pergi naik perahu. Seberapa pentingkah perjalan ini? ujar si murid bertanya pada sang guru. Beberapa kali ditanya, sang guru tetap diam. Dan akhirnya pada suatu titik beberapa puluh meter dari pinggir pantai, secara tiba-tiba sang guru mendorong muridnya tersebut ke air. Setelah tercebur ke laut, guru tersebut meninggalkan muridnya tadi menggunakan perahu kembali ke pantai.

Sesaat tercebur, simurid sangat panik. Terlebih lagi ia sadar bahwa ia tidak jago berenang, dan saat itu adalah pertama kalinya ia masuk ke air laut. Hanya terdengar suara sayup-sayup gurunya yang teriak, "Fokus, fokus, fokus. Aku tunggu kamu dipinggir pantai". Sesaat itu pula pikiran yang ada diotak simurid bercampur aduk. Kesal pada gurunya, panik karena kaget, lelah mengatur nafas, takut tenggelam, capek karena harus terus mengapung, ngeri akan adanya binatang laut, dan pikiran-pikiran lain.

Setelah sekitar 20 menit kemudian, sang murid Alhamdulillah sampai juga di pantai tempat gurunya berada. Setelah beberapa menit istirahat, sang guru bertanya pada muridnya, Apa yang kamu pikirkan sesaat aku mendorongmu dari perahu dan engkau tercebur? Pada mulanya aku memikirkan banyak hal, jawab sang murid. Tetapi setelah beberapa detik kemudian aku hanya berpikir & berusaha agar aku tetap mengapung dan bisa berenang ketepian.

Begitu pula dalam kehidupanmu, ujar sang guru. Jika kamu memiliki intensitas seperti itu dalam kehidupan, maka kamu akan fokus membuat komitmen atas hal terpenting dalam hidupmu.


Kisah tadi semakin menguatkanku atas pesan salah satu mentor bisnisku, bahwa kita disarankan untuk fokus dalam membangun bisnis. Cukup kerjakan satu usaha saja, hingga benar-benar usaha itu besar/kuat. Atau, cukup kerjakan proyek/order yang hanya sesuai core bisnis kita saja, hingga kita benar-benar dipandang menjadi ahli pada bidang tersebut.

Pesan mentor bisnisku tersebut terucap karena ia prihatin banyak pelaku usaha (khususnya pengusaha UKM & pebisnis pemula) yang bisnisnya tidak maju atau jalan ditempat, bahkan terancam bangkrut. Ya, karena mereka banyak yang tergoda ikut-ikutan bisnis "tetangga" yang katanya "rumput tetangga lebih hijau". Padahal usaha yang sedang dijalani sebelumnya nya masih tahap merangkak. Selain itu banyak pula, pelaku usaha yang menerima orderan / proyek yang sebenarnya bukan bidangnya. Ya semata-mata demi mendapat profit atau margin dari orderan/proyek tersebut. Padahal hal tersebut tak akan membuat ia besar dan menjadi ahli dalam bidang bisnis tersebut. Ya, semua itulah termasuk yang dikatakan tidak fokus.

Upsss, sudahkah kita fokus dalam membangun & menjalankan bisnis kita?

*Yusuf Erlangga

Jumat, 18 November 2011

Business Model dalam Berbisnis



Apaan sih Business Model itu?
Bagi sebagian pelaku usaha yang bisa dikatakan sudah sukses pasti sudah tau apa itu Business Model dan sudah menjalankan dalam bisnisnya. Tapi bagi sebagian pelaku usaha, khususnya bisnis UKM jangan-jangan baru dengar tentang itu. Ya, itulah yang saya alami baru-baru ini saat pertama kali mendengar kata tersebut dari seorang pebisnis IT (berhubungan dengan website) yang bernama Kika Syafii dan saat ini menjadi mentor saya dalam ilmu yang satu ini.

Lalu pertanyaan berikutnya adalah, seberapa pentingkah Busniness Model itu dalam membangun & menjalankan bisnis? Bagi para pebisnis senior pasti akan menjawab PENTING. Ya, karena merencanakan Business Model sama saja dengan membangun pondasi yang kuat dalam bisnis layaknya membangun pondasi yang kokoh saat membangun rumah /gedung.

