Tampilkan postingan dengan label alasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alasan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juni 2012

Alasan Hadir di Sebuah Pelatihan




Dalam sebuah diskusi, diketahui bahwa setiap orang yang mengikuti sebuah pelatihan/training/workshop/seminar/dll ternyata memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ya, acaranya sama tapi tujuan orang yang hadir disitu bisa berbeda-beda.

Ada yang ikut karena niatnya biar dapet ilmu.
Ada yang datang dengan tujuan biar dapet pengalaman bisa ketemu langsung pembicaranya.
Ada yang hadir karena biar bisa memperluas jaringan/networking.
Ada yang sengaja niatnya biar ketemu calon klien atau ketemu bakal calon istrinya (sama-samaa sebagai peserta). :p
Ada yang ikut karena disuruh boss/atasan di perusahaannya.
Ada yang sengaja ikut karena ingin dapet sertifikat acaranya.
Ada yang datang berharap bisa masuk TV, karena tau ada media yang meliput.
Atau ada yang datang karena ikut-ikutan temennya.

Apapun tujuan ataupun alasannya, yang pasti kita berharap dengan kehadiran kita di acara tersebut benar-benar bermanfaat bagi kita yang hadir. Syukur-syukur manfaatnya bisa disebarluaskan kepada teman-teman yang lain dengan kita berbgi ilmu/pengalaman setelah mengikuti acara tersebut.

Jadi, alasan atau tujuan yang mana dong yang paling bagus saat kita ikut pelatihan seperti itu?
Apapun pilihan alasannya, syah-syah aja koq. Syukur-syukur kita punya tujuannya tidak hanya satu. Contohnya bertujuan biar dapat ilmu sekaligus nyari kenalan baru. Atau tujuannya biar dapat pengalaman, sekaligus kali-kali aja bisa masuk TV. Hehehee, jadi kalo alesan pertama tidak tercapai. Kann jadinya gak begitu kecewa tohhh, karena ada alasan yang kedua... ;)

Ok, selamat hadir di sebuah pelatihan ya rekan-rekan... ^_^

*Yusuf Erlangga

Selasa, 29 November 2011

Tiga Kategori Alasan Membeli



Dalam sebuah diskusi kelompok bisnis, kami ditanya oleh seorang teman yang bernama Yodhi Ahyad yang merupakan seorang konsultan bisnis dengan pertanyaan: Apa yang membuat produk anda dibeli orang? Ada tiga (3) kategori pilihannya. Karena produknya? atau karena merek/perusahaannya? atau karena personal brandingnya?

Sejenak kami semua terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Sayapun teringat dengan tulisan saya di blog ini yang berjudul Aneka Alasan Membeli Sesuatu yang berisi aneka alasan kenapa seseorang membeli suatu produk/jasa. Setidaknya ada 31 alasan ditulisan saya waktu itu. Semua peserta diskusi menjawab sesuai bisnisnya masing-masing. Semua menjawab walau dengan ragu-ragu. Termasuk saya yang nampak masih ragu-ragu menentukan dari 3 kategori tadi. Ehmm, produk-produk ecokiddy dibeli orang karena apa ya??? tanya saya dalam hati. karena produknya, jawab saya dengan pasrah.

Karena terlihat masih banyak yang ragu-ragu, teman yang bertanya tadi memberi contoh dari masing-masing kategori diatas.

Karena Produknya.
Ada sepasangan penganten baru yang datang ke toko peralatan rumah tangga untuk membeli sebuah kompor untuk mengisi rumah kontrakannya. Ia tidak peduli mereknya ataupun harganya, yang penting ia harus beli kompor sebagai salah satu alat yang harus ada tuk keperluan dapurnya.
Seperti halnya ada seorang ibu yang akan membelikan anaknya sepasang sepatu baru. Saat dipasar, ia pasti akan menuju toko sepatu/sandal tuk membeli sepatu yang ia cari. Tak peduli apa nama toko sepatunya, yang penting bukan ke toko bahan/kain atau lapak sayuran khan. Karena ia tau apa produk yang akan dibelinya. Iya, ia akan membeli sepatu.

