Selasa, 10 Juli 2012

Sehat Ceria bersama TDA Bekasi



Ahad 8 Juli 2012, sekitar 35 keluarga berkumpul di pendopo Walikota Bekasi. Ya, mereka berkumpul pagi itu dalam rangka mengikuti acara jalan sehat "Bisnis Jalan, Pengusaha Jalan-Jalan". Acara yg dimotori oleh komunitas TDA Bekasi ini ternyata tak hanya dihadiri oleh membernya saja, namun juga dihadiri oleh beberapa member Bloger Bekasi (BeBlog) dan anak-anak sekolah (SMK). Tak tanggung-tanggung, ketua BeBlog kebagian tugas sebagai eMCe acara, dan aku bangga bisa menjadi eMCe pendampingnya.

Sekitar 90 peserta yang hadir berkumpul melingkar tuk pemanasan. Tak hanya orang dewasa saja yang serius ikut pemanasan, tapi anak-anakpun ikutan juga. Ya, karena acara hari itu bukan hanya diperuntukan tuk membernya saja, namun pasangan (istri/suami) serta anak-anak diikut sertakan. Acara yang diselenggarakan dari member untuk member ini diharapkan dapat mengeratkan tali silaturahim antar member. Tak ada yang merasa senior, semua sama berbaur. Bang Aji yang merupakan salah satu member baru di TDA Bekasi-pun tak segan-segan saat aku "tembak" tuk memimpin senam saat itu.

Jalan sehat melintasai jalan Ahmad Yani kota Bekasi dijalani oleh semua peserta. Rombongan membawa spanduk, yang berisi tentang kalimat-kalimat yang bertemakan tentang kewirausahaan. Tak ayal, warga di jalur Car Free Day itu ikut senyam-senyum saat membaca kata-kata pada spanduk yang dibawa rombongan ini. Diantaranya...
"Gelar Sarjana Penting, Gelar DAGANGAN Jauh Lebih Penting"
"Dagang Mulia, Hidup Taqwa, Muda Kaya, Tua Bahagia, Mati Masuk SURGA"
"Hari Boleh Libur, Semangat Jangan Kendur, Agar Usaha Terukur, Rajin-Rajin BERSYUKUR".

Setelah melewati perjalanan sekitar 2,5 km, rombonganpun tiba kembali di Pendopo. Disini seluruh peserta istirahat sambil menyantap sarapan yang sudah disediakan panitia. Sambil sarapan, pak Eko SHP sebagai eMCe memeriahkan suasana dengan mulai membagikan beberapa hadiah/doorprize. Tercatat ada 23 hadiah yang disiapkan baik tuk orang tua, maupun para anak-anak yang hadir.

Acara dilanjutkan oleh sambutan pak Barra sebagai Ketua TDA Bekasi. Disini pak Barra mengajak seluruh member tuk tak segan-segan aktif dalam kegiatan TDA. Karena TDA itu hadir dari member tuk member. Walau merasa member baru, gak usah sungkan tuk ikut aktif dalam kepanitiaan acara. Ya, karena ini bagian dari regenerasi.

Pak Badroni Yuzirman sebagai founder komunitas TDA ikut hadir di acara itu. Beliau bercerita awal mulanya berdiri TDA pada 2006 lalu. Saat itu, dihadirkan pula pak Hantiar sebagai salah satu saksi hidup saat itu. Ya, beliau merupakan salah satu member TDA yang berkesempatan mendapat sewa tempat gratis di Mangga Dua tuk berdagang yang diberikan oleh pak Haji Alay (penasehat TDA) saat awal berdirinya TDA 2006 lalu. Banyak kisah lucu & inspiratif dari kisah naik-turunnya usaha pak Roni & pak Hantiar tadi. Hal ini sangat menginspiratif bagi peserta yang hadir, karena sebagian besar peserta yang hadir adalah orang-orang yang baru mendengar kisah itu. Yaitu para member baru TDA, para member BeBlog, serta keluarga (istri/suami) yang turut hadir.

