Tampilkan postingan dengan label rumah sakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah sakit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

Sibaby, Ventilator dan Sinar Ultra Violet #4

Sambungan dari kisah sebelumnya
#3 Sibaby dan Ruang NICU

Setelah 3 hari dirawat pasca persalinan, Alhamdulillah pada siang itu (22/09) sang bunda sudah diizinkan untuk pulang dari RSIA Anna Bekasi. Ada persaan sedih saat itu, karena bayi yang telah dinanti selama 9 bulan lebih dikandungan tidak dapat ikut serta siang itu. Untuk mengurangi rasa sedih itu, saya mengajak sang bunda menuju RS Hermina Bekasi tuk menemui sibaby yang sehari sebelumnya telah dialih rawat ke ruang NICU rumah sakit itu.

Alih-alih agar senang, justru diruang NICU itu saya melihat sang bunda yang semakin sedih karena melihat kondisi sibaby secara jelas didepan matanya. Sibaby yang ada didalam inkubator itu harus menerima suntikan infus sebagai pengganti makannya (saat itu masih puasa) dan dimulutnya terdapat selang yang terhubung dengan ventilator (mesin bantu pernapasan). Ohya, saat itu adalah tuk pertama kalinya sang bunda dapat melihat dengan jelas sibaby dari dekat.

Perawatan khusus terus dijalankan, sibaby pernapasannya full menggunakan mesin. Kondisi belum membaik, justru pada pagi keesokan harinya (23/09) didapati kadar bilirubinnya diatas normal, yaitu 19 (kalo gak salah normalnya sekitar 12,5). Alhasil harus dilakukan penyinaran. Bahkan setelah seharian mendapatkan penyinaran, justru pada keesokan harinya (24/09) kadar bilirubinnya malah meningkat menjadi 20,4. Wahhh, bahaya itu kata sang perawat. Karena jika sudah melebihi angka 21 biasanya harus ada darah sibaby yang harus dikeluarkan (tranfusi tukar darah). Sehingga diputuskan untuk melakukan penyinaran double.

Pada hari itu Alhamdulillah pernapasan sibaby sudah ada kemajuan. Walau masih harus menggunakan ventilator, namun sang dokter sudah mencoba beberapa kali tuk melepas mesin itu. Jadi saat itu pernapasannya setengah dibantu dengan mesin, setengahnya lagi alami (walau masih ditambah dengan selang oksigen dihidungnya). Sang dokter menyatakan bahwa sibaby dasarnya memiliki "fisik" yang kuat, sehingga perkembangannya cukup membahagiakan. Terbukti, saat di inkubator tersebut, sibaby sering kali atau bahkan banyak bergerak. Agar tidak mengganggu alat-alat yang menempel ditubuhnya (infus, ventilator, dll), terpaksa tangan dan kaki sibaby harus diikat tuk mengurangi pergerakan.

*Yusuf Erlangga

Sabtu, 09 Oktober 2010

Sibaby dan Ruang NICU #3

Sambungan dari kisah sebelumnya
#2 Kelahiran Sibaby dan Ruang Perina

Setelah 2 x 24 jam kondisi tidak membaik, dokter yang menangani anak kami (dr Ngakan Putu) menyarankan untuk konsul ke salah satu dokter ahli perinatologi, yaitu yang ahli menangani anak-anak berumur dibawah 1 bulan. Akhirnya pada Selasa siang (21/09) sibaby jalan-jalan menggunakan ambulan menemui dr Idham Amir (dokter sub spesialis) yang ada di RS Hermina Bekasi. Saat konsul tersebut, sang dokter menyatakan kondisi sibaby cukup sangat tidak baik alias "berat". Sesak napasnya cukup berat. Setelah mengisi jawaban rujukan dengan mengisi kondisi sibaby terkini beserta saran-saran tindakan, akhirnya kami (saya dan sibaby) kembali lagi ke RS Anna Bekasi. Menunggu beberapa jam, ternyata kondisi sibaby juga belum membaik. Sekitar jam 7 malam itu, sibaby diputuskan oleh dr Ngakan Putu (dokter yang di RS Anna Bekasi) untuk dilakukan alih rawat ke RS Hermina Bekasi dan agar ditangani langsung oleh dr Idham Amir tadi.