Karena Merek/Perusahaannya.
Saat disebuah warung, ada seorang yang haus dan ingin membeli minum. Diwarung tersebut ada beberapa merek air mineral. Mulai yang internasional, nasional, hingga merek lokal daerah. Namun dengan cepatnya ia memilih yang mereknya AQ** dibanding beberapa merek lainnya.
Lain lagi saat disebuah pameran otomotif, terlihat beberapa SPG motor China yang nampak bersusah payah menawarkan dan menjelaskan kelebihan dari produk tersebut. Berbeda saat di stand motor Jepang seperti HON** atau YAMA**, sang SPG tampak lebih santai menjelaskan kepada calon konsumen karena sebagian besar konsumen sudah kenal seperti apa sih perusahaan pembuat motor tersebut.

Karena Personal Brandingnya.
Ada seorang yang membeli suatu produk karena ia tahu dan respect kepada owner atau CEOnya. Seperti Aa Gym dengan produk-produk MQnya.
Lain lagi dengan seorang yang membeli makanan dipinggir jalan karena melihat penjualnya. Ia sangat kasihan atau simpatik kepada penjual yang merupakan seorang kakek yang sudah tua.

So, sudah tahukah kenapa selama ini orang-orang (konsumen) membeli produk yang kita punya? Kalau sudah tau, ayo kita pastikan kita kuat dalam kategori tadi. Entah kita kuatkan kualitas produknya. Atau kuatkan pada merek yang semakin dikenal banyak orang. Atau kuatkan dari sisi personal brandingnya.

*Yusuf Erlangga

Selasa, 12 April 2011

Aneka Alasan Membeli Sesuatu


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas dari sebuah kegiatan yang namanya "membeli". Iya, membeli barang ataupun jasa. Nahh, dalam kegiatan itulah seseorang pasti memiliki aneka alasan sebelum memutuskan tuk membeli sesuatu.

Mengapa ia membeli produk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memilih merk ini, bukan yang itu?
Mengapa ia memesan di toko ini, bukan yang disitu?
dan lain-lain aneka alasannya. Nahh, berikut ini beberapa aneka alasannya:

1. Karena harganya lebih murah.
2. Karena tokonya dekat.
3. Karena suka sama iklannya yang ada di radio/tv.
4. Karena pelayanan dari penjualnya sangat ramah.
5. Karena lagi trend (alias ikut-ikutan).
6. Karena ada hadiah/bonusnya.
7. Karena sudah suka/fanatik dengan merk-nya.
8. Karena kenal dengan penjualnya.
9. Karena tempatnya nyaman dan asyik.
10. Karena banyak pilihannya.
11. Karena ada jaminan/garansinya.
12. Karena kasihan/iba dengan penjualnya.
13. Karena punya kartu diskon/voucher gratisnya.
14. Karena terpaksa. Gak ada penjual/merk lain.
15. Karena bisa kredit/nyicil.
16. Karena ada program pesan-antar (delivery service).
17. Karena ongkos kirim/pasang-nya gratis.
18. Karena ada program undian berhadiahnya (ngumpulin kupon/ poin /dll).
19. Karena proses pelayanannya cepat.
20. Karena hasil pekerjaannya bagus dan rapi.
21. Karena bahan baku produksinya menggunakan kualitas yang baik.
22. Karena bahan bakunya lebih sehat.
23. Karena mendukung program Cinta Produk Dalam Negeri.
24. Karena produknya unik alias tidak pasaran.
25. Karena produk tersebut merupakan produk limited edition.
26. Karena ingin membantu si penjualnya.
27. Karena terpaksa agar dapat uang recehan dari kembaliannya.
28. Karena barang sejenis yang dimiliki sudah rusak.
29. Karena ingin menyenangkan orang lain, diberikan sebagai hadiah.
30. Karena agar eksis. Gaya dilihat orang lain.
31. Karena bisa ikutan mendukung program Go Green.

Selain aneka alasan seseorang saat "membeli" diatas, tentunya masih banyak lagi alasannya yang setiap orang tentunya berbeda-beda.

Jika alasan membelinya saja banyak sekali, berarti banyak juga dong alasan kenapa orang bisa sukses dengan berjualan atau berwirausaha. Ayo mari kita berwirausaha, Insya Allah yang membutuhkan barang atau jasa yang kita jual pasti ada deghh. Dan saat sudah berwirausaha, tentukan beberapa point dari daftar diatas; bagian point mana saja para konsumen akan membeli barang atau jasa kita? Kuatkan dipoint tersebut, maka Insya Allah jalannya usaha kita akan sukses.