Anak-anak yang hadir, turut larut gembira. Ya, karena mereka menanti tuk mendapat hadiah. Pak Eko SHP sempat berbisik padaku, hadiahnya beri saja kepada anak-anak yang mau maju tuk dapat hadiah. Yang berani maju, beri aja hadiahnya. Eng ing engg, wowww ternyata diluar dugaan kita. Semua anak-anak maju kedepan. Alhasil giliran kita yang bingung, anak-anak yang maju ada sekitar 20an, sedangkan hadiahnya hanya ada 10, hehee. Ternyata anak-anak member TDA inisiatifnya tinggi dan berani tampil semua lhoo... Siapa dulu bapak-ibunya... :p
Alhamdulillah, kak Beky sebagai pembina TDA Kampus yang jauh-jauh datang dari Depok ke Bekasi dengan sangat terampil mengajak anak-anak bermain & belajar. Sehingga anak-anak pada saat itu gembira dan mendapat ilmu.

Setelah hadiah telah dibagiakan semua, para peserta berklumpul bersama tuk foto serta dilanjutkan bersalaman sebelum bubar pulang. Alhamdulillah, sehatnya dapat, ilmunya dapat, silaturahim/networkingnya dapat, anak-anakpun ikut gembira. Sampai jumpa diacara berikutnya... ^-^

Nb. foto bersama pak Eko SHP (http://eshape.wordpress.com)

*Yusuf Erlangga








Sabtu, 23 Juni 2012

Jika Meninggal, Akan Dikenang Sebagai Apa ya?




Poin pertama, dari 5(lima) step to growing business yang diajarkan oleh pak Teguh di workshop "How To Grow Your Business" adalah FONDATION.

Hal ini cukup mendasar dan terkesan sangat sederhana. Tapi hal ini ternyata pondasi yang cukup penting agar bisnis kita dapat terus GROW. Masih dalam bagian FONDATION, para peserta workshop harus mengisi di workbook masing-masing mengenai apa sajakah yang kita inginkan jika kita meninggal dunia kelak.

"Start from the end of your life". Ya, maksudnya adalah saat kita meninggal nanti kita ingin dikenal sebagai orang yang seperti apa? Baik secara fisik, keluarga, sosial, karir/bisnis, spiritual, intelektual, dan emosi.

Saat workshop tersebut diadakan di Bekasi hari Sabtu lalu (16/06/2012), didapat berbagai "keinginan" dari beberapa peserta bila ia meninggal dunia kelak. Diantaranya:
1. Secara Fisik
Ingin dikenang sebagai orang yang sehat & atletis,
2. Secara Keluarga
Ingin dikenang sebagai orang yang sayang thd istri & anak2,
3. Secara Sosial
Ingin dikenang sebagai orang yang aktif bantu-bantu dikegiatan sosial,
4. Secara Karir/Bisnis
Ingin dikenang sebagai pengusaha sukses yang punya banyak teman,
5. Secara Spiritual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin silaturahim,
6. Secara Intelektual
Ingin dikenang sebagai orang yang rajin berbagi & menuntut ilmu,
7. Secara Emosi
Ingin dikenang sebagai orang yang sabar dan senang bergaul,

Wowww, workshop mau ngebangun bisnis koq harus mengisi jawaban seperti itu yahh. Ya, ingat hal tersebut adalah sebuah pondasi yang merupakan landasan sehingga bisnis kita dapat terus tumbuh.

So, ingin dikenang sebagai apakah jika kita kelak meninggal dunia?

*Yusuf Erlangga

Selasa, 12 Juni 2012

Pengalaman Menyebar Brosur



Pagi itu kami mengagendakan tuk ngelapak lagi. TMII Jakarta masih menjadi pilihan, namun kali ini kami ngelapak bersama karyawan. Karena sebelumnya kami ngelapak tanpa bersama karyawan yang membantu (baca: tulisan yg lalu). Dan pada kesempatan kali ini saya bertugas khusus sebagai penyebar brosur. Hahhh, sebar brosur aja sampe ada petugas khusus? Hehee, ya karena brosur yang disebar tersebut tidak diberikan kepada pengunjung yang lewat didepan lapak kami, tapi sayalah yang muter-muter keliling disekitar keramaian orang di pasar kaget minggu ria TMII.