Upss, jadi Business Model itu apaan sihh?
Menurut wikipedia, Business Model (Model Bisnis) itu menggambarkan pemikiran tentang bagaimana sebuah organisasi (perusahaan) dalam menciptakan, memberikan, dan menangkap nilai-nilai, baik itu nilai ekonomi, sosial, ataupun bentuk-bentuk nilai lainnya. Istilah model bisnis ini dipakai untuk ruang lingkup luas dalam konteks formal dan informal untuk menunjukkan aspek inti suatu bisnis. Termasuk mencakup maksud dan tujuan, apa yang ditawarkan, strategi, infrastruktur, struktur organisasi, praktik-praktik niaga, serta kebijakan-kebijakan dan proses-proses operasional.

So, yukks kita buat dan jalankan Business Model untuk bisnis yang kita jalankan. Masih belum jelas? Jelasnya bisa mampir di http://www.businessmodelgeneration.com aja yahh.

*Yusuf Erlangga

Rabu, 20 April 2011

Usaha Ini Bagus Gak Ya?


Woww, ternyata peluang usaha itu banyak ya...
Ehmm, ini dia nihh ide yg bagus. Pasti bisnis ini akan booming nihh...
Waduh bingung nihh mau usaha apa ya?
Yahh, ternyata usaha ini gak cocok tuk saya. Ganti usaha aghh...

Itulah sebagian pernyataan dan pertanyaan yang sering dialami orang banyak, khususnya orang-orang yang belum, atau baru mau, atau bahkan yang sudah berwirausaha namun masih baru berjalan beberapa bulan/tahun.

Jadi gimana baiknya dong???
Jawaban kata kebanyakan praktisi usaha adalah; Usaha yang bagus yaitu usaha yang dijalankan, bukan hanya sekedar dipikirkan atau ide. Lhaa gimana mau ketauan bagus atau tidak, dijalankan saja belom koq.
Atau ada juga yang mengatakan semua usaha itu bagus, asalkan dijalankan dengan konsisten (ada yg bilang minimal 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dll). Nahh kalo yang terakhir ini intinya jangan tergoda tuk berhenti atau ganti usaha, jika usaha yang kita jalankan dirasakan tidak ada kemajuan. Terlebih lagi bilamana ganti usahanya tersebut diakibatkan tertarik dengan bisnis baru yang sedang booming (alias ikut-ikutan).

Kalo itu sudah dijalankan apakah usaha kita pasti sukses?
Kalo itu saya berani jamin, bahwa saya menjamin kesuksesan itu kemungkinan didapat. Ya, itu hanya "kemungkinan" lhoo... heheee :p Daripada tidak action sama sekali khann... Yang tidak action itulah yang dijamin tidak akan sukses ^_^

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 16 April 2011

Menjadi Supermom Pilihan melalui Ecokiddy


Hingga saat ini Saya yakin betul bahwa supermom itu jutaan jumlahnya, bahkan saya yakin semua ibu adalah supermom bagi anak-anaknya. Namun Majalah DUIT telah menyaring sekian banyak supermom sedemikian rupa hingga akhirnya menobatkan 25 Supermom Indonesia versi mereka pada Desember 2010 lalu. Hal tersebut sekaligus sebagai apresiasi mereka dalam menyambut Hari Ibu. Hal yang mengejutkan adalah saya dan Ecokiddy terpilih diantara 25 nama supermom Indonesia yang layak diangkat ceritanya.

Ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dan Ecokiddy untuk tampil di media cetak nasional. Merupakan kesempatan yang langka bagi produk popok kain modern yang keberadaannya hingga kini masih belum familiar di masyarakat umum. Semoga hal ini dapat memberikan sedikit inspirasi bagi supermom lainnya :)

*Erlin Karlina

Selasa, 12 April 2011

Aneka Alasan Membeli Sesuatu


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas dari sebuah kegiatan yang namanya "membeli". Iya, membeli barang ataupun jasa. Nahh, dalam kegiatan itulah seseorang pasti memiliki aneka alasan sebelum memutuskan tuk membeli sesuatu.

