Tampilkan postingan dengan label memilih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memilih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Shoutmix tidak lagi gratis, Idealisme vs Bisnis??



Sudah hampir 2 tahun ini ecokiddy.com menggunakan jasa Shoutmix agar dapat langsung chat dengan pengunjungnya, alhamdulillah selama ini lancar-lancar aja tanpa kendala. Fasilitasnya memuaskan dan yang terpenting adalah itu semua GRATIS (hampir semua orang pasti happy kalo dengar kata yang satu ini kan ^_^). Hal inilah penyebab terbesar hingga akhirnya per 1 Januari 2012, Shoutmix memutuskan untuk tidak memberikan layanan gratis lagi.

Kalo dari penjelasan sang pendiri, Snecx Tan, Shoutmix sudah bertahan selama 7 tahun sejak didirikan, termasuk dengan layanan gratisnya. Selama kurun waktu tersebut, rupanya banyak hal yang sudah dilalui Shoutmix. Dengan Versi pertama-nya, dalam usia 1 tahun Shoutmix hampir bangkrut (mungkin akibat sedikitnya jumlah pelanggan paket berbayar).

Sehingga setelah itu dilakukan perbaikan disana-sini, hingga muncul Versi kedua yang ternyata disukai banyak orang, jumlah pelanggan paket berbayar semakin banyak dan tentunya jumlah pelanggan paket gratisan apalagi... (pelanggan gratisan ini ya seperti ecokiddy.com, jadi malu... *blushing*).

Berkembang sedemikian pesat hingga dimunculkan Versi ketiga-nya dibulan November 2011, dan apa yang terjadi? semakin banyak orang yang menyukai Shoutmix, dalam 1 hari bisa ribuan orang mendaftar untuk mendapatkan si "buku tamu" ngetop ini, Snecx Tan mengklaim dalam sebulan ada 50 ribu orang mendaftar, fantastis juga ya... dan hal yang membuat Shoutmix syok adalah karena 99,93% pendaftar tersebut hanya memilih paket gratisan saja, dan yang lebih parah adalah mereka yang sudah terdaftar sebagai pelanggan paket berbayar malah pindah ke paket gratisan, kebayang juga sihh perasaan si Mr. Tan ini. Padahal mungkin doi berharap dengan semakin banyak "happy user" maka akan semakin banyak "paying customers".

Nah, disinilah mungkin pergelutan terjadi, memilih "business is business" atau memilih idealisme untuk menyenangkan banyak orang? Haha... sudah jelas ya kalo kita memang sedang berbicara bisnis... Snecx Tan sendiri sudah mengakui koq kalo Shoutmix tidak akan bertahan sebagai sebuah bisnis kalo tidak ada pelanggan berbayar... tapi apa daya pengen menyenangkan banyak orang dengan paket gratisan ini justru dinilai jadi penghalang buat Shoutmix menjadi lebih besar. Alhasil daripada merugi apalagi bangkrut, pelanggan gratisan didepak, hehe...

Atauu... ini sebenernya memang bagian dari business strategy dari Mr. Tan, kalau seandainya user sudah banyak, yaah tinggal disaring aja deh. Kemungkinan untuk meraih pelanggan yg sudah terlanjur jatuh hati dengan produk akan lebih mudah doong ;) Keliatannya enak banget ya, tapi yakin deh ini bukan hal yang mudah loh. Shoutmix dapat demikian pede-nya mengusir pelanggan gratisan, tentu punya produk yang luar biasa juga kan, yaahh bekal yang telah mereka kumpulkan selama 7 tahun ini, hasil riset sana-sini untuk terus mengembangkan produknya hingga sedemikian berkualitas...

Balik lagi ke masalah idealisme vs bisnis tadi, sayang ya kalo idealisme tidak bisa disatukan dengan bisnis, buktinya pada Versi keduanya, Shoutmix bisa koq... (tetep ya cari celah gratisan :p). Berarti idealisme memang sudah dikalahkan ya ckckck... ^_^

*Erlin Karlina
SambilMereviewIdealismeEcokiddy

Selasa, 29 November 2011

Tiga Kategori Alasan Membeli



Dalam sebuah diskusi kelompok bisnis, kami ditanya oleh seorang teman yang bernama Yodhi Ahyad yang merupakan seorang konsultan bisnis dengan pertanyaan: Apa yang membuat produk anda dibeli orang? Ada tiga (3) kategori pilihannya. Karena produknya? atau karena merek/perusahaannya? atau karena personal brandingnya?

Sejenak kami semua terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Sayapun teringat dengan tulisan saya di blog ini yang berjudul Aneka Alasan Membeli Sesuatu yang berisi aneka alasan kenapa seseorang membeli suatu produk/jasa. Setidaknya ada 31 alasan ditulisan saya waktu itu. Semua peserta diskusi menjawab sesuai bisnisnya masing-masing. Semua menjawab walau dengan ragu-ragu. Termasuk saya yang nampak masih ragu-ragu menentukan dari 3 kategori tadi. Ehmm, produk-produk ecokiddy dibeli orang karena apa ya??? tanya saya dalam hati. karena produknya, jawab saya dengan pasrah.