Dari kegiatan muter-muter nyebar brosur tersebut, ada beberapa pengalaman yang menarik dan dijadikan pelajaran bagi kami. Berikut ini beberapa catatan tersebut:

1. Demi irit pengeluaran biaya produksi brosur, penyebaran brosur haruslah sesuai target market. Itu sihh kata para praktisi bisnis lhooo. Dan pagi itu saya praktekan dengan menyerahkan brosur hanya kepada orang-orang yang sedang membawa anak balita atau ibu-ibu yang sedang hamil. Ya, sesuai target market ecokiddy produk kami.
2. Berdasarkan pengalaman saat itu, ternyata gak semua orang mau menerima brosur yang kita berikan lhooo. Salah satu catatan saya saat itu, kenapa ada orang yang menolak diberi brosur? Orang menolak karena saat kita beri ia sedang "sibuk". Lagi enak-enak makan / milih-milih barang dagangan, kita kagetkan dengan memberi brosur. Gak salahlah kalo ia menolak. Jadi saat memberi brosur, jangan mengganggu atau mengagetkan yahhh.

3. Panggilan sapaan juga sangat berpengaruh terhadap penerimaan orang yang diberi brosur. Jangan segan mengucapkan salam yang sopan & hangat (tapi jangan lebay yahhh, hehee). Dan jangan segan mengucapkan "maaf" saat kita memberi brosur, ya karena bisa aja kehadiran kita mengganggu mereka.
4. Ngomong-ngomong tentang sapaan yang tadi, pada saat penyebaran brosur itu terkadang saya menyapa dengan sapaan pak-bu, terkadang juga dengan sebutan ayah-bunda. Entah kenapa dengan sebutan Ayah atau Bunda, sebagian besarnya terlihat lebih "terbuka" saat aku beri brosur. Hal ini mengapa? Nahhh, aku juga blom tau kenapa nihhh? ;)

5. Karena posisi penyebaran brosur tak dekat dari lapak, hal ini terasa kurang efektif karena orang yang menerima brosur akan bingung harus kemana ia pergi jika tertarik dengan produk yang kita tawarkan. Untuk jaka pendek dengan tujuan adanya transaksi saat itu juga, ini emang tidak baik. Tapi tuk tujuan jangka panjang alias nge-branding produk, hal ini gak masalah sihhh.
6. Tuk mensiasati kebingungan atau rasa penasaran si penerima brosur, harusnya saat keliling-keliling nyebarin brosur sekalian bawa contoh produk. Bahkan tuk produk tertentu bisa sekalian kasih tester gratis.

7. Dan yang cukup penting juga menurut para mentor & praktisi bisnis, idealnya setiap brosur yang kita buat & sebarkan itu harus tercatat dan terukur. Wahhh, kalo udah ngomongin ini emang perlu & penting nihhh. Gimana caranya? Rada panjang nihh, kita obrolin lain waktu yahhh... ;)

Nahhh, pengalaman nyebar brosurnya sudah dicatat. Tinggal action tuk nyebar-nyebar lagi nihh... ;)

*Yusuf Erlangga

Jumat, 01 Juni 2012

Alasan Hadir di Sebuah Pelatihan




Dalam sebuah diskusi, diketahui bahwa setiap orang yang mengikuti sebuah pelatihan/training/workshop/seminar/dll ternyata memiliki tujuan yang berbeda-beda. Ya, acaranya sama tapi tujuan orang yang hadir disitu bisa berbeda-beda.

Ada yang ikut karena niatnya biar dapet ilmu.
Ada yang datang dengan tujuan biar dapet pengalaman bisa ketemu langsung pembicaranya.
Ada yang hadir karena biar bisa memperluas jaringan/networking.
Ada yang sengaja niatnya biar ketemu calon klien atau ketemu bakal calon istrinya (sama-samaa sebagai peserta). :p
Ada yang ikut karena disuruh boss/atasan di perusahaannya.
Ada yang sengaja ikut karena ingin dapet sertifikat acaranya.
Ada yang datang berharap bisa masuk TV, karena tau ada media yang meliput.
Atau ada yang datang karena ikut-ikutan temennya.