Mengapa ia membeli produk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memilih merk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memesan di toko ini, bukan yang disitu?
dan lain-lain aneka alasannya. Nahh, berikut ini beberapa aneka alasannya:

1. Karena harganya lebih murah.
2. Karena tokonya dekat.
3. Karena suka sama iklannya yang ada di radio/tv.
4. Karena pelayanan dari penjualnya sangat ramah.
5. Karena lagi trend (alias ikut-ikutan).
6. Karena ada hadiah/bonusnya.
7. Karena sudah suka/fanatik dengan merk-nya.
8. Karena kenal dengan penjualnya.
9. Karena tempatnya nyaman dan asyik.
10. Karena banyak pilihannya.
11. Karena ada jaminan/garansinya.
12. Karena kasihan/iba dengan penjualnya.
13. Karena punya kartu diskon/voucher gratisnya.
14. Karena terpaksa. Gak ada penjual/merk lain.
15. Karena bisa kredit/nyicil.
16. Karena ada program pesan-antar (delivery service).
17. Karena ongkos kirim/pasang-nya gratis.
18. Karena ada program undian berhadiahnya (ngumpulin kupon/ poin /dll).
19. Karena proses pelayanannya cepat.
20. Karena hasil pekerjaannya bagus dan rapi.
21. Karena bahan baku produksinya menggunakan kualitas yang baik.
22. Karena bahan bakunya lebih sehat.
23. Karena mendukung program Cinta Produk Dalam Negeri.
24. Karena produknya unik alias tidak pasaran.
25. Karena produk tersebut merupakan produk limited edition.
26. Karena ingin membantu si penjualnya.
27. Karena terpaksa agar dapat uang recehan dari kembaliannya.
28. Karena barang sejenis yang dimiliki sudah rusak.
29. Karena ingin menyenangkan orang lain, diberikan sebagai hadiah.
30. Karena agar eksis. Gaya dilihat orang lain.
31. Karena bisa ikutan mendukung program Go Green.

Selain aneka alasan seseorang saat "membeli" diatas, tentunya masih banyak lagi alasannya yang setiap orang tentunya berbeda-beda.

Jika alasan membelinya saja banyak sekali, berarti banyak juga dong alasan kenapa orang bisa sukses dengan berjualan atau berwirausaha. Ayo mari kita berwirausaha, Insya Allah yang membutuhkan barang atau jasa yang kita jual pasti ada deghh. Dan saat sudah berwirausaha, tentukan beberapa point dari daftar diatas; bagian point mana saja para konsumen akan membeli barang atau jasa kita? Kuatkan dipoint tersebut, maka Insya Allah jalannya usaha kita akan sukses.

Masih mau jadi pembeli saja? Saatnya jadi penjual dong... ^_^

*Yusuf Erlangga

Kamis, 18 November 2010

Membangun Misi Sekaligus Meraup Untung



Tak dipungkiri saat seseorang memulai bisnis, salah satu tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Lalu apakah keuntungan secara materi saja tujuannya? Secara sadar ataupun tidak, sebenarnya tujuan lain selain keuntungan materi itu akan mengikuti, salah satunya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Terlebih-lebih jika tujuan lain itu sudah ditanamkan semenjak memulai usaha, Insya Allah hasilnya akan lebih baik.

Tujuan lain yang dimaksud itu adalah membangun makna atau membetuk misi yang bermanfaat tuk banyak orang dalam menjalankan usahanya tersebut. Bahkan menurut banyak pakar entrepreneur, jika kita secara terus menerus membangun misi itu, Insya Allah keuntungan secara materi akan mengikuti secara sendirinya. Sedangkan jika kita hanya fokus untuk meraup keuntungan, justru kita akan mendapat dua resiko sekaligus. Yaitu resiko tidak dapat membangun makna atau misi postif sekaligus tidak dapat meraup keuntungan secara materi. Sedih khan.... :(

Seorang pedagang mie ayam, selain mecari keuntungan dalam berdagangnya iapun memiliki misi sebagai penyedia makanan yang tidak menggunakan vetsin/MSG sehingga sehat untuk penikmat mie ayamnya. Seorang pedagang baju muslim, memiliki misi menyebar luaskan begitu pentingnya menutup aurat bagi para muslim dewasa. Bahkan ia menjual jilbab balita semata-mata memperkenalkan jilbab sejak dini bagi anak-anak.