Karena terlihat masih banyak yang ragu-ragu, teman yang bertanya tadi memberi contoh dari masing-masing kategori diatas.

Karena Produknya.
Ada sepasangan penganten baru yang datang ke toko peralatan rumah tangga untuk membeli sebuah kompor untuk mengisi rumah kontrakannya. Ia tidak peduli mereknya ataupun harganya, yang penting ia harus beli kompor sebagai salah satu alat yang harus ada tuk keperluan dapurnya.
Seperti halnya ada seorang ibu yang akan membelikan anaknya sepasang sepatu baru. Saat dipasar, ia pasti akan menuju toko sepatu/sandal tuk membeli sepatu yang ia cari. Tak peduli apa nama toko sepatunya, yang penting bukan ke toko bahan/kain atau lapak sayuran khan. Karena ia tau apa produk yang akan dibelinya. Iya, ia akan membeli sepatu.

Karena Merek/Perusahaannya.
Saat disebuah warung, ada seorang yang haus dan ingin membeli minum. Diwarung tersebut ada beberapa merek air mineral. Mulai yang internasional, nasional, hingga merek lokal daerah. Namun dengan cepatnya ia memilih yang mereknya AQ** dibanding beberapa merek lainnya.
Lain lagi saat disebuah pameran otomotif, terlihat beberapa SPG motor China yang nampak bersusah payah menawarkan dan menjelaskan kelebihan dari produk tersebut. Berbeda saat di stand motor Jepang seperti HON** atau YAMA**, sang SPG tampak lebih santai menjelaskan kepada calon konsumen karena sebagian besar konsumen sudah kenal seperti apa sih perusahaan pembuat motor tersebut.

Karena Personal Brandingnya.
Ada seorang yang membeli suatu produk karena ia tahu dan respect kepada owner atau CEOnya. Seperti Aa Gym dengan produk-produk MQnya.
Lain lagi dengan seorang yang membeli makanan dipinggir jalan karena melihat penjualnya. Ia sangat kasihan atau simpatik kepada penjual yang merupakan seorang kakek yang sudah tua.

So, sudah tahukah kenapa selama ini orang-orang (konsumen) membeli produk yang kita punya? Kalau sudah tau, ayo kita pastikan kita kuat dalam kategori tadi. Entah kita kuatkan kualitas produknya. Atau kuatkan pada merek yang semakin dikenal banyak orang. Atau kuatkan dari sisi personal brandingnya.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 12 Oktober 2010

Mau Usaha Apa Yahhh???


Ya, saya harus memulai usaha (baca: bisnis) sekarang juga...
Tapi mau usaha apa yahhh???
Kuliner, fashion, atau jasa ya?
Produsen, distributor, atau penjual langsung ya?
Sewa ruko, dirumah, atau via online ya?

Ehmmm, itulah pertanyaan yang sering ditemui disaat kita akan memulai suatu usaha khususnya bagi orang yang baru pertama kali akan terjun didunia usaha. Ehmmm, kalo kebanyakan mikir bisa-bisa gak jadi niyyy. Capek deghh... :p

Sebenarnya banyak tips tuk menentukan jenis usaha apa yang ingin kita pilih. Tapi, paling tidak ada dua tips dasar yang bisa jadi tips bagi kita, yaitu pilih jenis usaha sesuai yang kita sukai atau yang kita kuasai. Gampang khann; SUKAI atau KUASAI...

SUKAI
Kita bisa mulai mencoba membuka usaha yang sesuai dengan hobi atau kesukaan kita. Karena kalau sudah suka, kita tidak akan cepat bosan dan mudah menyerah menjalankannya walaupun mungkin di masa-masa awal akan ada banyak tantangan

KUASAI
Kita bisa mencoba dengan membuka usaha yang memang sudah kita kuasai bidangnya. Waluapun belum berpengalaman berwirausaha, tapi kita harus yakin bahwa kita memiliki keahlian yang bisa dimanfaatkan. Yang paling mudah adalah seseuai background pendidikan kita, atau bidang pekerjaan saat dulu kita bekerja sebagai karyawan.

Nahhh, dengan dua hal tersebut diharapkan kita sudah bisa menentukan jenis usaha apa yang akan kita pilih. Namun jika masih bingung juga, sebagai pamungkas kita bisa menelusuri kemana saja selama ini uang kita keluarkan. Maksudnya apa yahhh???

Saat membuka usaha, salah satu tujuan utamanya adalah untuk menambah penghasilan bukan, maka kita perlu melihat bagaimana caranya uang berputar. Berpindah tangan dari konsumen ke penjual, agen, produsen dan seterusnya. Coba lihat bahwa kita selama ini mengeluarkan uang untuk membeli apa saja. Untuk makan, bayar transport, sewa rumah, beli pakaian, jalan-jalan, bahkan untuk beribadah dan sebagainya. Teliti satu persatu arus uang yang sudah kita keluarkan pada penjual makanan, sopir angkot, toko baju, tempat tamasya dan sebagainya. Mungkin ada salah satu celah dimana kita bisa menikmati keuntungan dari arus uang tadi.

*Yusuf Erlangga
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template