Apapun tujuan ataupun alasannya, yang pasti kita berharap dengan kehadiran kita di acara tersebut benar-benar bermanfaat bagi kita yang hadir. Syukur-syukur manfaatnya bisa disebarluaskan kepada teman-teman yang lain dengan kita berbgi ilmu/pengalaman setelah mengikuti acara tersebut.

Jadi, alasan atau tujuan yang mana dong yang paling bagus saat kita ikut pelatihan seperti itu?
Apapun pilihan alasannya, syah-syah aja koq. Syukur-syukur kita punya tujuannya tidak hanya satu. Contohnya bertujuan biar dapat ilmu sekaligus nyari kenalan baru. Atau tujuannya biar dapat pengalaman, sekaligus kali-kali aja bisa masuk TV. Hehehee, jadi kalo alesan pertama tidak tercapai. Kann jadinya gak begitu kecewa tohhh, karena ada alasan yang kedua... ;)

Ok, selamat hadir di sebuah pelatihan ya rekan-rekan... ^_^

*Yusuf Erlangga

Rabu, 30 Mei 2012

Belajar Memohon/Berdo'a Dari Pak Roni




"Saksikan Liputan 6 Awards LIVE nanti malam jam 21.30 dari Balai Sarbini. Mohon doanya semoga kiprah TDA mendapat apresiasi yg pantas oleh dewan juri"

Itulah info yang ditulis oleh pak Badroni Yuzirman yang saya baca di BB-Group yang saya ikuti. Sekilas membaca pesan tersebut, awalnya sihh biasa aja. Maklum, info yang dikrim oleh pak Roni (panggilan fuonder komunitas TDA) itu sudah pernah saya dengar sebelumnya dari rekan lain di twitter. Dan memang sudah mengagendakan tuk nonton acara award tersebut di TV malam itu. Setelah ditelaah kayaknya ada yang gak biasa nihhh, pikirku sesaat kemudian. Ya, dibagian do'anya ada yang menarik. Ya, setidaknya menarik bagi diriku lhooo... ;)

Beliau memohon do'a agar kiprah TDA mendapat "apresiasi yg pantas" oleh dewan juri. Wowww, biasanya kan orang-orang minta do'a agar menjadi yang terbaik atau justru agar jadi pemenangnya. Ya, pada umumnya bila masuk nominasi suatu kompetisi / perlombaan berharap jadi pemenang khann... Wuihhh, salut salutt saluttt...

Dan selanjutnya, ternyata pada Liputan 6 Award yang diumumkan secara live di SCTV hari Jum'at 25 Mei 2012 yang lalu, pak Roni dan komunitas TDA-nya blom menjadi yang terbaik dalam kategoti tersebut. Ya, dalam kategori pemberdayaan masyarakat yang terdapat lima (5) nominator termasuk pak Roni, pemenangnya adalah Bidan Eulis Rosmiati (Bidan yang mampu memperbaiki kesehatan secara menyeluruh dan perekonomian pendukung program kesehatan, khususnya didaerah Desa Ujung Genteng di pesisir Selatan Jawa Barat).

Walau tidak menjadi pemenang dalam award tersebut, sebagai salah satu bagian kecil komunitas TDA (sebagai member) saya merasa bangga. Terima kasih TDA!!! Terima kasih pak Roni!!!

*Yusuf Erlangga

Senin, 14 Mei 2012

Belajar Komunikasi dari Abang Ketoprak


Siang ini saat makan ketoprak dipinggir jalan, saya mendapat pelajaran yang berharga dari sang abang penjual ketropak tersebut. Bukan karena rasa ketoprak yang super enak, ataupun bukannya juga porsinya yang wahh banyaknya. Tidak dari produk yang dijual abang itu yang membuatku terngiang-ngiang hingga kini. Tapi, justru saat proses produksinyalah yang membuatku menjadi terbayang-bayang.