Ada juga sebuah produsen obat-obatan yang hanya memproduksi dari bahan baku yang halal, sehingga misinya memberi solusi sehat tanpa menomorduakan halal-haramnya kandungan obat-obatannya dapat ia dapati. Serta seorang pengusaha bimbingan belajar, ia memiliki misi untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa dengan berbagi ilmu. Bahkan ia memberikan beasiswa kepada murid-murid yang kurang mampu. Dan banyak lagi contoh para pelaku bisnis yang memiliki misi demi kebaikan banyak orang selain untuk meraup keuntungan dalam menjalankan bisnisnya.

Begitupun saat kami memulai usaha sebagai produsen Modern Cloth Diapers (Diapers cuci ulang), kamipun memiliki misi untuk mengkampanyekan kepada masyarakat luas mengenai penggunaan cloth diapers yang jelas-jelas lebih sehat, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan daripada penggunaan popok sekali pakai (pospak) untuk anak-anak. Jika anda ingin memulai usaha, jangan lupa untuk membangun misi positif ya. Jikapun anda sudah menjalankan sebuah usaha, jangan ragu-ragu tuk segera membagun misi positif mulai sekarang.

Misi positif itu bisa ditetapkan dari banyak aspek, yaitu baik berhubungan dengan kesehatan, keagamaan, lengkungan hidup, sosil, pendidikan, dan lainnya. Jadi apapun tujuannya, misi itu tetap disuhakan harus ada. Karena misi itu bukan untuk ditulis disebuah business plan saat awal memulai usaha, namun misi itu untuk dijalankan secara terus-menerus dan konsisten.

*Yusuf Erlangga

Senin, 08 November 2010

Ecokiddy Kampanye di Radio


Setelah hampir 4 bulan usaha kami yang bernama "ecokiddy" hadir di tengah masyarakat Indonesia, hari Selasa tanggal 2 November 2010 yang lalu tiba kesempatan bagi kami untuk lebih memperkenalkan produk Ecokiddy melalui media radio. Ecokiddy memperoleh kehormatan untuk menjadi pengisi acara kewirausahaan yang rutin diadakan oleh Radio Gaya Bekasi 93,6 FM. Acara yang biasa mengundang narasumber dari anggota komunitas bisnis TDA (Tangan Di Atas) ini memberikan tempat kepada Ecokiddy Production untuk memperkenalkan cloth diapers atau popok kain modern cuci ulang kepada masyarakat umum. Acara ini tidak hanya memberikan peluang kepada Ecokiddy untuk memperkenalkan produk modern cloth diapers yang kami miliki, tetapi juga memberikan peluang bagi kami untuk menunjukkan adanya peluang usaha dibalik bisnis ini.

Alhamdulillah, animo pendengar Radio Gaya sangat baik selama acara berlangsung. Dari awal hingga akhir acara, ada saja pendengar yang memberikan responnya, baik melalui telepon langsung maupun melalui SMS. Ada yang menanyakan mengenai produk, ada pula yang menanyakan tentang kemitraan dalam usaha ini. Dan menurut mas Yudha sang penyiar acara itu, tema pada hari itu sangat menarik. Kenapa menarik? Ya, menurut beliau produk yang kami bawakan saat itu merupakan produk yang unik. Terlebih lagi produk kami itu menurutnya sangat berarti bagi masyarakat umum karena merupakan produk yang hemat dan ramah lingkungan.

Tak lupa kami memberikan hadiah berupa produk-produk Ecokiddy kepada tiga pendengar yang memberikan pertanyaan terbaik. Pada saat itu terpilih Ibu Nining, Bapak Ardi, dan Ibu Ida sebagai pemenangnya.

Rasa bahagia pun menyelimuti kami, memperoleh kesempatan lebih luas dalam mengkampanyekan pemakaian popok cuci ulang yang sehat, hemat dan ramah lingkungan ini. Melalui media radio ini, kami benar-benar mendapat kesempatan istimewa. Istimewa bukan karena kami dapat "berjualan" disana, namun istimewa karena kami berkesempatan mengkampanyekan ke banyak orang akan hematnya penggunaan popok kain modern ini, sekaligus mengkampanyekan betapa berartinya pemakaian popok kain ini bagi lingkungan sebagaimana misi usaha kami. Mudah-mudahan usaha kami dalam memberikan sedikit edukasi ke lebih banyak orang dari ilmu dan pengetahuan kami yang sedikit ini memperoleh hasil dan manfaat. Amin...