Sesampai di RS Hermina Bekasi malam itu, sibaby langsung mendapat penanganan awal di ruang IGD. Setelah sejam lebih di ruang IGD itu, kondisi sibaby semakin mengkhawatirkan, sehingga harus dilanjutkan untuk masuk ke ruang NICU (ruang perawatan khusus, levelnya diatas ruang perina karena lebih lengkap peralatannya). Sekali lagi alhamdulillah saya masih bisa terus mengikuti perkembangannya dengan melihat langsung proses penanganannya baik saat di IGD maupun saat di NICU.
huhfhhhh, sedih niyyy kalo mengingat saat-saat proses penanganannya... :((

Karena kondisinya semakin kurang baik, akhirnya malam itu sibaby diputuskan untuk menggunakan ventilator (alat bantu pernapasan). Setelah sebelumnya hanya menggunakan selang oksigen. Jadi saat itu napasnya full dibantu oleh "mesin", sekali lagi saya melihat proses pemakaian alat tersebut yang dilakukan oleh 5 orang perawat. huhhfff, jd sedih lagi niyyy mengingatnya :((

Wowww, harus diruang NICU yahh? Kenapa gak diruang Perina aja ya? Bedanya apa sihh???
Intinya sihhh hampir sama, yaitu dimana ruang tersebut adalah tempat dimana bayi-bayi yang berusia sampai dengan 1 bulan perlu mendapat perawatan khusus. Ruang NICU yang artinya Neonatal Intensive Care Unit atau yang sering disebut juga dengan ICU-nya untuk bayi memiliki alat-alat yang lebih lengkap. Selain itu, diruangan ini perawat yang jaga disana selalu standby dengan selalu mengisi status perkembangan sibaby yang perlu diisi setiap beberapa menit sekali (tergantung kasusnya). Dan perlu diketahui, ternyata tidak semua Rumah Sakit memiliki ruangan ini bahkan pada Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) sekaligus.

*Yusuf Erlangga

Jumat, 08 Oktober 2010

Kelahiran Sibaby dan Ruang Perina #2

Lanjutan dari kisah sebelumnya
#1 Persalinan Bunda dan CTG

Setelah menunggu hampir 15 jam di RS, "pembukaan sepuluh" akhirnya datang juga. Proses persalinan siap dimulai. Dengan waktu 1 jam lebih, Alhamdulillah jam 22:12 seorang bayi laki-laki lahir kedunia. Proses kelahirannya normal spontan (tanpa alat bantu vakum/dll, apalagi operasi cesar). Alhamdulillah saya berkesempatan "nonton" proses persalinan tersebut. Sesaat dilahirkan tersebut, ternyata kondisi sibaby kurang baik (setelah dicek langsung oleh dokter anak yang standby di ruang persalinan). Sibaby tidak langsung menangis, ternyata sibaby agak banyak menghirup air ketuban. Dan yang jadi agak sedikit masalahnya air ketuban tersebut sudah berwarna agak hijau. Secara fisik, dari luar juga terlihat napasnya agak berat (terlihat gerakan didadanya yang seperti sesak napas).

Pertolongan pertama langsung dilakukan. Dilakukan penyedotan menggunakan selang melalui hidung dan mulut (klo gak salah yang saya liat), sibaby dibolak-balik, ditepok-tepok, digosok-gosok, dll (maap kalo agak lebay, tapi itulah pertolongan pertama). Setelah dilakukan bersih-bersih dan cek fisik diruang persalinan itu, akhirnya sibaby selanjutnya harus di rawat diruang perina (ruang perawatan khsusus), kalo normal biasanya hanya dibawa ke ruang perawatan bayi biasa.

Karena kondisi belum membaik (nafasnya masih agak berat), pada pagi harinya (20/09) dilakukanlah cek lab dan rotgen. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan adanya cairan yang cukup banyak di sekitar paru-paru sibaby. Hal itulah yang menyebabkan napas sibaby menjadi agak berat. Perawatan di ruang perina dilanjutkan. Sibaby diharuskan puasa (karena jika minum ASI, ditakutkan akan mengganggu pernapasannya, bisa keselek, dan justru "berbahaya" baginya). Makannya lewat infus, hidungnya pake selang oksigen, dll. hikhikksss, sedih melihatnya... :((

Selama itulah sang baby mendapat perawatan khusus di ruang Perina. Apa sih ruang Perina itu???
Ruang Perina atau yang juga sering disebut dengan ruang Perinatologi adalah sebuah unit pelayanan khusus bagi bayi-bayi baru lahir yang mempunyai masalah atau sakit sampai usia satu bulan. Seperti telah diketahui bersama, bahwa keadaan bayi baru lahir itu dipengaruhi oleh banyak hal, yaitu sejak didalam kandungan bundanya, selama proses persalinan, ataupun setelah kelahiran. Beberapa masalah bisa terjadi pada bayi baru lahir, sehingga memerlukan penanganan dan perawatan khusus agar bayi dapat diselamatkan dan mempunyai kualitas hidup yang baik dikemudian harinya.

Lalu, kasus apa saja yang biasa ditangani di ruang Perina itu?
Yaitu bayi baru lahir dengan risiko tinggi, misalnya bayi dengan gawat napas, lahir prematur, berat lahir amat sangat rendah, infeksi berat, kelainan bawaan (jantung, dll), termasuk yang memerlukan tindakan pembedahan. Karena kondisi seperti itulah, sehingga di ruang perina memiliki alat-alat yang lebih lengkap dari pada ruang perawatan bayi normal.