Wowww, proses pembuatannya ada apa ya yang menarik? Apa ada bahan baku yang gak biasa? Atau ada alat masaknya yang unik? Atau cara memasaknya yang aneh? Atau apa yahhh? Sebenernya sihh biasa aja. Yang menarik perhatianku adalah si abang penjual ketoprak tersebut tidak bisa diam mulutnya alias selalu mengoceh mengobrol. Bukan sesuatu yang negatiff sihhh. Tapi itu justru menunjukan bahwa ia sangat akrab dengan para pelanggannya.

Ada aja yang dibicarakan kepadaku maupun pelanggan-pelanggan lainnya. Dan mengobrolnya itu bukan kepada saat para pelanggannya sedang makan. Wahhh, kalo lagi enak-enak makan diajak ngobrol malah mengganggu tuhhh. Ia mengobrol dengan para pelangganya yang sedang menunggu masakan ketopraknya jadi. Ya, semua disapanya dengan ramah dan hangat.

Mulai menawarkan tempat duduk kepada pelanggannya yang baru datang. Sekedar menanyakan apa kabar dan darimana berasal. Bahkan sampai membicarakan hal-hal yang sedang ramai dibicarakan masyarakat. Seperti tadi iapun membicarakan tentang kejadian pesawat Sukoi yang jatuh di Gunung Salak baru-baru ini terjadi. Selalin membicarakan tema yang serius, tak jarang iapun mengeluarkan banyolan-banyolan ringan yang menghibur. Tak hanya menghibur orang yang sedang diajak bicara, akupun yang sedang makan namun mendengar merasa terhibur dengan banyolan-banyolannya.

Wowww, seorang pedagang ketoprak yang hanya bermodalkan sebuah gerobak dan beberapa kursi dipinggir jalan aja mempraktekan ilmu komunikasi dalam melayani pelanggannya. Hufhhh, jadi malu nihhh. Saya yang juga mempunyai usaha apakah juga bisa sehebat beliau dalam berkomunikasi dengan para pelangganku. Aghhh, bisnisku kan jarang bertemu langsung dengan pelanggan langsung. Hahaa, alesan aja nihh... ;) Maklum, ecokiddy sebagai produsen cloth diapers yang tidak menjual secara eceran ini memang sangat jarang sekali bertemu langsung dengan pembeli. Ya, para reseller produk kami kebanyakan bertransaksi secara online. Order via email atau sms, atau bbm, lalu transfer biaya, dan dilanjutkan pengiriman barang via paket.

Waduhhh, ternyata walau jarang berinteraksi secara langsung dengan pelanggan bukan berarti tak bisa akrab berkomunikasi dengan mereka lhoo. Bagaimana dengan anda dalam menjalankan bisnis anda masing-masing? Apakah dapat melakukan komunikasi seperti abang penjual ketoprak tadi? Semoga kita semua bisa yahhh. ^_^
Terima kasih atas inspirasinya ya abang ketoprak yang maaf gak sempat nanya siapa nama anda!!!