*Erlin Karlina

Kamis, 04 November 2010

Belajar Action Dari Mie GELO



Berbekal ilmu dalam sebuah pelatihan membuat mie ayam, dua orang sahabat melangkah dengan yakin tuk memulai usaha dengan berjualan mie ayam. Mie ayam yang gak standard dipasaran ini mulai dilaunching hanya dengan persiapan beberapa hari saja. Lho koq gak standard sih? Bukankankah mie ayam itu sudah banyak sering kita temui dipasaran? Mulai yang dijual dengan gerobak dorong, mangkal ditenda pinggiran toko, hingga di restoran gedung mewah. Gerai Mie Ayam yang berlokasi di daerah Bojong Koneng Cikarang Barat ini hanya menjual mie sehat. Ya, karena bahan baku mie tersebut dibuat dan diproses dihari yang sama. Selain itu mienya itu berwarna hijau dengan bahan dasar sawi yang berbeda dengan mie yang pada umumnya berwarna kuning.

Usaha yg digawangi oleh dua orang sahabat berbeda background ini patut dicontoh tuk kita yang ingin memulai usaha. Mas Andrey dan Cang Ben adalah tokoh dibalik lahir usaha ini. Mas Andrey yang juga masih berstatus sebagai karyawan disebuah perusahaan Asing di kawasan industri Jababeka Cikarang ini blom pernah terjun didunia bisnis kuliner. Kalopun sudah pernah menjalankan usaha, usahanya itu bergerak dibidang fotographi yang jauh dari urusan makanan. Sedangkan Cang Ben yang bernama asli Musa ini sudah malang melintang didunia usaha, mulai berjualan nasi uduk, warung kopi (warkop), aksesoris wanita, hingga aktif dibidang usaha transportasi alias sebagai ojek motor profesional.

Justru latar belakang yang berbeda itulah yang menjadikan usaha yang diberi nama Mie GELO ini bisa terealisir walau persiapannya sangat mepet. Perbedaan itulah yang menjadikan mereka bisa saling mengisi keterbatasan dari masing-masing. Merekapun bersyukur dapat bertemu dengan pak Syamsu sang master mie yang selalu terbuka saat berbagi ilmu tentang membuat mie ayam itu. Bahkan disaat pelatihan itu telah usai, pak Syamsu itu dengan terbuka menerima telpon dari mas Andrey dan cang Ben yang hanya sekedar bertanya sesuatu yang berhubungan dengan teknis.

Walau diawali dengan keterbatasan sana-sini, Alhamdulillah Mie GELO itu terlahir dari keyakinan action dua orang sahabat tadi. Terbukti, walau ilmunya terbatas namun mereka bisa menyerap ilmu dari para ahlinya. Selamat tuk Mie GELO atas actionnya!!! ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 02 November 2010

Bisnis Kuliner Jadi Pilihan?



"Kali ini berbeda, biasanya kita ngomongin bisnis kuliner tapi pada pagi ini gak ada hubungan dengan kuliner sama sekali." Itulah yg diucapkan oleh mas Yudha sang penyiar di Radio Gaya FM saat saya talkshow on-air bersamanya. Setelah diingat-ingat, ternyata bener juga tuh. Di acara yg membicarakan tentang inspirasi bisnis hasil kerjasama antara radio Gaya dan komunitas TDA Bekasi, setiap pekannya menghadirkan para pengusaha dari beragam jenis usaha. Dan setelah hampir setahun berjalan, emang benar sebagian besar yang hadir mengisi acara itu adalah pengusaha dibidang kuliner. Mulai bisnis kue dan roti, gerai juice, warung mie ayam, usaha catering, gerai kopi blended, martabak, dll. Emang sih, selain bisnis kuliner ada juga seperti saya pada hari itu yang membahas tentang bisnis Modern Cloth Diapers (popok cuci ulang).