*Yusuf Erlangga

Persalinan Bunda dan CTG #1

Setelah ditunggu-tunggu, alhamdulillah istriku mulai mules-mules tanda kontraksi menuju persalinan di Sabtu malam (18/09). Dan sebenarnya, pada sore itu sudah tampak ada tanda-tanda flek. Hari Ahad pagi kami meluncur ke RSIA Anna Bekasi tempat selama ini kami kontrol kehamilan serta rencana kami untuk proses persalinan. Sekitar jam 7 pagi dilakukan proses observasi untuk mengecek kondisi sang bunda dan si baby yang ada diperutnya. Melalui alat CTG, ternyata mules-mules (kontraksi)nya sudah bagus (salah satu tandanya yaitu dalam interval 10 menit ada mules 3 kali). Masih melalui alat tersebut diketahui kondisi bayi ada yang kurang normal (gak tau persis apanya, kemungkinan sihh denyut jantungnya), sehingga sang bunda selama menunggu persalinan menggunakan oksigen tambahan dengan harapan berpengaruh bagi sibaby. Ohya, pada observasi awal ini ternyata sang bunda sudah masuk "pembukaan dua". Setelah itulah sang dokter menyatakan bahwa sang bunda siap untuk bersalin hari itu juga, dan saya langsung diarahkan tuk melakukan pendaftaran administrasi di Rumah Sakit itu.

Beberapa jam kemudian, dilakukan observasi kedua masih menggunakan alat CTG. Dan pada kali itu sudah ada sedikit kemajuan, namun blom begitu sempurna (normal). Alhasil, sang bunda mendapatkan oksigen tambahan lagi sampai pembukaannya sempurna. Setelah beberapa jam menggunakan oksigen tambahan pasca observasi yang kedua itu, dilakukan cek CTG lagi. Alhamdulillah, kondisi janin maupun kontraksi sang bunda sudah baik.

Wowww, berarti dilakukan obsevasi menggunakan alat CTG hingga tiga kali tuhh. Emang CTG itu apa yahhh??? Setelah tanya sana sini dan searching sana sini, akhirnya saya jadi tau apa itu CTG nihhh.
CTG yang berarti CARDIOTOCOGRAPHY adalah suatu alat untuk mengetahui kesejahteraan janin di dalam rahim yaitu dengan cara merekam pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan gerakan janin atau kontraksi rahim. Cara penggunaan alat CTG yaitu dengan cara menempelkan dua komponen alat pada perut bunda. Komponen yang satu untuk mendeteksi denyut jantung janin, dan yang satu lagi untuk mendeteksi kontraksi bunda. Alat ini ditempelkan dibagian perut bunda selama kurang lebih 10-15 menit. Lebih lengkapnya bisa di cek di wikipedia yahhh.

*Yusuf Erlangga

Jumat, 05 Februari 2010

Sehat Itu Mahal

Sebagian besar masyarakat berkata: "sehat itu mahal"

Rasulullah SAW bersabda: "Kondisi sehat dan kesempatan luang adalah dua nikmat yang Allah SWT berikan kepada manusia, namun sering mereka lupakan."

Hal tersebut benar2 saya rasakan ketika disuatu siang di sebuah RS Swasta di Bekasi. Betapa tak miris, sejak awal mendaftar tuk menuju dokter/poli kita sudah disodori sebuah rincian biaya pengobatan untuk segera dibayar. Selesai konsul dng dokter, kita diarahkan tuk mengantri ke bagian farmasi (apotek). Saat nomor antrian dipanggil, kita harus menuju kasir yang sudah siap menyodorkan rincian biaya obat. Setelah dibayar, kita baru bisa mendapatkan kwitansi sebagai bukti pengambilan obat.

Saat sedang proses di kasir apotek itulah saya benar2 merasakan nikmat sehat, ternyata sehat itu emang tak murah. Secara tak sengaja saya memperhatikan seseorang yang sedang bingung sambil mengecek uangnya didompet saat dikasir setelah mendengar ia harus membayar biaya obat sekitar 300ribuan. Melihat gelagat bingung sang pasien, petugas kasir dng hati2 & ramah berkata: Ohh bapak mau ambil resepnya dulu ya? Baik, saya siapkan ya pak.

Sedih & syukur yang saya rasakan saat itu. Sedih karena mahalnya biaya di RS dan tak semua orang mampu membayarnya. Alhamdulillah saya ucapkan rasa syukur, walau saya sedang diuji dengan sakit namun masih diberi keluangan mengenai biaya pengobatan. Hal tersebut saya rasakan karena saya diikutsertakan dalam program jaminan kesehatan (asuransi) oleh perusahaan tempat saya bekerja.

*Yusuf
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template