*Yusuf Erlangga

Minggu, 22 April 2012

Pengalaman Ngelapak Ecokiddy di TMII

Hari ini, 22 April 2012, satu kali lagi saya dan suami memperolah pengalaman baru sebagai wirausahawan. Telah sejak lama kami ingin merasakan sensasi menjadi "lapakers" sebutan yang biasa digunakan untuk wirausahawan yang menjual produknya di lapak-lapak ala kaki lima. Dengan modal peralatan seadanya mereka biasanya sudah dapat mengeruk laba dari penjualan produk masing-masing. Kali ini, sebagai pengalaman pertama, kami dengan sukses TIDAK merencanakannya dengan baik, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ... Baru kepikiran untuk ngelapak di Sabtu malam, Ahad paginya kami sudah nekad untuk ngelapak di TMII Jakarta. Sama sekali kami tidak mengerti bagaimana prosedur ngelapak di TMII, yang penting take action saja! Agar tidak nol sama sekali pengetahuan tentang bagaimana medan yang akan kami hadapi, saya sempatkan untuk browsing beberapa pengalaman yang telah lebih dulu ngelapak. Dengan persiapan yang serba mendadak, alhasil kami berdua baru sampai di pintu gerbang pembayaran tiket 15 menit sebelum jam 7. Lumayan masih dapet harga minggu ria, Rp 5.000/orang. Jika telat sedikit sudah terkena harga normal Rp 9.000/orang. Mobil Rp 10.000. Motor Rp 6.000. Sengaja saya catat lengkap biar bisa dimanfaatkan sebagai info tambahan bagi siapa aja yang mau melapak di TMII :) Kali ini kami berangkat hanya berdua, karyawan tidak diajak. Lumayan untuk uji mental dan penghematan, jadi biaya masuk TMII cuma terkena Rp 20.000,- saja. Info yang pernah kami dapat, jika mau ngelapak di TMII waktu subuh harusnya sudah di lokasi. Oleh karenanya tidak heran saat kami tiba dilokasi deretan lapak-lapak sudah terisi penuh. Aktifitas jual beli sudah terlihat disana-sini. Agak nyengir juga sih, membandingkan dengan kondisi kami yang baru saja tiba. Kurang lebih pukul setengah delapan pagi kami baru tuntas rapi sana sini, setelah sempat kebingungan juga mau ngelapak dimana, akhirnya diputuskan memilih persis di depan anjungan Papua. Dibanding area lain, wilayah ini termasuk yang tidak terlalu ramai pejalan kaki, tapi karena diwilayah ini masih ada space kosong, dan sbagian besar lapakers di wilayah ini membawa mobil sebagai bagian dari display, akhirnya kami putuskan kami akan ngelapak disini juga. Setelah beberapa saat saya baru sadar, ternyata setiap lapak sudah diberi tanda pembatas dan masing2 ada nomornya, yang dicat dijalanan di muka lapak masing-masing. Sementara area yang kami tempati tidak ada, wahh berarti kami pelapak liar ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ... Dan konyolnya lagi kami ngelapak persis di depan kantor pengurus bazar "minggu ria" TMII ini. ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ... Bener-bener deh memalukan secara intlektual, tapi untunglah secara bisnis dimana hukum rimba juga berlaku bahwa siapa cepat dia dapat, akhirnya para pengurus pun mengizinkan. Mungkin mereka ga tega mengusir kami yang sudah menata produk Ecokiddy. Dan kami pun membayar kontribusi yg sama persis dengan lapak-lapak lainnya, Rp 20.000/hari. Bazaar ini yang kami tahu boleh berjalan hanya sampai dengan pukul 10.30 saja. Walaupun pada kenyataannya banyak juga yang melebihi batas waktu. Kami sendiri memilih usai tepat waktu, karena memang target kami lebih ke sosialisasi popok kain modern ini ke masyarakat luas. Lumayan brosur & kartu nama yang kami bawa banyak tersebar, dan kami pun banyak mendapat kesempatan memperkenalkan produk kami beserta manfaatnya. Salah satu pendorong kami ngelapak hari ini adalah berkenaan dengan peringatan hari bumi internasional yang jatuh hari ini (22 April). Kami berharap, ini adalah langkah kecil kami untuk menjadi #sobatBUMI. Sampai saat ini kami tidak menjual eceran produk Ecokiddy dan tidak pula menjual secara offline, tapi untuk moment hari bumi ini kayaknya pas yahh untuk buat pengecualian... :) Kami start pukul 7.30 dan memilih tutup pukul 10.30, atau dengan kata lain 3 jam kami ngelapak. Alhamdulillah omset yang didapat sudah lebih dari target Rp 500.000,-. Kami sengaja tidak pasang target besar karena persiapan dan strategi yang super minim. Apalagi niatnya memang sosialisasi, dan biar eksis :) ... Lumayan bangetlah hanya bermodal stok barang yang sudah ada di workshop dan uang 40ribu saja sudah dapet untung berganda (laba dan sosialisasi). Semoga ke depan nantinya ada kesempatan untuk ngelapak lagi... Selamat hari bumi :) *Erlin Karlina
Photobucket
 

Followers

Wirausaha Keluarga Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template