Setelah talkshow on-air itu saya sempat terpikir apa yang dikatakan oleh penyiar dipembukaan siarannya tadi, apa iya bisnis kuliner itu lebih banyak didunia ini. Ataukah jangan-jangan bisnis kuliner itu paling mudah dijalankan? Atau karena makanan itu sebuah kebutuhan pokok yang pasti dicari orang? Atau karena modalnya gak terlalu besar? Ya, semuanya bisa benar. Bahkan ada seorang teman yang memilih bisnis kuliner dengan alasan, kalo gak laku kan bisa dimakan sendiri. Heheheeee, bener juga tuh... :)

Jika kita perhatikan pula, saat lihat iklan peluang usaha baik di media masa cetak maupun di internet, bisnis kulinerlah yang paling banyak kita temui. Saat kita menghadiri pameran waralaba, disanapun kita temukan bisnis kuliner yang paling banyak ditawarkan. Jika kita memperhatikan disuatu jalan, disepanjang jalan itu pasti kita temui pasti ada bisnis kuliner. Bahkan disebuah sentra/pusat perdagangan, baik itu pusat tekstil, pusat onderdil, pusat komputer, dll, pasti didalamnya ada orang yang berjualan makanan/minuman.

Apapun alasannya, yang pasti emang bisnis kuliner adalah salah satu pilihan untuk memulai suatu usaha khususnya bagi kita yang baru belajar tuk memulai usaha. Bisnis kuliner sudah banyak pelakunya. Namun kuliner tatap aja banyak orang yang butuh. Jadi apakah kita ingin memulai usaha dibidang kuliner? Apapun pilihannya, kuliner ataupun bukan yang penting action dan konsistenlah yang lebih utama.

*Yusuf Erlangga

Minggu, 24 Oktober 2010

Bosan nihh Karena Order Sepi. Ngapain yah???


Jualan kita Alhamdulillah selalu rame setiap bulan Ramadhan dan saat Lebaran nanti. Tapi dibulan-bulan lainnya standar lahh. Kira-kira gimana ya biar tetap rame, yahh minimal gak bosen karena sepi order? Itulah pertanyaan dari bu Dewi pemilik toko kue dan coklat dalam sebuah pertemuan mastermind, yaitu pertemuan rutin dalam sebuah kelompok kecil yang isinya para pengusaha dan calon pengusaha yang sama-sama berkomitmen belajar dan maju bersama. Dan pertanyaan itu langsung ditanggapi oleh member lainnya di kelompok itu, dan saat itu giliran akang Yodhi Ahyad yg berbagi ilmunya.

Kang Yodhi yang menjalankan beberapa usaha serta seorang jurnalis ini memberi tips dengan menyarankan agar kita bisa meriview atau memperkirakan dibulan kapan aja usaha kita ramai? Dan akan terlihat juga bulan-bulan mana yang sepi. Disaat sepi itulah kita bisa isi dengan kegiatan lain. Masih pada kasus bu Dewi tadi, ia mencontohkan dengan mengadakan cooking class (pelatihan) bagi anak-anak TK saat liburan sekolah. Bisa juga mengikuti beberapa bazar atau pameran disaat musim sepi order tadi. Selain mengadakan kegiatan seperti tadi, waktu sepi itu bisa kita isi tuk saatnya menyebarkan brosur, memasukan proposal ke perusahaan-perusahaan. Selain melakukan kegiatan yang berhubungan langsung drengan pihak pelanggan, waktu-waktu sepi tadi bisa diisi dengan mengikuti kegiatan seminar/pelatihan bagi kita sebagai owner atau karyawan kita untuk meningkatkan skill sehingga usaha kita bisa semakin kuat.

Wahhh, brarti kegiatan-kegiatan tadi justru malah banyak mengeluarkan biaya dong? Ya, emang benar. Tapi biaya yang keluar itu justru akan kembali dikemudian hari. Dan semua itu sudah termasuk satu kesatuan dalam anggaran atau perencanaan yang perlu kita susun secara periodik. Masih menurut kang Yodhi yang memiliki usaha makanan, travel, kurir, dll ini, selain diatur secara tahunan, tips tadi juga bisa digunakan dalam waktu bulanan atau mingguan. Misalkan dalam waktu bulanan, waktu ramai saat di awal dan akhir bulan, brarti saat sepi dipertengahan bulan bisa kita isi tuk kegiatan-kegiatan tadi seperti menyebar brosur, dll.

Apapun jenis usahanya, tips itu tetap bisa digunakan lhooo. Tinggal kita sesuaikan deghh...

*Yusuf Erlangga

Rabu, 14 Juli 2010

Ecokiddy, diapers yang bisa dicuci : akhirnya diluncurkan juga ...