Masih mau jadi pembeli saja? Saatnya jadi penjual dong... ^_^

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 06 Februari 2010

Presepsi Keliru tentang Usaha Rumah Makan


Alhamdulillah, awal Febuari 2010 ini berkesempatan menyibukan diri ngurusin salah satu usaha keluarga kami, yaitu Warung Soto Pak Sholeh. Bertepatan lewatnya trisemester pertama di tahun kedua, kami harus pindahan warung lagi, maklum kios masih sewa sihh jadi harus siap pindah-pindah dehh... Baru berjalan setahun lebih, ternyata makin terasa nihh kalo usaha itu ternyata berat juga yahh tak terkecuali usaha di bidang warung makan seperti kami.

Sedang sibuk-sibuknya memutar otak tuk mempertahankan & memajukan usaha ini, saya dapat inspirasi semangat dari pak Wahyu Saidi dlm sebuah catatan di account Facebooknya. Kebetulan catatan tersebut ia kutip dari buku yang berjudul "Kiat Sukses Mengelola dan Mengembangkan Bisnis Restoran" yg ia tulis sendiri. Tau Wahyu Saidi khan? Itu tuhhh, ownernya Bakmi Langgara & Bakmi Tebet, serta beberapa restoran lainnya yang aktif juga ngisi seminar2 & pelatihan tentang entrepreneur.

Nah ini dia nihh, kutipan dari tulisan tersebut. Bagi saya sihh berguna banget, semoga bermanfaat juga tuk yang lainnya ya... Iya kan pak Wahyu?

“Ketika saya pensiun saya akan hidup dengan santai, sambil berbisnis restoran. Saya kan punya kemampuan membuat nasi goreng yang nikmat. Banyak teman memuji saya”.
Ini adalah ungkapan yang sangat keliru! Bisnis restoran bukan bisnis santai, bukan bisnis buat para pensiunan. Bisnis restoran membutuhkan curahan tenaga, pikiran dan waktu yang penuh. Pensiunan yang mau santai, jangan harap bisa mendapatkannya dengan berbisnis restoran. Mungkin bagi pensiunan yang masih punya kekuatan dan semangat tinggi, bisa melakukannya.

Memang banyak orang menganggap bisnis restoran sebagai bisnis yang gampang. Bahkan dikira lebih gampang dibanding membuka tempat cuci motor. Anggapan keliru yang menghasilkan banyak kegagalan. Anda pasti sudah melihat betapa banyaknya restoran yang tutup sebelum menikmati masa-masa keuntungan. Mereka tutup karena menganggap bisnis restoran sebagai bisnis gampangan.

Bisnis restoran bukan sekedar menjajakan masakan yang nikmat. Bisnis ini melibatkan proses yang kompleks mulai dari rasa makanan, suasana, layanan, proses produksi, kontrol harga, penanganan keluar masuk barang, dan banyak hal lainnya yang membutuhkan perhatian khusus. Manajemen yang baik dituntut untuk diterapkan dalam bisnis ini. Bahkan manajemen modern paling baru, harus pula dijalankan menghadapi persaingan bisnis restoran yang sangat ketat.

Sejumlah alasan keliru untuk membuka bisnis restoran:
1. Punya resep makanan yang lezat.
2. Ditantang investor untuk bikin restoran
3. Punya hobi makan masakan enak bersama teman
4. Punya cara penyajian unik yang belum pernah dijalankan restoran manapun
5. Menawarkan harga makanan dan minuman yang lebih murah
6. Punya banyak teman yang bisa mendukung restoran
7. Ada teman yang kemampuannya biasa saja berhasil bisnis restoran. Kenapa saya tidak?
8. dll

Bila salah satunya menjadi alasan membuka bisnis restoran, lupakan untuk berhasil. Anda pasti akan mengalami kegagalan, karena hanya mengandalkan alasan-alasan tersebut. Sekali lagi perlu diingat, bisnis restoran tidak hanya melulu soal menu masakan yang super lezat!

*Yusuf Erlangga
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template