Akhirnya setelah sekian waktu tertunda untuk melakukan persiapan disana-sini, tepat tanggal 10 Juli 2010 kemarin kami luncurkan satu lagi produk dalam negeri, Ecokiddy Modern Cloth Diapers. Popok yang di desain khusus agar pemakaian popok kain tradisional (popok dgn selembar kain plus tali disampingnya) yang sudah dikenal umum menjadi lebih mudah dan praktis bagi semua orang. Info lebih lengkap silahkan kunjungi web resminya di www.ecokiddy.com

Seiring dengan itu kami adakan pula lomba foto bagi batita sebagai ajang memperkenalkan produk kami ke masyarakat umum. Lomba ini akan berlangsung dalam dua periode, periode pertama adalah periode pengiriman foto, sementara periode kedua adalah periode polling. Lomba foto ini akan berlangsung hingga tanggal 15 Agustus 2010. Info lebih lengkap silahkan klik DISINI.

Sebelumnya kami pun telah mengadakan soft-launching dengan mengikuti business expo pada Festival Wirausaha Bekasi yang diadakan oleh kominitas TDA (Tangan Di Atas) pada bulan Juni 2010 di Bekasi Square, Kota Bekasi. Melalui kegiatan tsb yg berlangsung hanya dua hari, lebih dari dua puluh calon mitra terjaring untuk bekerjasama dengan kami. Oleh karenanya, kami semakin optimis dengan produk yang kami tawarkan dan masih membuka selebar-lebarnya peluang usaha ini bagi masyarakat luas. Dengan memasarkan produk ini, selain mendapat keuntungan secara materi secara tidak langsung kita telah ikut mengkampanyekan penggunaan Modern Cloth Diapers yg lebih sehat, lebih hemat, dan lebih ramah lingkungan.

*Erlin Karlina

Selasa, 01 Juni 2010

Pelatihan Membuat Mie

Tepat hari minggu kemarin, 30 Mei 2010, keluarga kecil kami mendapatkan satu pengalaman unik kembali. Ini untuk pertama kalinya kami sekeluarga bareng-bareng ikut pelatihan. Asyik kan... :) Asyiknya lagi pelatihannya tsb adalah pelatihan membuat MIE... yang artinya alamat bisa nyicipin hasil karya nih diakhir pelatihan (hehehe... ketauan deh, itu harapan suami lho :) teteup bumil ga mau ngaku).

Awalnya dikabari suami kalo Mie Sehati mau ngadain pelatihan membuat mie, semula belum tertarik... tapi setelah dipikir2 anakku 'kan termasuk raja-nya mie, baru kepikiran harus kudu mesti ikut pelatihan ini. Siapa tau bisa diaplikasikan di rumah n bisa say good by sama mie instan kesayangannya...

Berangkat deh kita pagi-pagi ke lokasi di daerah Cikarang, Kabupaten Bekasi, setelah sebelumnya kontak pak Eko eSHaPe dulu sang owner Mie Sehati. Izin untuk daftar dadakan, Alhamdulillah masih bisa ikutan... Ga lama sampai disana acara masak memasak pun dimulai... Satu persatu langkah membuat mie dijelaskan dengan gamblang oleh Bu Yeni, istri Pak Eko. Dengan peserta terbatas, leluasa sekali untuk bertanya jika tidak paham. Materi pun sudah disiapkan dalam bentuk lembaran modul. Wah semangat nih mau praktek di rumah. Padahal Mie Sehati mengadakan pelatihan mie ini juga dalam rangka memotivasi peserta untuk melihatnya sebagai peluang usaha. Hebat n salut buat Pak Eko n Bu Yeni, berbagi ilmu trus euy... Subhanallah, shodaqoh jariyah juga nih - ilmu yang bermanfaat... ^_^

Wah, pokoknya beruntung sekali-lah ikutan pelatihan ini, yang pengen ikutan pelatihan ini, Mie Sehati ngadain rutin 2 minggu sekali lho. Kunjungi ajak web-nya ya, plus bisa lihat foto kami sekeluarga di urutan pertama yang lagi serius ngikutin pelatihan hehehe... *keluarga narsis mode on


*Erlin Karlina
-kembali menulis dengan sedikit paksaan suami 'n terlanjur hutang janji :) -




Sedikit laporan pandangan mata...
Gerai Mie Sehati

Fathan pun antusias banget... ^_^

Bu Yeni menjelaskan...

Adonan Mie Hijau-nya digiling
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template